[INDONESIA-NEWS] [Masariku] BERITA HARIAN UMUM SIWALIMA EDISI: SABTU, 30 DESEMBER 2000

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Sat Dec 30 2000 - 11:51:01 EST


BERITA HARIAN UMUM SIWALIMA
EDISI: SABTU, 30 DESEMBER 2000

DIKIRIM OLEH:
IZAAC TULALESSY
WARTAWAN HARIAN UMUM SIWALIMA

Keluarga Waileruny Terima Penghargaan Tumpas RMS
r Basudara Muslim Mendukung RMS
Ambon, Siwalima
Praktisi hukum Semy Waile-runy, SH mengakui
keikutsertaan dirinya dalam wadah Front Kedaulatan
Maluku (FKM) yang dihubung-hubungkan dengan RMS
(Republik Maluku Selatan) semata-mata hanya untuk
nasib anak bangsa Maluku, yang dite-lantarkan selama
kerusuhan.
"Kalau ada nada sumbang sa-ya perlu tegaskan bahwa
orang tua saya adalah penerima tanda jasa
pemberontakan RMS versi Indonesia. Jadi kenapa saya
ber-gabung dengan FKM tentu un-tuk mengungkapkan
kenyataan perjuangan kedaulatan RMS yang selama ini
ditutup-tutupi. Padahal ada beberapa penyebab, intinya
negara ini sudah tidak lagi berjalan dalam
aturan-aturan da-sar kenegaraannya," kata Wai-leruny
Tidak berjalannya Negara pada aturan-aturan
ketatanegaraan antara lain, pemberlakuan Syariat Islam
di Aceh, dan kemungkinan besar akan diberlakukan juga
di Gorontalo, Banten, dan lain se-bagainya. "Disini
kita telah me-lihat secara nyata diberikan hak
istimewa bagi kelompok agama tertentu. Dan negara ini
telah melegalkan Laskar Jihad yang terus melakukan
pembunuhan, dan pembantaian termasuk ne-gara
melegalkan konflik di Ma-luku tetap berlangsung,"
tutur Waileruny.
Disamping alasan-alasan ter-sebut, Waileruny
menyatakan ke-terlibatannya dalam FKM un-tuk melihat
kenyataan perjuang-an RMS, karena dirinya melihat
perjuangan RMS memiliki lan-dasan hukum internasional
yang jelas.
Dikatakan, Konferensi PBB di Den Hag-,Konfrensi Meja
Bun-dar, itu disepakati, diberikan tugas kepada Negara
Indonesia Serikat dan Kerajaan Belanda, guna
memberikan kesempatan kepada daerah-daerah untuk
me-nentukan pilihan sendiri secara bebas.
Dengan demikian pernyataan kemerdekaan RMS yang
dilaku-kan Mr Dr Chr S.S. Soumokil waktu itu, adalah
pernyataan yang dilakukan berdasarkan landasan hukum
internasional," tukas Waileruny optimis.
   Lebih jauh Waileruny me-nandaskan, secara defacto
mau-pun dejure pencetusan kemerde-kan RMS pada tanggal
25 April 1950 adalah sesuatu yang sah, sebab RMS itu
punya prokla-masi, punya Undang-Undang yang sah, punya
bendera ke-bangsaan, lagu kebangsaan, sruk--tur
pemerintahan, mata uang, dan yang pasti punya ta-nah
air yang sah, sehingga su-dah jelas RMS itu berdaulat
se-bagai suatu negara, sehingga yang kami ungkapkan
adalah RMS itu benar ada dan RMS itu berdaulat.
   Waileruny mengatakan, aki-bat dari kerusuhan ini,
keinginan dari setiap orang itu hanya untuk merdeka,
namun merdeka dalam bentuk apa saat inilah yang
di-per-tanyakan, sebab jika merdeka dalam cara
menuntut kemerde-kaan itu berarti tindakan separa-tis
karena ada dalam satu negara yang berdaulat tetapi
jika me-nun-tut untuk mengembalikan ke-dau-latan itu
bukan tindakan se-paratis karena menuntut sesuatu yang
pernah ada.
   Untuk itu, Waileruny me-minta kepada semua pihak
agar jangan mempermasalahkan kata deklarasi
kemerdekaan yang ka-tanya dilakukan oleh FKM, se-bab
yang FKM lakukan adalah mengungkapkan kebenaran. "RMS
itu sudah merdeka dan ber-daulat cuman sekarang
kedau-latan itu hilang sehingga yang paling efektif
adalah menuntut pengembalian kedaulatan itu. Dan
penuntutan pengembalian kedaulatan RMS ini juga
dito-pang oleh saudara-saudara Mus-lim lokal. Namun
saya tidak akan menyebutkan siapa me-reka," kata
Waileruny. (lek/tin)

Separatis Itu Sebenarnya Siapa?
Ambon, Siwalima
Image negatif terhadap apa yang dilakukan Front
Kedaulatan Maluku, ternyata mendapat tang-gapan yang
sangat serius dari anggota dewan Maluku, Chris
Sahetapy, sebab dalam ka-jiannya, Sahetapy justru
melihat apa yang dituduhkan selama ini kepada FKM
belum tentu benar.
"Kalau orang menuduh FKM itu separatis, maka pandangan
saya belum sejauh itu, sebab da-lam wacana reformasi
saat ini hal seperti itu biasa dalam mencari
solusi-solusi bagi kepentingan negara. Dan ketika
orang ber-tanya tentang separatis, apakah FKM ini
telah mengubah ideo-logi negara? Justru saya menilai
keliru besar mengubah UUD 45 dan Pancasila yng
berujung pada kecenderungan pemberlakuan Syariat
Islam. Itulah yang se-benarnya tindakan separatis. Dan
untuk Maluku sendiri tinda-kan yang dilakukan Jaffar
Umar Thalib dan pasukannya hingga Islamisasi Kesui
sangat berten-tangan dengan UUD 45 dan Pancasila.
Tindakan-tindakan itulah yang sebenarnya disebut
separatis," tandas Sahetapy.
Pemberlakuan Syariat Islam kata Sahetapy, DPR harus
ber-tanggung jawab. "Akbar Tan-jung harus diminta
tanggung jawabnya, sebab selaku Ketua DPR ia
memberikan keluasan pemberlakuan Syariat Islam,
sedangkan FKM sendiri baru merupakan sebuah wacana dan
ini belum mengarah kepada pe-langgaran hukum," jelas
Sahe-tapy.
Lebih jauh Sahetapy menilai FKM ini muncul akibat
ketidak pedulian berbagai pihak selama dua tahun
konflik Maluku.
"Sebenarnya pemerintah ha-rus melihat FKM sebagai
bagian dari pemerintah dalam menye-lesaikan konflik,
dan pemerintah harus memanggil FKM untuk menanyakan
apa sebenarnya kemauaan mereka termasuk me-ngenai
kedaulatan yang sampai saat ini belum jelas.
Pemerintah ja-ngan melihat FKM sebagai kelom-pok
separatis," tandas Sahetapy.
Menurutnya, sebetulnya In-donesia harus kembali kepada
Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen, sebab
jika masing-masing daerah meng-inginkan pemberlakuan
Syariat Islam otomatis kita hidup dalam NKRI tetapi
bukan dalam bingkai Pancasila dan UUD 45.
"Jadi justru yang saat ini dita-nyakan NKRI yang
bagaimana di tanah Maluku ini, apakah NKRI yang
menjalankan Syariat Islam atau NKRI yang patuh kepada
Pancasila dan UUD 45 tetapi secara defacto mengakui
adanya Syariat Islam. Ini patut ditanyakan keaslian
NKRI, sebab jangan sampai NKRI ini akan menjadi sebuah
negara yang ber-dasarkan agama," tukas Sahetay,
sembari menambahkan, wacana yang digunakan FKM
sebenar-nya sesuatu yang wajar jika dikaji kaitkan
dengan apa yang terjadi selama ini. (lek/tin)

FKM Perjuangkan Kedaulatan Rakyat Maluku
Ambon, Siwalima
Front Kedaulatan Maluku (FKM) yang dideklarasikan 18
Desember lalu, merupakan lem-baga advokasi
kemasyarakatan yang memperjuangkan hak ke-daulatan
bagi masyarakat Ma-luku.
"Dua tahun tragedi kemanusia-an telah berlangsung di
Maluku, dan dilakukan oleh sejumlah komponen di negara
ini tanpa ada suatu penyelesaian konkrit dari
pemerintah yangjustru me-rupakan puncak manifestasi
pe-langgaran Hak Asasi Manusia (HAM) Maluku selama 50
tahun kemerdekaan Indonesia," tandas Pimpinan
Eksekutif Front Ke-daulatan Maluku (FKM), dr AH
Manuputty kepada Siwalima, di Ambon, kemarin.
FKM, menurut Manuputty ti-dak sama dengan organisasi
Re-publik Maluku Selatan (RMS) yang pernah tercatat
dalam se-jarah Republik Indonesia. "FKM tidak sama
dengan RMS tetapi memperjuangkan kedaulatan bagi
rakyat Maluku seperti yang pernah diperjuangkan oleh
RMS," katanya.
Menyangkut dukungan dari masyarakat terhadap FKM,
Manuputty menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh rakyat
Ma-luku mendukung upaya yang dilakukan oleh FKM.
"Namun me-reka takut agresi militer mau-pun tekanan
yang dilakukan oleh pemerintah maupun elit-elit
politik tertentu," jelasnya sem-bari memprediksi
masyarakat yang tidak mendukung FKM sekitar dua
persen.
Dua persen masyarakat yang tidak mendukung tersebut,
me-rupakan orang-orang yang se-lama ini dekat dengan
kekuasaan. "Mereka-mereka itu yang selama ini menjadi
kaki tangan pengua-sa yang terus menari-nari diatas
penderitaan rakyat kecil," ujar-nya.
Menurutnya, rakyat Maluku sudah tidak layak lagi
berada di dalam negara Republik Indonesia dan telah
sesuai pula dengan sum-bangsih komponen rakyat Maluku
pun sumber daya alam selama 50 tahun kepada
Indo-nesia.
FKM saat itu, mempunyai per-wakilan representatif di
Jakarta, sejumlah negara di Benua Eropa dan Benua
Amerika. (lai/tin)

Aparat Diminta Tingkatkan Kinerja
Ambon, Siwalima
Guna mengantisipasi berbagai isu menyonsong Tahun
Baru, maka aparat keamanan dihimbau unuk tetap dalam
keadaan siaga mengatasi segala kemungkinan yang bakal
terjadi. Apalagi, selama Natal Kristus dan Iul Fitri,
aparat keamanan berhasil mem-buktikan sukses menjaga
keama-nan.
Demikian anggota Gerakan Perempuan Peduli Maluku
(GP-PM), Suster Brigitta Renyaan, saat ditemui di
Biara Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) kemarin. Se-bagai
seorang ibu tentu sangat berterima kasih kepada aparat
keamanan yang sudah berupaya untuk mengatasi isu-isu
yang berkembang seputar Natal dan Idul fitri.
"Saya yakin keamanan yang tercipta ini juga berkat
kesadaran dari masyarakat yang memang ingin agar
perayaan Natal dan Idul fitri dapat berjalan dengan
baik, walaupun diakui bahwa kami juga sempat kaget
dengan bunyi yang sengaja diciptakan oleh sekelompok
anak-anak mu-da yang ingin melampiaskan ke-gembiraan
mereka dengan mem-bunyikan petasan, senjata raki-tan,
bahkan bom rakitan, " ung-kap Brigitta.
Masih kata Brigitta bahwa kon-disi yang sudah kondusif
saat perayaan Natal dan Idul fitri biarlah memasuki
Tahun Baru hal yang sama juga tetap terjaga. Kami kaum
perempuan memang sangat mendambakan suasana yang
tenang, dan saya kira juga semua orang menginginkan
hal yang sama.
Sementara itu, praktisi hukum Richard Rahakbauw, SH
ketika dimintai komentarnya seputar antisipasi jelang
Tahun Baru. Hanya saja, Rahakbauw masih ke-sal dengan
peristiwa yang me-nimpa warga Kristen Kesui dan Teor.
"Satu hal yang sangat disesali mengapa pada mementum
Natal dan Idul Fitri, diberikan peng-amanan yang super
ketat semen-tara saudara-saudara kita yang masih
berada di daerah Kesui tetap tertekan," tegas
Rahak-bauw.
Menurutnya, apa gunanya ke-amanan di Ambon tetapi
persoa-lan yang sementara ini dialami masyarakat Kesui
terus molor alias mengalami tarik ulur penye-lesaian.
Lantaran itu, dia memperta-nyakan, apakah nasib
masyara-kat Kesui hanya dapat menung-gu sampai selesai
Tahun Baru baru dapat diperhatikan, seperti yang
dikatakan oleh Gubernur selaku Penguasa Darurat Sipil
(PDS). (das/via)

Tolak Nikah Secara Islam, Theresia Renyaan Tewas
Dibunuh
Theresia Renyaan tewas di-bunuh oleh kelompok
perusuh, lantaran tidak mau kawin secara Islam, ketika
dirinya bersama sejumlah wanita dipaksa harus kawin
secara Islam dengan lelaki Islam. Kejadian tersebut
terjadi di kampung Suar, Kesui Seram Timur, Maluku
Tengah, salah satu perkampungan Islam, kam-pung
tersebut juga merupakan tempat tawanan bagi warga
Kris-ten yang tidak sempat melolos-kan diri untuk
mengungsi pada saat diserang (23/11) yang lalu.
Demikian dikatakan, Pastor Paroki Ohoidertutu,
Maluku Te-ngah, Gerardus Essrey, MSC yang juga putra
asli Karlomin, Seram Timur, kepada Siwalima, di Gereja
Hati Kudus, Batu Gan-tung, Jumat ( 29/12).
Menurut Pastor Essrey, sesuai dengan laporan yang
diterima-nya dari Kesui, bahwa tiga hari yang lalu
tepatnya tanggal 27 Desember 2000, perusuh Islam
dari kampung Sumelang dan Keldor kembali berusaha
 untuk menyerang warga Kristen yang ditawan di
perkampung Islam Tanah Baru, Kesui. Tetapi upaya
penyerangan mereka tidak ber-hasil karena warga
Islam di kam-pung Tanah Baru dapat mence-gat perusuh
tersebut. Di kam-pung Suar salah satu
perkam-pu-ngan Islam juga terjadi pemaksa-an terhadap
 perempuan yang ber-agama Kristen, untuk me-ni-kah
secara Islam. Kerena pemak-saan itu tidak dilayani
maka The-resia Renyaan tewas dibunuh. Juga seorang
laki-laki di Teor te-was di bunuh
Pastor Essrey juga mengata-kan bahwa kondisi warga
Kris-ten yang menjadi tawanan di Kampung Tanah Baru,
dan Kam-pung Suar, kini dalam kondisi yang
memprihatinkan, karena mereka menderita sakit.
Lan-taran mereka tertekan deng-an kondisi yang mereka
alami disana.
Untuk itu pastor Essery, minta kepada pemerintah
Penguasa Darurat Sipil untuk memperhati-kan warga
Kristen yang belum sempat di efakuasi dari Teor dan
Kesui. Dengan demikian mereka harus segera di
efakuasi, baik di efakuasi ke Kei atau ke Ambon,
karena kondisi mereka disana saat ini sangat
memprihatinkan, sebab banyak diantara mereka yang
menderita sakit. (fik)

BPHK dan PT Telkom 'Diguncang' Bom Rakitan
Ambon, Siwalima
Situasi kota Ambon yang su-dah mulai kondusif
akhir-akhir ini, kembali dikagetkan oleh suara ledakan
bom rakitan tadi pagi sekitar pukul 06:15 WIT di
sekitar kawasan Biara Hati Kudus (BPHK) dan PT Telkom,
 di Jalan Patimurra Ambon.
Kepada Siwalima kemarin di markas BPHK, Suster
Brigitta Renyaan menguraikan panjang lebar kronologis
peristiwa leda-kan bom tersebut.
Menurut Brigitta, ledakan bom rakitan tersebut terjadi
sekitar pukul 06:15 WIT, sontak saja suara ledakan
tersebut menga-get-kan semua suster yang se-men-tara
berdoa pagi, lari ber-ham-buran keluar dari BPHK,
karena selain bunyi ledakan yang cukup dasyat, ledakan
tersebut juga membuat bangunan BPHK ter-guncang hebat.
Dikatakan, bahwa bom rakitan tersebut diperkiraan
dilempar dari arah seberang jalan dan sa-saran
utamanya BPHK, tetapi un-tung saja bom tersebut
terbentur tiang listrik sehingga jatuh dan meledak di
dalam kompleks PT Telkom, dan kejadian ini pun sudah
ditangani oleh Brimob yang bertugas di kompleks PT
Telkom. Dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Brigitta mengatakan bahwa setelah ledakan bom
tersebut, be-liau langsung keluar dari BP-HK dan
meninjau tempat keja-dian. "Waktu keluar, saya melihat
sejumlah anak muda yang ber-pakaian hitam-hitam sudah
berjalan meninggalkan tempat tersebut dan saya hanya
sempat berbicara dengan tiga orang pemuda yang
kebetulan sedang berada di sekitar tempat kejadian,
tetapi mereka juga tidak tahu se-cara pasti bom
tersebut berasal dari arah mana, tetapi saya tidak
katakan bahwa yang lakukan peledakan bom tersebut
adalah orang-orang yang berada di se-kitar situ",
katanya.
Lebih lanjut dikatakan musta-hil kalau bom tersebut
dilem-par-kan dari arah belakang, karena
sepengetahuannya tidak ada orang disekitar tempat itu
pada pagi hari. Untuk itu Brigitta me-ngatakan pasti
ada unsur ke-sengajaan di balik ledakan bom tersebut,
sehubungan dengan makin maraknya teror kepada sejumlah
gereja dan para tokoh-tokoh agama di Jakarta.
"Kalau memang masyarakat sudah tidak suka lagi dengan
pa-ra suster yang berada di BPHK, maka kami akan
keluar dengan baik-baik, tetapi jangan menguna-kan
tin-dakan-tindakan seperti demikian, karena kalau
ledakan bom terse-but tadi mengenai ge-dung BPHK, maka
bukan saja BPHK yang ter-bakar tetapi ke-mungkinan
besar gedung-ge-dung yang berada di sekitar itu pun
akan turut ter-bakar", tan-dasnya penuh kesal.
Dikatakan, bahwa jangan ma-syarakat mengira kalau
selama ini para suster tidak bekerja un-tuk
menyelesaikan konflik, ka-rena mungkin masyarakat
tidak tahu sampai sejauh mana sepak terjang para
suster dalam ber-upa-ya untuk menyelesaikan konflik
Maluku.
Untuk itu kejadian peledakan bom rakitan tersebut
sudah dila-porkan kepada Penguasa Darurat Sipil (PDS)
tadi pagi (kemarin, red) dan sesuai dengan janji, PDS
akan mengusut tuntas peledakan tersebut.
Untuk itu Brigitta mengha-rapkan kepada para pemuda
bahwa jangan hanya melihat bahwa orang yang berada
dila-pangan saja yang berusaha un-tuk menyelesaikan
konflik, tetapi orang lain yang tidak berada di
lapangan pun turut memikirkan dan berupaya agar
konflik ini cepat berakhir, dan diharapkan juga agar
dalam menyongsong ta-hun baru dan memasuki
oto-nomisasi daerah awal Januari nanti, masyarakat
lebih menahan diri dan tidak mudah terprovokasi dengan
isu yang berkembang dan juga diharapkan agar PDS dan
aparat lebih siap siaga agar kejadian seperti ini
tidak terulang kembali, sehingga masyarakat dapat
memasuki tahun baru dengan penuh sukacita.
(via/das)

Keuskupan Kirim Surat Seruan SOS ke PBB
Ambon, Siwalima
Keuskupan Diosis Amboina mengirim surat Seruan
S.O.S ( Save Our Souls ) atau Selamatkan Jiwa Kami
kepada Sekretaris Jen-deral PBB dan kepada para
Kepala serta Duta Negara-Ne-gara Sahabat RI di
seluruh Du-nia. Pengiriman surat tersebut, setelah
mengikuti dan mengkaji dengan cermat konflik yang
telah berlangsung selama satu tahun sebelas bulan,
sudah terbukti dan nampak dengan jelas ber-bagai
tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM. Surat Seruan
S.O.S itu ditanda tangani oleh Uskup MGR P.C.
Mandagi, MSC tertanggal 19 Desember 2000.
Menurut Uskup Mandagi su-rat Seruan itu mengatakan,
bah-wa selama konflik berlangsung, telah terjadi amat
banyak pelang-garan hukum, hak asasi manusia ( HAM)
maupun hak sebagai warga negara Indonesia, yang
dilakukan oleh masyarakat mau-pun oleh aparatur
pemerintah ne-gara Republik Indonesia. Telah terjadi
rupa-rupa tindak kekerasan dan perbuatan amoral serta
kriminal seperti penga-niayaan, pemerkosaan, atau
pe-lecehan seksual, pembantaian, penjarahan, maupun
pemusna-han harta benda, serta pengusi-ran yang
dilakukan oleh kelom-pok umat beragama yang mayo-ritas
terhadap kelompok umat beragama yang minoritas.
Ke-ba-nyakan dari para korban ada-lah rakyat jelata.
orang yang mis-kin, yang tidak berdaya dan tidak
bersalah.
Uskup Mandagi juga melihat, bahwa akhir-akhir ini
juga men-jadi terungkap dan terbukti ada-nya
Islamisasi umat Kristen se-cara massal, dramatis dan
men-da-dak kerena terpaksa atau di-paksa. Antara lain
di pulau Bu-ru, di Seram Timur, dan baru-ba-ru ini
di pulau Kesui dan Pulau Teor. Di pulau Kesui, dari
692 orang Katolik, 473 dipastikan masih hidup dan
sudah menjadi Islam, sedangkan 219 sisanya tidak
diketahui nasib mereka, entah ada dimana, masih hidup
atau tidak, masih katolik atau sudah Islam, sekitar
300 orang telah mengungsi ke pulau Kei Kecil dan
sisanya sekitar 400 orang masih ada di Teor.
 Jadi dari 1.533 orang Katolik di Kesui dan Teor, 615
orang te-lah menjadi Islam karena terpaksa ataupun
dipaksa. Terdapat pula di kedua pulau itu ratusan
umat Protestan yang pada acara yang sama telah
menjadi Islam. Sung-guh perlulah mereka semuanya
dibebaskan dengan mengeva-kuasi dari Kesui dan Teor.
Uskup mandagi juga menilai, bahwa pemerintah pusat
mau-pun lokal bersama semua unsur aparatur negara
Republik Indo-nesia tidak sangup menyelesai-kan
konflik di Maluku. Peme-rintah Republik Indonesia
de-ngan segenap aparaturnya ter-nyata telah gagal
menjamin dan menegakkan hukum dan hak asasi manusia.
Karena tidak ada keseriusan dan konsistensi, tidak ada
kejujuran dan ketulusan. Telah terjadi pelecehan,
pelang-garan, penghancuran serta ke-lalaian dengan
seenaknya. Para pelaku kriminal, pelanggara hu-kum dan
HAM dibiarkan berke-liaran dan beraksi dengan
le-luasa. Yang berlaku adalah hu-kum rimba dan
kekerasan serta kebiadaban.
Oleh karena itu Uskup Man-dagi meminta, demi
kemanusiaan, serta penegakan martabat dan hak asasi
manusia, dan demi pe-negakan hukum untuk keterti-ban,
ketentraman, dan kesejah-teraan hidup manusia Maluku,
dengan tulus kami mohon perha-tian dan ulur tangan
komunitas internasional, untuk membantu pemerintah
Indonesia dalam menyelesaikan konflik di Maluku.
Secara khusus kami membutuh-kan dan memohon bantuan
un-tuk keamanan, penegakan hu-kum dan HAM, Ekonomi,
Agama dan Kebudayaan. Dan kebutu-han yang sangat
mendesak sekarang dan harus menjadi prioritas, adalah
datangnya pa-sukan keamanan internasional serta
orang pemantau dan inves-tigasi internasional dan
inde-penden untuk penegakan hu-kum dan HAM. Surat
tersebut juga mendapat tembusan kepada Presiden
Republik Indonesia di Jakarta dan Gubernur Maluku
di Ambon. (fik)

Oknum Brimob Hajar Maturbongs
Ambon, Siwalima
Nasib apes rupanya lagi ber-sababat dengan Devy
Matur-bongs, warga RT006/RW05 Ke-lurahan Kudamati.
Pasalnya, Senin (25/12) sekitar pukul 21.00 WIT Devy
dihajar oknum Bri-mob berinisial AM. Ketika itu,
korban dicegat di depan rumah keluarga Limba, depan
kantor Kelurahan Benteng dan selan-jutnya
dihajar-ditendang beru-lang kali. Malah Devy dipaksa
untuk mengakui suatu perbuatan yang sama sekali tidak
diketa-huinya.
Kuat dugaan, oknum Brimob berinisial AM itu,
mengaitkan luka lama sejumlah anggota Brimob terhadap
anak-anak muda Choker (cowok keren). Pada-hal, korban
sama sekali tidak mengetahui apa sesungguhnya luka
lama dimaksud.
Di malam Natal itu, usai mem-beli rokok di seputaran
Benteng, korban mengendarai sepeda motor namun dicegat
oleh AM. Sempat terjadi ketegangan alias perang mulut,
dalam keadaan teler AM langsung melancarkan serangan
dengan berdalih kor-ban mengen-darai sepeda di saat
ibadah Natal sedang berlang-sung.
Alhasil, wajah Devy menga-lami luka serius termasuk
kema-luan korban. Hingga saat ini korban susah buang
air seni alias urine. Syukurnya, korban lang-sung
dirawat intensif di Rumah Sakit Haulussy
Sumber-sumber Siwalima me-nyebutkan, peristiwa ini
bukan baru pertama kali dialami oleh anak-anak Choker
karena sudah sekian kalinya mereka dikejar-kejar oleh
anggota Brimob AM Cs.
Padahal, terlepas dari muncul-nya kebijakan sasi
(larangan) menenggak minuman keras, semestinya aparat
penegak hu-kum -, Brimob tidak ikut-ikutan terlibat
atau larut dalam dunia alkohol.
Lantaran itu, kasus ini pernah dilaporkan para orang
tua RT 006/RW05 belum lama ini di Polda termasuk
meluapkan unek-unek keresahan orang tua melalui kolom
surat pembaca di harian Siwalima. Pula, sejumlah orang
tua mengharapkan kiranya Kapolda Maluku, Brigjen Pol
Firman Gani dapat menindak tegas anak buahnya
khususnya oknum Brimob AM Cs yang te-lah bertindak
semena-mena ter-hadap warga sipil. (ana)

Otonommisasi Jalan Sesuai UU No 22 Tahun 1999
Ambon, Siwalima
Gubernur Maluku, Dr Saleh Latuconsina menegaskan,
ber-bagai kesiapan telah dilakukan oleh pemerintah
daerah dalam menyongsong pelaksanaan oto-nomisasi
sesuai dengan UU No 22 tahun 1999. Tetapi
memper-siapkan daerah dalam kondisi saat ini tentu
berbeda dengan daerah-daerah lain yang tidak mengalami
kerusuhan dan pasti ada hal-hal yang belum sebaik jika
 dibandingkan dengan dae-rah lain.
Kepada pers kemarin di ruang kerjanya, usai menerima
per-nyataan sikap raja-raja dalam wilayah kota Ambon
terhadap status negeri adat menurut pasal 126 UU No 22
tahun 1999, Latu-consina mengatakan, pelaksa-naan UU
ini tidak lalu harus di-laksanakan seluruhnya dalam
tahun anggaran 2001, tetapi ada waktu yang diberikan
kepada kita untuk melakukan evaluasi.
"Jika daerah Tingkat II dalam jangka waktu satu atau
dua tahun tidak bisa melaksanakan kewe-nangan yang
telah diberikan ke-padanya, berarti hal itu bisa
di-serahkan kebali ke Tingkat I," ujar gubernur.
Ditambahkan, kewenangan sebagian besar dilimpahkan
ke-pada pemerintah di tingkat ka-bu-paten dan kota,
sehingga da-lam kaitan dengan penye-leng-garaan
urusan-urusan yang menjadi ke-wenangannya juga
memerlukan dana yang cukup besar karena kalau dulu
ke-wenangan ada di Tingkat I dana-nya jauh lebih besar
di-bandingkan Tingkat II.
Latuconsina mencontohkan, untuk alokasi anggaran umum
untuk tahun 2001 misalnya ting-kat I mendapat Rp 100
miliar, te-tapi untuk Tingkat II hampir mendekati Rp
300 miliar, jelas gu-bernur. (ana)

"Bantah Kelompok Muslim Soal Kesui"
Gubernur Latuconsina juga me-nampik keras tudingan
seba-gian besar kelompok Muslim yang mengatakan kasus
Isla-misasi yang terjadi di Kesui dan Teor, Seram
Timur tidak ada un-sur paksaan, bahkan itu meru-pakan
suatu rekayasa yang inti-nya memojokkan umat Muslim.
"Jadi saya sudah sampaikan bahwa kasus yang terjadi di
Kesui dan Teor ada unsur paksa, dan ini ada dua
indikasi dipaksa atau terpaksa," tandas Latucon-sina
kepada pers kemarin di ruang kerjanya.
Lebih lanjut, Latuconsina me-ngatakan, dirinya banyak
mende-ngar dan mendapat lapo-ran bahwa karena
masyarakat yang beragama Kristen diserang, dan saat
itu juga mereka melari-kan diri ke hutan dan dalam
kai-tan de-ngan bagaimana mereka bisa menyelamatkan
diri dan sebagai-nya serta salah satu fak-tor yang
juga diperhitungkan adalah fak-tor budaya setempat dan
keluar-ga, sehingga mereka terpaksa harus masuk agama
Islam.
Tetapi disamping itu juga, tambah Latuconsina ada yang
dipaksa, dan ini harus dicek se-cara keseluruhan.
Ditambahkan dalam waktu yang sangat singkat pihak
Darsi akan menindaklanjutinya serta melakukan
koordinasi supaya pendekatan-pende-katan yang
dilakukan bisa menyelesaikan persoalan ter--masuk
mencari apa yang se-benarnya terjadi. "Kalau perlu
kami akan me-minta ke-polisian untuk pene-gakan hu-kum
kalau memang ada unsur-unsur yang terkait di sana,"
katanya sem-bari men-janjikan dalam waktu dekat tim
akan turun ke Kesui jika seluruh fasilitas sudah
ter-sedia. (ana)

Simpatisan PDI-P Dianjurkan Bawa Obor Perdamaian
Ambon, Siwalima
Mengakhiri tahun 2000 de-ngan dua persitiwa keagamaan
penting yang sudah dilalui yaitu Natal Kristus dan
Idul Fitri tentu mempunyai makna yang sangat istimewa.
Bagi Umat Kristiani Natal Kris-tus adalah permulaan
imple-men-tasi rencana dan solidaritas Allah
menyelamatkan umat cip-taan-Nya dari perbudakan dosa.
"Melalui Yesus Kristus, jami-nan keselamatan kekal
itu di-wartakan dan ditawarkan kepada semua orang,
sementara bagi umat Muslim perayaan Idul Fitri sangat
istimewa sebagai eks-presi kemenangan setelah
ber-puasa di Bulan Ramadhan terjadi penyucian diri
setiap umat Mus-lim untuk kembali menemukan
fitrahnya," tandas Ketua DPD PDI Perjuangan Propinsi
Ma-luku, Jhon Mailoa dalam pesan dan harapannya
menyongsong pergantian tahun.
Dikatakan, sebagai umat ber-agama kita di Maluku juga
telah merayakan dua peristiwa keaga-maan tersebut, dan
selaku Pim-pinan Partai Demokrasi Indo-nesia
Perjuangan Propinsi Ma-luku, sadar bahwa perayaan dua
 peristiwa tersebut berbeda dari perayaan-perayaan
yang sama pada waktu-waktu yang lalu.
Sucakita perayaan yang biasanya kita ekpresikan dala
kebiasaan saling mengunjungi satu dengan lain guna
bersila-turahmi dala konteks sesama umat beragama
semenjak tragedi 19 Januari 1999 hamir tidak lagi
menjadi warna utama perayaan kedua peristiwa keagamaan
ter-sebut, tetapi yang tampak adalah kesendirian dan
mungkin juga kehampaan yang sapai searang belum jelas
ujung akhirnya.
Dengan demikian maka pesan dan harapan Dewan Pimpinan
Daerah PDI-P sebagai berikut; pertama perayaan Natal
Kristus dan Idul Fitri sesungguhnya me-letakkan
universalitas perda-maian sebagai nilai inti dan
karena itu setiap kita yang mera-yakan dituntut untuk
mengeja-wantahankannya dalam kehidu-pan kita, kedua
konsekwensi dari penghayatan dan penga-kuan akan
universalitas perda-maian sebagai nilai inti Natal
dan Idul Fitri mesti mengguggat kita di Maluku untuk
segera keluar dari keterpencilan dan ekslusi-vitas
selama ini sehingga dari dari situ bekerja bahu
membahu engakhiri konflik sosial yang ter-jadi,
ketiga pengakhiran kon-flik sosial yang terjadi perlu
di-segerakan ketika kita sadar bahwa agenda nasional
otono-mi-sasi daerah mulai dilaksa-na-kan tahun 2001,
keikitsertaan Maluku dalam mensukseskan agenda
nasional otonomisasi daerah di-satu pihak akan
melayakkan Maluku "berdiri sama tinggi dan duduk sama
rendah" de-ngan propinsi-propinsi lain di Indo-nesia,
serta padaa pihak lain menyumbang pada tetap kukuh dan
lestarinya Negara Ke-satuan Republik Indonesia
berdasarkan pancasila dan UUD 1945, empat oleh karena
itu semua fungsio-naris, aktivis, kader, anggota dan
simpatisan partai dengan ini saya selaku ketua
mengistruksikan untuk tetap menjaga persatuan dan
kesatuan sambil berlaku diri sebagai pembawa obor
perda-mai-an di Maluku. (ana)

Tegak Hukum, Tergantung Kemauan Aparat
Ambon, Siwalima
Realitas konflik Maluku harus jujur diakui bahwa hukum
se-akan-akan tidak mempunyai arti sama sekali.
Berbagai tindakan kejahatan yang dilakukan ma-syarakat
selama ini seakan tak lagi bisa ditembusi kekuatan
hukum.
Kepada Siwalima kemarin di Ambon, pengamat Darurat
Sipil, Dumas Manery, SH mengatakan pengembalian
mandeknya pro-ses penegakkan hukum di Ma-luku dalam
zona konflik ini, ter-gantung kemauan baik dari aparat
penegak hukum itu sen-diri.
"Tanpa kemauan baik dari mereka yah, sulit untuk
mene-gakan su-premasi hukum. Saya tidak setuju aparat
penegak hu-kum memper-soalkan kurangnya tenaga aparat
penegak menjadi hambatan bagi jalannya proses
penegakan hukum," tandasnya.
Manery mengatakan, kurang-nya tenaga penegak hukum ini
bukan menjadi masalah lantaran hal yang substansial
dari aspek penegakkan hukum bukan ter-letak pada
kurang-nya tenaga penegak hukum.
"Ini hanya masalah teknis yang menjadi tanggungjawab
peme-rintah. Jangan masalah teknis dilemparkan kepada
masyarakat. Kan lucu jika masyarakat harus ikut
membi-ca-rakan hal-hal teknis padahal negara punya
kekuatan besar. Masak ke-kurangan tenaga penegak hukum
dijadikan seba-gai suatu masalah," ujar Manery sinis.
Menurutnya, proses penega-kan hukum tidak pandang
bulu, tidak kom-promi terhadap tinda-kan ma-syarakat
yang melanggar hukum. Apalagi, dalam kondisi Darurat
Sipil. (lis)

Satgaskum Ibarat Permen
Ambon, Siwalima
Sejak lembaga Satgaskum di-bentuk guna menangani
ber-bagai pelanggaran hukum yang terjadi di Maluku,
tampak tidak menunjukan fungsi dan perannya sama
sekali. Kalaupun ada, mung-kin hanya sebatas
pernya-taan "akan" belaka. Namun langkah-langkah
konkrit mena-ngani pelanggaran hukum tidak ada. "Saya
takutkan jangan sam-pai keberadaan lembaga ini ibarat
permen," kritik aktifis GMKI Ca-bang Ambon, Hendryk
Siahaya kepada Siwalima kemarin, di Ambon.
Menurut Siahaya, karena iba-rat permen, maka tidak
meng-heran selalu mucul pernyataan atau kata "akan"
guna menye-nangkan hati masyarakat pada-hal dala
perjalanan lembaga ini kehilangan arah bagaimana harus
memulai bekerja.
"Semenjak pembentukan lem-baga ini apa sudah ada kasus
pe-langgaran hukum yang dipro-ses? Kan belum ada,"
ujar Sia-haya.
Ditambahkan, keberadaan Se-nior Superintendent, John
Tang-kudung sebagai Kadit Serse yang baru sekalian
menjalankan fungsi Ketua Tim Satgaskum yang selama
ini lowong, bukan menjadi masalah sebab yang menjadi
persoalan adalah bagai-mana kemauan baik maupun
keberanian dari figur seorang da-lam menangani
pelanggaran hu-kum yang terjadi di Maluku. (lis)

Natal Sebuah Reinkarnasi; Apa Arti KelahiranKu?
LALU apa arti kelahiranKu? Aku lahir bukan untuk
dirayakan seperti ini...Aku datang ke dunia ini,
merendahkan diriKu sebagai Hamba, mati disalibkan dan
bangkit pada hari yang ketiga untuk menebus dosa umat
manusia yang kuka-sihi... supaya hubungan mereka
dengan BapaKu dipulihkan supaya mereka beroleh
kekekalan yang Kuinginkan adalah hidup mereka sebagai
persembahan yang kudus dan berkenan bagiKu.
Aku terpana dan tertunduk menangis karena aku tahu
inilah hadiah yang terindah dalam hidupku dan aku
telah menemukan apa yang kucari. Sahabat, seperti
apakah Natalmu? Apakah kamu begitu sibuk sehingga
melupakan Dia?
Sahabat, natal bukanlah sebuah cerita dongeng atau
se-jarah...yang kita dengar setiap tahun. Natal
bukanlah saat bagi kita untuk bertukar hadiah,
menantikan kedatangan sang Santa Clauss, juga bukan
untuk membuat acara yang bagus, Natal bukanlah sekedar
perayaan yang diadakan setiap tahun, Natal bukanlah
saat kita berbelanja yang banyak. Pernahkah kamu
bertanya dalam dirimu "andaikan Yesus tidak pernah
lahir" apa yang akan terjadi?
Kalau itu terjadi berarti dosa kita tak pernah
ditebus, hubungan kita dengan Bapa tidak pernah
dipulihkan, dan hidup yang kekal hanyalah angan-angan
belaka. Tapi Bapa itu baik Ia memberikan anakNya yang
tunggal kedunia sebagai manusia. Yesus, yang
kelahiranNya kita rayakan itu, lahir di palungan di
dalam sebuah kandang, Ia lahir dalam kemiskinan, Ia
datang sebagai hamba dengan tidak menganggap bahwa
kesetaraan dengan Allah yang Ia miliki adalah sesuatu
yang harus dipertahankan. Ia rela menderita, bahkan
sampai mati disalibkan, Ia tetap taat. Untuk apa?
untuk menebus dosa kita, supaya oleh kasih karuniaNya
kita beroleh hidup yang kekal. Dan Ia bukanlah Allah
yang tidak menepati janjiNya, sebab pada hari yang
ketiga Ia bangkit dari antara orang mati dan naik ke
surga duduk disebelah kanan Bapa dan menjadi pendoa
syafaat kita sampai detik ini.
Janganlah ibadah dan refleksi Natalmu hanya menjadi
satu rutinitas yang kosong. Saat itu mungkin kau
berkata Tuhan hadir di dalam ruang ibadah ini, tapi
apakah Ia hadir dalam hidupmu? Apakah Ia ada didalam
hatimu? apakah ketika kau pulang dari perayaan Natal
Yesus pun pulang bersamamu? ataukah Ia kautinggalkan
di dalam ruang perayaan itu? Tanyakan pada dirimu
sendiri, Sudahkah Yesus menjadi Tuhan atas seluruh
hidupku dan setiap langkahku?
Natal yang berkesan, bukan Natal yang menghadirkan
banyak acara, Natal yang berkesan bukanlah Natal yang
refleksinya bagus-bagus atau refleksi yang indah
kata-katanya. Tapi Natal yang berkesan adalah ketika
kita menyadari bahwa hadiah terbesar dalam hidup kita
telah kita terima yaitu Keselamatan dari Yesus yang
telah lahir 2000 tahun lalu, mati disalibkan, bangkit
dan naik ke surga. Yesus yang sekarang bukan lagi bayi
kecil di palungan namun Ia adalah Allah yang hidup.
Natal yang berkesan adalah ketika dari refleksi Natal
itu Tuhan menegur, dan membangunkan kita dari tidur
rohani kita. Natal itu akan berkesan jika kita
merespon panggilanNya untuk datang padaNya, menerima
Dia sebagai Juruselamat kita, dan Tuhan atas hidup
kita.
Saat ini bertanyalah pada dirimu, sudahkah Yesus
menjadi Tuhan buatmu? Sudahkah kau serahkan seluruh
hidupmu padaNya? Mungkin ada banyak hal yang terjadi
dalam hidupmu baik ataupun buruk tapi ingatlah Ia
ijinkan itu terjadi agar kita merespon panggilanNya,
agar kita makin dibentuk untuk menjadi serupa dengan
Dia.
Sahabat, kalau kau mulai menjauh, inilah saatnya untuk
memperbaharui setiap komitmenmu dihadapan Tuhan.
Tetapkan fokusmu hanya pada Yesus dan berlarilah dalam
pertandingan ini untuk mencapai garis finish.
Sahabat, Akankah kau menerimaNya atau menolakNya? itu
adalah pilihanmu.
Sebab Allah memberimu pilihan bebas ... ikut Yesus
atau ikut dunia ....
Mungkin ada banyak jalan ke Roma
Dan juga ada banyak jalan ke Neraka
Tapi hanya ada satu jalan ke Surga
(izaac tulalessy/habis)

Umat Islam Harus Lihat 'Kesui-Teor' Secara Arif dan
Bijaksana
Ambon, Siwalima
Apapun dalih pembenaran yang coba dilakukan kalangan
ter-tentu dalam tubuh Islam Ma-luku, toh kasus
Islamisasi warga Kesui dan Teor jika dikaji dari pasal
4 UU No.39 tahun 1999 dan Declaration of Human Right
1948, nyata-nyata merupakan pelanggaran terhadap
funda-men-tal kebebasan bergama seka-ligus pelanggaran
Hak Azasi Ma-nusia (HAM) terberat termasuk mencoloknya
sejumlah tindak pidana.
Demikian penegasan Ketua Forum Komunikasi Koordinasi
Korban Kerusuhan Maluku (FK4M) J Maspaitela, SH kepada
Siwalima kemarin di Ambon.
Menurut Maspaitela, perbua-tan pidana penyerangan
yang dilakukan kelompok perusuh ter-hadap desa-desa
Kristen, me-nimbulkan korban jiwa, harta benda dan
penyerobotan tanah, seharusnya dilakukan tindakan
preventif dan represif yang ce-pat, tepat, tuntas dari
pemerin-tah.
Ya, "Terlepas dari rencana dan program kerja institusi
terkait guna menangani kasus kerusu-han di Maluku,
secara realita tam-pak penegakan hukum
di-nomor-duakan. Padahal sebagai kaum minoritas
semestinya pe-ngamanan desa-desa Kristen
di-nomorsatukan," tandas Mas-paitela.
Terhadap kasus Islamisasi yang terjadi di Kesui dan
Teor, Maspaitela mengatakan, tekanan yang diberikan
kepada PDS dan kalangan Islam untuk melihat kasus
Islamisasi secara arif dan bijaksana bukan semata-mata
soal warga Kristen mendapat pak-saan masuk Islam
tetapi bagai-mana tanggung jawab ber-sama seluruh
warga negara RI tanpa kecuali baik Islam maupun
Kristen.
"Ini harus dimengerti karena negara RI begitu
menjunjung nilai-nilai kebebasan beragama dalam
kebhinekaan. Karena itu jangan lagi ada upaya-upaya
un-tuk mengaburkan fakta lapa-ngan," tandas Maspaitela
meng-ingatkan.
Lantaran itu, dia mengan-jur-kan, langkah yang tepat
adalah mengirimkan pasukan gabungan TNI dan Polri yang
memadai se-se-gera mungkin ke Kesui dan Teor, sehingga
dalam kedudukan anggota Polri sebagai penyidik dan
atau penyidik pembantu, pe-nanganan tindak pidana umum
yang terjadi di kedua tempat itu sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku.
"Sebab jika tidak segera di-tuntaskan maka akan
membuka peluang bagi kasus yang sama di tempat lain
dan pada akhirnya tetap muncul penilaian atau ima-ge
bahwa penegakkan hukum menjadi mandek dan seakan-akan
pemerintah cq. PDS tidak secara serius menanganinya,"
tandas Maspaitela. (lis/das)

Uskup Mandagi: Natal, Tuhan tidak Tinggalkan Umatnya
Ambon, Siwalima
Perayaan malam Natal bagi umat Kristiani di Maluku
khusus-nya di Kota Ambon (24/12) di-lak-sanakan
dengan penuh suka-cita. Kidung-kidung Natal ber-gema
membahana di setiap gereja.
Perayaan Natal bagi umat Katolik Paroki Katedral
Ambon, berlangsung di Gedung Serba-guna Xaverius
Ambon, dipimpin Uskup Diosis Amboina, Mgr PC Mandagi,
MSC.
Uskup Mandagi dalam khot-bah-nya mengatakan,
barangkali secara manusia kita gagal men-dapatkan
rasa aman, kita gagal mendapatkan rasa sebagai orang
beragama, tetapi Tuhan tidak mem-biarkan kita karena
Dia ada bersama kita dan kini menjadi sum-ber
kegembiraan kita, men-jadi sukacita kita.
Uskup Mandagi juga me-nyam-paikan bahan renungan kita
ber-sama, terlebih kaitannya di Malu-ku khususnya di
Kota Am-bon ini. Dikatakan, ketika reformasi lahir,
ada banyak tokoh yang muncul baik tokoh pemerintah,
tokoh pemuda dan perempuan. Tetapi kita lihat
sekarang semen-tara reformasi berjalan banyak muncul
tokoh, ada yang jujur, ada yang baik, tetapi ada yang
mu-nafik dan kurang baik.
Sama halnya, ketika Yesus lahir, di sekitar tempat
kelahiran Kristus ada juga pelbagai tokoh, ada Maria,
Yusuf, ada para gem-bala ada Kaiser Agustus dan
ma-sih ada tokoh yang lain. Tetapi Us-kup mengajak
sejenak kita melihat tokoh gembala.
Para gembala adalah manusia-manusia gambaran Tuhan.
Me-reka itu punya akal budi dan ke-hendak baik,
mereka adalah manu-sia-manusia yang beriman mereka
mempercayai diri kepada Allah.
Tetapi para gembala ini, disaat Yesus lahir mereka
dipandang sebagai orang-orang rendah, orang-orang
bodoh, orang-orang yang disingkirkan yang tidak masuk
dalam hitungan. Mereka begitu terancam oleh se-sama
manusia, mereka dising-kir-kan, , mereka dipandang
rendah oleh orang-orang Yahudi yang punya kuasa dan
punya materi.
Karena itu mereka disingkirkan dan hidup di luar
kota, mereka ini adalah orang-orang miskin dan
kekurangan.
Orang bodoh tidak punya harta, tidak punya pendidikan,
mereka tidak punya kekuasan dan mereka termasuk kelas
bawah, tetapi justru kepada orang-orang ini Tuhan
mewar-takan sukacitanya.
Uskup Mandagi mengajak merenung, apa artinya
peristiwa ini bagi kehidupan umat manu-sia, bahwa
Tuhan begitu sung-guh-sungguh mau menyatakan kepada
kita bahwa Tuhan betul-betul mencintai kita, Tuhan
sung--guh-sungguh mengasihi kita sebagai manusia
ciptaannya. Tuhan bukan hanya mencipta-kan kita atau
membawa kita se-bagai anggota keluarganya, te-tapi
Tuhan sendiri rela men-jadi manusia, Tuhan rela
senasib, se-perasaan, seperjalanan dalam ke-hi-dupan
dan sejarah dengan kita manusia. Tuhan bersama
de-ngan kita, dan kita bersama de-ngan Tuhan.
Karena itu Uskup Mandagi, mengajak walaupun di Maluku
khususnya di Kota Ambon, kita sebagai manusia penuh
dengan kegagalan, penuh dengan pen-de-ritaan, penuh
dengan anca-man, sehingga kita merasa ku-rang aman.
Namun di tengah-te-ngah ke-hidupan kita di Maluku,
yang selalu berada dalam kesu-litan, penderitaan dan
penuh de-ngan ancaman, tetapi kita harus tetap
bersikap optimis, kita tetap ber-sikap gembira dan
sukacita, se-bab Tuhan hadir dan senan-tiasa menyertai
kita. (fik)

LPPM Distribusi Bantuan bagi Pengungsi Kesui dan Teor
Ambon, Siwalima
Sejak diserang dan mengalami proses Islamisasi, nasib
warga Kristen Kesui dan Teor terus men--dapat
perhatian. Selain ban-tuan keamanan atas keselamatan
jiwa juga bantuan kemanusiaan terus berdatangan baik
bagi mereka yang masih berada di Kesui dan Teor pula
warga yang kini seamat masuk ke Ambon.
Alhasil, Lembaga Pemberda-yaan Pembangunan Masyarakat
(LPPM) Ambon, dalam sekian misi kemanusiaan kembali
mem-berikan bantuan bagi para pe-ngungsi Kesui dan
Teor yang telah tiba di Ambon Minggu (17/20) malam dan
 ditampung di tiga tempat masing-masing Gereja Hati
Kudus Yesus, Batu Gantung, Gedung Stella Maris,
Benteng dan Jemaat Nehemia, Benteng.
Direktur Eksekutif LPPM Ambon, Drs Rury Moenandar
ke-pada Siwalima siang kemarin me-ngakui bantuna
kemanusiaan itu telah disalurkan Koordinator ban-tuan
pengungsi LPPM, Mer-sy Barens dan disaksikan staff MCI
Ambon.
Menurut Moenandar, kendati bantuan yang diberikan
sedikit, tetapi diharapkan bisa meringan-kan beban
para pengungsi. Se-dangkan bagi masyaraakat yang ingin
membantu dapat menghu-bungi kantor LPPM lewat nomor
telepon 311024.
Layanan telepon ini dianjurkan semata-mata
me-mentingkan nasib para peng-ungsi Kesui dan Teor
yang masih membutuhkan perhatian dari segenap kalangan
guna me-ringankan bebang mereka.
Lebih lanjut Moenandar me-ngatakan, penditribusian
ban-tuan kepada pengungsi Kesui dan Teor itu
terlaksana berkat kerjasama antara LPPM dan Amboina
Crisis Centre serta Ma-jelis Jemaat Nehemia.
Moenandar mengatakan, se-kitar 173 warga pengungsi
asal Kesui dan Teor itu menerima ban-tuan alat-alat
makan dan minum berupa piring, sendok, garpu, gelas.
Pula, sabun mandi, odol gigi dan sikat gigi. Ya,
"Semoga semua itu bermanfaat dan diterima sepenuh
hati," ujar-nya datar. (tal)

Khotbah Perayaan Idul Fitri
"Krisis Kemanusiaan Terjadi Karena Krisis Spiritual"
Ambon, Siwalima
Suara takbir, tahmid, dan tahlil di seantero jagat
ini memuji asmah Allah, memuji kebesaran Allah sang
pencipta alam semesta. Tidak ketinggalan juga umat
Islam di Kota Ambon mengumandangkan takbir, tahil dan
tahmid sebagai tanda ke-memenangan dalam menjalankan
iba-dah puasa selama sebulan penuh, melawan dan
memerangi hawa nafsu setan.
Suara takbir, tahlil dan tahmid di pandu oleh
mantan Chory Daerah Maluku, La Ode Safeu dan
kawan-kawan, yang berlangsung di Masjid Al Fatah Ambon
 Rabu (27/12).
Bertindak sebagai Imam pada Sholad Idulfitri 1421
Hijrah adalah Haji Ahmad Bantan, Imam Masjid Al Fatah
Ambon. Sedangkan bertin-dak sebagai Hatif adalah dr
Haji Ishak Umarella, yang kesehariannya adalah Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi Maluku yang juga Wakil Ketua
MUI Maluku.
Dalam khotbahnya Haji Umarella mengatakan, bahwa
krisis kemanu-sian yang kita hadapi dewasa ini
termasuk di Maluku terjadi karena krisis spiritual.
Seorang pejabat akan melihat kumpulan penduduk sebagai
angka yang bisa dikalikan dengan satuan biaya dan
menghasilkan proyek miliran rupiah, tetapi
peja-bat-pejabat itu tidak mampu meli-hat butir-butir
air mata kepedihan dibalik mata-mata yang cekung dan
ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk
pasiennya.
Bahkan pejabat tersebut tidak mampu melihat
pasiennya, sehingga dia memandang pasiennya hanya
se-bongkah tubuh yang dapat di-kalikan dengan ribuan
rupiah, biaya periksa, seorang ahli hukum dapat
mengetahui pasal mana yang dipakai untuk memenangkan
perkara tetapi buta dengan isyarat keadilan, se-hingga
kliennya berubah menjadi sapi perahan.
Kita memerlukan orang-orang yang takwa, orang-orang
yang de-ngan sinar rohaninya memancarkan kasih sayang
dengan memerangi jalan hidup manusia. Kita perlu
menghadirkan manusia dari seribu manusia sarjana yang
hatinya kotor. Manusia suci hanya bisa dibentuk
melalui Madrasah Rohaniah yaitu Amalia Ramadhan
dengan selalu melihat Allah dengan selalu merasa-kan
kehadiran Allah dengan ke-ikhlasan beribadah dengan
selalu membersihkan diri dari sifat tercelah.
Selama Ramadhan kita dilatih untuk disipilin dilatih
untuk mela-wan nafsu, dilatih untuk sabar dilatih
untuk sedikit tidur dengan menghi-dupkan amal agar
fitra menjadi ber-sih dan suci lagi.
Fitra selama ini gelap karena kotoran maksiat. Fitra
kembali ke-pada jati dirinya, kembali keasal
kejadiaanya. Hari ini hari kelahiran kem-bali,
kembali kepada fitra, se-bagai hari ketika
dilahirkan oleh ibunya tanpa dosa tanpa noda, hari ini
hari lebaran hari syiar dan ke-bebasan Islam, hari
persatuan dan kesatuan Islam.
Haji Umarella juga mengatakan, dengan Ramadhan kita
telah meng-em-balikan kepada kesadaran yang hakiki,
betapa banyak diantara kita yang membanting tulang
untuk mem-persiapkan masa tua. Betapa ba-nyak manusia
yang bermudik lebaran menuju kampung masing-masing
dengan membawa bekal, tetapi kita lupa bekal mudik
kepada Rabil Alamin. Betapa sibuk mencari dunia
harta, pangkat dan jabatan, tetapi saat kita mati
hanya kita bawah tiga lapis kain kafan.
Sepanjang hari kita melewati jalan-jalan di Kota Ambon
yang penuh dengan manusia yang ber-senda gurau,
tertawa tanpa ingat tetangga, janda, yatim piatu yang
tubuhnya lesu, yang pakaiannya kumal yang perutnya
lapar. Kita tidak lagi menangis ketika tetangga sakit
keras, tidak berdaya beli obat, ataukah kita melihat
anak-anak yatim piatu terlunta-lunta tanpa
per-lindungan. Otak-otak anak ya-tim piatu yang
cerdas disia-siakan karena tidak sanggup membiayai
pendidikan. Juga ketika orang mis-kin merintih
sedirian karena begitu serakahnya memborong dagangan
tanpa menghiraukan si miskin yang menggerutu karena
tidak mampu membeli.
Karena itu kata Haji Umarella, keadilan, keihklasan,
kasih sayang adalah gejala-gejala rohani.
Gejala-gejala seperti ini sebagian orang hilang bila
potensi rohaniah dimati-kan oleh nafsu. Tumpukan uang
tidak melahirkan kebahagiaan, rumah megah tidak
menaburkan ketentraman. (fik)

Diskriminasi, Beasiswa Kerusuhan Unpatti
Ambon, Siwalima
Melukiskan nasib sejumlah maha-siswa Universitas
Pattimura (Un-patti) Ambon rupanya enteng tetapi
menyakitkan. Sudah jatuh tertimpa tangga eh.malah
tabrak tembok lagi.
Khusus untuk beasiswa ke-rusuhan, ungkapan ini malah
terasa pas lantaran ditengara pemberian beasiswa
kerusuhan bagi para ma-hasiswa ternyata ada unsur
diskri-minasi.
Apalagi, setelah jatah beasiswa dibagikan, terbukti
ada sebagian besar mahasiswa yang sudah me-masukan
formulir khusus yang menjadi korban kerusuhan tidak
mendapatkan beasiswa.
Umumnya para mahasiswa me-nyatakan kaget lantaran
namaya tidak terdaftar dalam SK pemberian beasiswa.
Alhasil, kasus ini menjadi perguncingan hangat
sejumlah mahasiswa yang kesal setelah namanya tidak
terdaftar.
Bahkan sempat terjadi perang mulut dengan pegawai
Unpatti dengan alasan beberapa teman yang sama-sama
memasukkan formulir secara bersamaan pada bulan
Agus-tus dan di Lanal-Halong dan di SMU Negeri-2 malah
tidak mendapatkan jatah semntara teman lainnya yang
sama-sama memasukkan formulir mendapatkan jatah
beasiswa.
"Kenapa ada yang dapat ada yang tidak padahal
formulirnya dimasuk-kan bersamaan. Ini kan tidak adil.
Kita sama-sama korban kerusuhan lalu apa alasannya
sampai yang lainnya tidak mendapat jatah," kesal selah
seorang maha-siswa Unpatti yang mendatangi redaksi
Siwalima kemarin sore.
Lagipula jumlah uang bantuan beasiswa sebanyak Rp
675.000 dianggap lumayan tinggi dalam membantu
berbagai keperluan kuliah di tengah himpitan
kesusahan.
Anehnya, sumber-sumber Siwa-lima menyebutkan hampir
seluruh mahasiswa baru semuanya men-dapatkan beasiswa
padahal mereka baru seumur jangung bernaung di bawah
almamater kampus.
Toh begitu, setelah dikonfirma-sikan dengan pegawai
akhirnya nama-nama yang tidak terdaftar didata kembali
dan dijanjikan untuk periode berikutnya.
Selain itu, ke-banyakan mahasiswa yang rumah-nya tidak
terbakar mendapatkan beasiswa kerusuhan sehingga
me-nimbulkan tanda tanya bagi sejumlah mahasiswa.
(fik)

DIKIRIM OLEH:
IZAAC TULALESSY
WARTAWAN HARIAN UMUM SIWALIMA

----- End of forwarded message from Peter -----

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---