[INDONESIA-NEWS] KMP - Asal-Usul dengan Bondan Winarno

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Sat Jan 20 2001 - 17:12:01 EST


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0101/21/naper/asal04.htm

>Minggu, 21 Januari 2001
   
                                 ASAL-USUL
                                      
Dwi- tunggal
Bondan Winarno
bwinarno@indosat.net.id

   DARI jendela kantor saya selalu bisa terlihat bila lalu lintas menjadi
   macet karena adanya unjuk rasa di Kompleks DPR/MPR. Rabu 17 Januari
   kemarin, misalnya, sempat saya lihat jalur jalan tol dari arah Cawang
   menuju Grogol ditutup di ruas Jembatan Semanggi. Mobil-mobil diarahkan
   untuk memutar kembali ke arah Cawang.
   
   Untungnya, kondisi lalu lintas segera berubah. Sebelum tengah hari,
   jalur jalan tol dua jurusan telah dibuka kembali. Tetapi, di televisi
   masih terus tersiar kabar tentang demonstrasi mahasiswa dan pemuda
   menuntut pemunduran Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia.
   Mengapa Presiden yang terpilih secara demokratis tiba-tiba dituntut
   mundur secara gencar dan bertubi-tubi? Dan dengan cara-cara yang tidak
   demokratis pula?
   
                                    ***
                                      
   KRISIS memang membuat kita cepat lupa. Krisis juga membuat kita
   plin-plan, tidak punya keteguhan hati untuk bersikap konsisten. Coba
   kita baca lagi sentimen para pengamat politik di sekitar Pemilihan
   Umum 1999. Seorang pengamat, misalnya, pada tahun 1999 menulis:
   "Indonesia sekarang ini tidak membutuhkan pemimpin yang pintar,
   melainkan pemimpin yang disegani." Lalu Gus Dur dan Mbak Mega
   disebut-sebut mempunyai karakter sebagai pemimpin yang disegani.
   
   Apa kenyataannya sekarang? Gus Dur yang dulu disegani, sekarang
   dilecehkan orang justru ketika telah menyandang jabatan Presiden.
   
   Saya dan istri masing-masing masih punya baju kaus yang kami beli pada
   tahun 1995. Pada dada kaus kami itu terpampang gambar wajah Gus Dur,
   dan tulisan "Gus Dur OK". Kami dulu suka memakainya untuk jalan-jalan
   makan angin. Banyak orang bertanya, "Beli di mana kausnya?"
   
   Sekarang? Setiap kali saya mengenakan baju kaus itu bila hendak pergi,
   istri saya selalu protes, "Enggak usah macam-macam, deh!" Maka, saya
   pun terpaksa bertukar kaus. Begitu cepatnyakah kita mengubah penilaian
   terhadap orang-orang yang semula kita banggakan?
   
   Saya sendiri malu, mengapa saya yang begitu membanggakan Gus Dur di
   masa lalu sekarang tidak berani memakai kaus bergambar wajahnya?
   Denial yang saya lakukan itu tidak beda dari denial Amien Rais ketika
   menyatakan bahwa Poros Tengah tidak lagi mendukung Gus Dur. Jadi, apa
   perlu dikawal Banser untuk mengenakan kaus itu di depan umum? Sayang,
   kan, kalau cuma dipakai tidur?
   
                                    ***
                                      
   HARI Sabtu kemarin dunia melihat George W Bush dilantik menjadi
   Presiden Amerika Serikat. Bahkan di bagian dunia yang sangat
   menonjolkan individualisme ini, seorang Presiden senantiasa dilihat
   sebagai bagian dari duet Presiden-Wapres. Duet itu bahkan sudah
   dipromosikan sejak kampanye sebagai kekuatan gabungan. George W Bush
   yang diolok-olok sebagai Presiden ber-IQ rendah-dan ternyata hanya
   menang tipis dari Al Gore-mungkin tidak akan memenangi pemilu bila ia
   tidak didampingi Dick Chenney yang matang. Itulah kekuatan sinergi.
   
   Sejak masa kampanye, duet calon Presiden dan Wakil Presiden "menjual"
   kompatibilitas masing-masing menjadi sinergi yang ampuh. Kelemahan
   yang satu diimbangi dengan kekuatan yang lain. Mereka menyadari bahwa
   Amerika adalah negara yang besar, sehingga untuk mengelolanya
   diperlukan mutu kepemimpinan yang tinggi. Satu orang saja tidak akan
   pernah cukup. Karena itu diperlukan dua orang yang bisa bekerja sama
   dan saling isi secara sinergistik untuk membina bangsa.
   
   Barangkali tradisi itu pulalah yang diikuti bangsa kita ketika
   mengelu-elukan tampilnya Dwitunggal Soekarno-Hatta pada awal
   kemerdekaan. Keduanya adalah intelektual dan pejuang, tetapi keduanya
   mampu melebur diri menjadi Dwitunggal yang disegani. Pecahnya
   Dwitunggal Soekarno-Hatta di masa lalu juga terbukti menandai awal
   pelemahan posisi Soekarno karena hilangnya sinergi yang semula hadir.
   
   Tanpa bermaksud menghujat Presiden Soeharto, kenyataan
   
   nya kita memang melihat bahwa dialah yang meng-undermine lembaga
   kewakilpresidenan di Indonesia. Semakin lama Presiden Soeharto
   berkuasa, semakin tampak kerdil lembaga kewakilpresidenan. Wakil
   Presiden akhirnya "hanya disuruh" mewakili Presiden dalam
   upacara-upacara yang kurang signifikan. Bahkan ada kejadian ketika
   Presiden Soeharto bermuhibah ke luar negeri dan tidak menyerahkan
   mandatnya kepada Wakil Presiden. Presiden Soeharto tidak ingin berbagi
   kekuasaan. Presiden Soeharto menghapus gagasan pemimpin Dwitunggal
   dari tradisi kita.
   
                                    ***
                                      
   MINGGU lalu kita melihat betapa apik dan manisnya Mbak Mega
   menggandeng Gus Dur dalam acara ulang tahun PDI-P. Tidak selang lama,
   pada hari Jumat kita juga melihat di surat kabar foto Gus Dur dan Mbak
   Mega berdua dalam acara peluncuran buku Ir Djuanda. Dalam minggu yang
   sama kita juga mendengar kabar bahwa Gus Dur datang makan pagi di
   rumah Mbak Mega dan sekaligus mengundang beberapa pejabat tinggi
   negara untuk membicarakan kondisi keamanan.
   
   Bukankah itu semua merupakan fenomena yang manis? Kalau sebelumnya
   kita mendengar-atau dibuat mendengar-tentang adanya keretakan antara
   Gus Dur dan Mbak Mega, sekarang kita melihat bukti sebaliknya.
   
   Setidaknya, mereka telah mencoba tampil sebagai duet yang kompak.
   
   Sayangnya, kita lebih mudah digiring untuk melihat kelemahan-kelemahan
   mereka secara sendiri-sendiri. Kita kurang memiliki determinasi untuk
   menggabungkan keduanya sebagai dwitunggal yang bila mempersatukan dan
   men-sinergi-kan kekuatan masing-masing akan menjadi agregat kekuatan
   yang tidak dipunyai Amien Rais, atau Akbar Tandjung. Mengapa para
   elite politik justru tampak begitu bergairah untuk memecah kekuatan
   dwitunggal itu? Telah lupakah kita semua pada teori sinergi yang
   menyatakan bahwa satu ditambah satu tidak selalu berarti dua, tetapi
   bahkan bisa menjadi tiga atau empat?
   
   Ayo, Dwitunggal Gus Dur-Mbak Mega! Kalian bisa! Dan kita-kita ini
   jangan reseh dong kalau melihat dua orang pemimpin kita itu
   rukun-rukun dan manis-manis.
   
   Apa kita belum cukup lelah diombang-ambingkan kondisi artifisial
   seperti ini? *

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---