[INDONESIA-NEWS] KMP - Tionghoa di Kalbar: Dari Terkaya hingga Termiskin

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Thu Jan 25 2001 - 17:28:25 EST


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0101/26/daerah/dari25.htm

>Jumat, 26 Januari 2001
   Kehidupan Tionghoa di Kalimantan Barat
   Dari Terkaya hingga Termiskin
   Kompas/jannes eudes wawa
   [BUTTON]
   TIONGHOA selalu diidentikkan dengan kaya. Akan tetapi, realitas sosial
   di Kalimantan Barat memudarkan adagium itu. Di sana, meskipun ada yang
   memiliki mobil dan rumah mewah, tempat usaha dan perusahaan besar.
   Namun, tidak sedikit pula warga Tionghoa yang hidupnya jauh di bawah
   garis kemiskinan. Banyak di antara mereka yang nekat melakukan bunuh
   diri guna mengakhiri kesulitan hidup yang diderita.
   
   Salah satu contoh adalah keluarga Hiu Po Thin (58). Pria yang setiap
   hari bekerja sebagai buruh tani ini, pada 17 Juli 1998 ditemukan tewas
   bersama empat anaknya di dalam rumah mereka di Desa Roban, Singkawang,
   Kalimantan Barat. Mereka nekat bunuh diri dengan cara meminum racun
   serangga, sebab kemiskinan yang diderita dinilai sudah terlalu parah,
   dan diyakini tidak dapat terpecahkan.
   
   Aksi menewaskan diri oleh warga Tionghoa dengan motif seperti itu
   sudah sering terjadi di Bumi Khatulistiwa ini. Bahkan, ada orangtua
   tertentu terpaksa menawarkan anaknya yang masih berusia di bawah satu
   tahun kepada keluarga lain, khususnya kaum pribumi untuk diadopsi.
   Pilihan itu dimaksudkan agar beban yang diderita keluarga dapat
   berkurang.
   
   Bagi masyarakat Kalbar, kemiskinan yang diderita sejumlah warga
   Tionghoa jauh lebih memprihatinkan dibanding penduduk asli setempat.
   Mereka umumnya tidak memiliki sebidang tanah, rumah rata-rata seluas
   16-20 meter persegi berlantai tanah atau papan. Atap dari daun nipah,
   namun pada beberapa bagian tampak bocor. Dinding berupa papan bekas.
   Tidak ada sekat pemisah dalam rumah.
   
   Kursi, meja, tempat tidur, lemari, radio, televisi serta barang lain
   sejenisnya sulit ditemui. Perkakas dapur, seperti periuk, kuali yang
   dimiliki pun hanya seadanya. Jumlah senduk, gelas serta piring yang
   tersedia disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga.
   
   Untuk mempertahankan hidup, mereka terpaksa menjadi buruh tani atau
   buruh lepas dengan penghasilan rata-rata berkisar Rp 100.000-Rp
   250.000 per bulan. Pendapatan ini tentu saja sangat tidak mencukupi
   kebutuhan keluarga. Hal itu disebabkan warga Tionghoa yang menetap di
   wilayah pedesaan umumnya memiliki banyak anak, yakni berkisar lima-11
   orang.
   
   "Dalam hidup, hampir tak pernah lagi berpikir untuk besok atau lusa.
   Yang ada hanyalah memikirkan bagaimana bisa makan dan bertahan hidup
   hari ini. Jadi, kalau makan saja sudah susah, untuk apa berpikir
   memperbaiki rumah atau beli alat dapur. Itu bisa bikin pusing...,"
   tutur Tjong Sun Thin (54), penduduk Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai
   Raya, Kabupaten Pontianak.
   
   Ayah lima anak ini hanya memiliki 60 batang kelapa serta sebuah gubuk
   reot warisan orangtuanya. Meski sudah berproduksi, namun tanaman
   kelapa yang ada tidak dapat diandalkan sebagai sumber hidup keluarga.
   Karena, harga kopra selalu tidak menentu. Panen pun hanya dapat
   dilakukan sekali dalam tiga bulan. Produksinya tidak lebih dari 50
   kilogram.
   
   Untuk menghidupi keluarga, dia terpaksa menjadi buruh lepas di Pasar
   Sungai Duri. Di sana, dia rela bekerja apa saja, asalkan dapat
   mendatangkan uang. "Tetapi, penghasilannya pun tidak tentu. Hari ini
   bisa dapat Rp 7.500, besok hanya Rp 3.000, lusa mungkin saja tidak
   dapat satu rupiah pun," kata Tjong Sun Thin.
   
   Hal yang sama diakui pula Bong Tjan Pin (57), ayah 11 anak. Ia yang
   mengaku, mereka sering stres jika kembali ke rumah tidak membawa uang
   sepeser pun. Stres itu, katanya, semakin berat manakala setiba di
   rumah tidak ada persediaan bahan makanan, dan anak terus-menerus
   menangis, sebab tidak sanggup lagi menahan lapar.
   
   "Saat-saat itulah kadang timbul keinginan untuk bunuh diri saja. Biar
   habis sudah penderitaan. Tetapi, untung saja masih mampu mengendalikan
   diri sehingga keinginan menewaskan diri selalu gagal," ujar Bong Tjan
   Pin yang hingga kini tidak memiliki sejengkal tanah pun untuk
   menghidupi keluarga. Tanah dari rumah yang ditempati saat ini milik
   seorang warga setempat.
   
                                    ***
                                      
   KEMISKINAN dan keterbelakangan yang diderita sejumlah penduduk
   Tionghoa di wilayah Kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak, dan Kota
   Pontianak, memang aneh, tetapi nyata. Bayangkan, komunitas ini yang
   terkenal ulet, telaten, pekerja keras dan hemat itu, harus mengalami
   penderitaan yang berkepanjangan.
   
   Berdasarkan perbincangan Kompas dengan sejumlah pemuka warga Tionghoa
   diperoleh informasi bahwa ada sejumlah faktor yang mendasar yang
   menjadi penyebabnya. Secara internal, masyarakat Tionghoa yang ada di
   Kalbar terdiri atas dua suku besar, yakni Tio Ciu dan Hakka atau Khek.
   Kedua suku itu dikaruniai profesi yang sangat bertolak belakang.
   
   Masyarakat Tio Ciu, katanya, ditakdirkan bakat berdagang. Pengusaha
   besar yang tersebar di mana-mana umumnya berasal dari suku itu. Mereka
   mulai datang ke Kalbar pada awal abad 18 sebagai pedagang, kemudian
   langsung menyebar serta berdagang di Kota Pontianak.
   
   Sedangkan, orang Hakka kebanyakan menggeluti bidang antara lain,
   kerajinan, pertanian, peternakan, nelayan, jahit, rumah makan, buruh,
   pengemudi, dan pendidikan. Pilihan profesi ini, sebab manusia Hakka
   selalu menghindari diri dari risiko utang dan sejenisnya.
   
   "Makanya, kalau melihat orang Tionghoa yang memiliki toko emas, rumah
   makan atau menjadi pendidik, penjahit, petani, buruh, nelayan, dan
   lain sejenisnya, itu pasti orang Hakka. Prinsip mereka adalah saya
   kerja, lalu setelah itu langsung dibayar. Berdagang bagi mereka adalah
   pekerjaan yang penuh dengan risiko tinggi. Selain berutang,
   kemungkinan bangkrut pun tetap besar. Inilah yang paling ditakuti,
   serta dihindari sebagian besar orang Hakka," jelas XF Asali (69),
   tokoh masyarakat Tionghoa yang juga bersuku Hakka. Kakeknya pun lahir
   di Kulor, Kabupaten Sambas.
   
   Takut terhadap risiko dan orientasi yang minimalis itu membuat
   sejumlah masyarakat Tionghoa di Kalbar sepertinya tidak mengalami
   peningkatan kualitas hidup. Dari tahun ke tahun, bahkan dari generasi
   ke generasi bidang usaha yang digeluti tetap sama dan kehidupan mereka
   begitu statis. "Kondisi ini diperparah lagi dengan pembatasan ruang
   gerak dan peluang oleh pemerintah selama Orde Baru sehingga orang
   Tionghoa yang miskin praktis semakin tak berdaya dan hanya pasrah
   dengan keadaan yang dihadapi," tambah Johanes Haryadi (54), tokoh
   Tionghoa lainnya.
   
                                    ***
                                      
   KENDATI demikian, faktor lain yang tidak bisa dipungkiri adalah adanya
   pengusiran secara besar-besaran dari wilayah pedalaman yang dilakukan
   masyarakat setempat pada tahun 1967. Aksi itu bersamaan dengan operasi
   penumpasan Pasukan Gerakan Revolusioner Sarawak dan Pasukan Rakyat
   Kalimantan Utara (PGRS-Paraku) oleh militer Indonesia.
   
   Ketika itu, kata Akil Mochtar, anggota DPR, militer menuduh masyarakat
   Tionghoa yang menetap di pedalaman Kalbar sebagai pamasok makanan dan
   obat-obatan untuk kaum komunis dari PGRS-Paraku. Ini dikaitkan dengan
   sejumlah aktivis organisasi tersebut adalah warga Tionghoa Sarawak.
   Kabarnya, masyarakat keturunan Tionghoa dari bangsa yang berbeda ini
   menjalin kerja sama terselubung. Karenanya, mata rantai itu perlu
   diputuskan.
   
   Caranya adalah semua warga Tinghoa yang ada di pedalaman harus
   dipindahkan. Dengan demikian, suplai makanan dan obat-obatan pasti
   terhenti, kaum komunis akan menderita kelaparan, sakit, lalu mati.
   Namun, karena tuduhan itu sepertinya tak berdasar sehingga strategi
   tersebut pun selalu gagal. Maka, direkayasalah pembunuhan terhadap
   sejumlah masyarakat Dayak. Setelah itu disebarkan isu bahwa korban
   dibunuh warga Tionghoa.
   
   Mendengar hal tersebut, masyarakat Dayak langsung marah. Mereka lalu
   dibunuh, diusir dari wilayah pedalaman, dan diungsikan militer ke
   Singkawang, Pontianak, serta kawasan di sekitarnya. Jumlah warga
   Tionghoa yang diungsikan mencapai kurang lebih 60.000 jiwa. Di sana,
   mereka ditempatkan di sejumlah gudang karet, gedung swasta, dan rumah
   keluarga.
   
   Tragisnya lagi, di sepanjang kawasan perbatasan Kalbar-Sarawak serta
   sejumlah daerah yang tadinya menjadi sentra permukiman Tionghoa
   langsung dinyatakan sebagai daerah merah. Sejak saat itu, sampai saat
   ini daerah-daerah tersebut oleh militer dinyatakan tertutup bagi kaum
   "mata sipit". Akibatnya, kebun karet, lada, dan kakao, yang sedang
   berproduksi, sawah, serta berbagai tempat usaha terpaksa ditinggalkan
   tidak dapat diolah lagi oleh pemiliknya hingga sekarang.
   
   Setelah kurang lebih enam bulan bertahan di lokasi pengungsian,
   beberapa pengungsi merantau ke Jakarta, Sarawak, atau kembali
   Hongkong. Sebagian lagi memilih tetap bertahan di Kalbar, lalu secara
   spontan mulai menyebar di Pontianak, Singkawang, Sungai Duri, Sungai
   Pinyuh, dan kawasan lain di sekitarnya. Bagi mereka yang memiliki uang
   mulai membuka usaha, dan secara perlahan-lahan sukses.
   
   Sedangkan, yang tidak memiliki uang memulai hidup baru dengan bekerja
   sebagai petani, pemulung, pengemudi angkutan, nelayan, buruh tani,
   buruh kasar, serta pekerjaan lain yang sejenis. "Saat ini kami memulai
   hidup baru dari nol tanpa mendapat bantuan dari pemerintah," kata
   Tjong Siauw Tjin (48), yang saat peristiwa itu terjadi dirinya sudah
   berusia 15 tahun sehingga masih ingat persis kejadiannya.
   
   Tanah untuk bangun rumah, paparnya, dipinjam dari kenalan atau warga
   setempat yang kebetulan simpati terhadap penderitaan pengungsi
   Tionghoa. Bahkan itu masih berlangsung sampai saat ini. Penghasilan
   yang diperoleh selalu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Kehidupan
   mereka dari hari ke hari semakin memprihatinkan.
   
   Buruh petani yang bermukim di Roban tersebut-sebelum tahun 1967-ia
   bersama kedua orangtua dan semua sanak saudaranya tinggal di kawasan
   Seluas, Kabupaten Bengkayang. Di sana, mereka memiliki sekitar 1.000
   pohon karet dan 500 pohon lada. Tetapi, kedua kebun itu ditelantarkan,
   sebab mereka telah dilarang pemerintah untuk kembali ke Seluas.
   
                                    ***
                                      
   GAMBARAN nyata dari kehidupan masyarakat Tionghoa di Kalbar merupakan
   satu fenomena yang menarik. Setidaknya kecemburuan serta jarak sosial
   antara pribumi dengan warga Tionghoa seperti yang sering timbul di
   daerah lain sama sekali tidak terjadi di Kalimantan Barat. Yang tampak
   hanyalah saling membaur, menyatu dan bahu-membahu membangun daerahnya.
   
   "Apa yang mau dicemburui. Lalu dasarnya apa. Lihat saja, begitu banyak
   orang Tionghoa yang jadi petani, pemulung, pedagang kaki lima,
   pengemis, dan sebagainya. Hidup mereka jauh lebih melarat dari
   masyarakat Dayak, Melayu, Madura. Kalau pun ada yang kaya, itu juga
   merupakan hasil kerja keras serta hemat. Jadi, rasanya kurang pantas
   kalau adanya kecemburuan sosial. Lagi pula orang Tionghoa pun sangat
   terbuka," kata H Darwis Abubakar, tokoh masyarakat Melayu yang juga
   mantan anggota MPR/DPR. (Jannes Eudes Wawa)

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---