[INDONESIA-NEWS] BERNAS - PKB Bikin Buku Putih Buloggate, Isu Akbar akan Ditangkap

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Sun Feb 11 2001 - 18:05:39 EST


X-URL: http://www.indomedia.com/bernas/022001/12/UTAMA/12uta5.htm

                        PKB Bikin Buku Putih Buloggate
                                       
* Akbar Diisukan Akan Ditangkap

   Jakarta, Bernas
   DPP PKB dalam waktu dekat ini akan segera mengeluarkan buku putih
   mengenai Buloggate - Bruneigate. Demikian disampaikan anggota DPR RI
   dari FKB, KH Drs Aly As'ad, dalam "Dialog Interaktif" yang dipandu
   Sekjen DPW PPP DIY Drs H Muslih Ilyas. Acara tersebut diadakan dalam
   rangka Harlah XI Ponpes Putri Al- Munawwir Komplek Q Krapyak
   Yogyakarta.
   
   Menurut Aly yang juga bekas anggota pansus Buloggate - Bruneigate itu,
   buku putih tersebut berisi tentang fakta-fakta yang menegaskan bahwa
   Gus Dur sama sekali tidak terlibat dalam dua kasus yang sempat
   menaikkan suhu konstelasi politik nasional itu.
   
   Buku putih itu disusun Tim 7 DPP PKB, yang beranggotakan empat bekas
   anggota pansus Buloggate dari FKB DPR RI, ditambah Efendy Choirie,
   Rojil Ghufron dan Ida Fauziah. "Buku itu akan segera disosialisasikan
   langsung oleh tim melalui wilayah-wilayah (DPW). Nanti akan diadakan
   forum yang mengupas tuntas mengenai fakta dua kasus tersebut."
   
   "Dalam forum tersebut, akan kita undang pihak atau kelompok yang
   mengatakan Gus Dur terlibat. Biar nanti kita debat mengenai tuduhan
   keterlibatan Gus Dur. Semuanya akan dilakukan secara terbuka. Biar
   nanti akan tampak, mana yang benar dan mana yang tidak benar," kata
   Aly As'ad.
   
   Dalam forum tersebut Aly juga mengungkapkan, pihaknya akan terus
   mengusulkan dibentuknya pansus mengenai kasus yang lain terutama kasus
   BLBI senilai Rp 144 triliun. "Sampai saat ini sudah terdapat 107
   (anggota DPR) yang memberikan tanda tangan dan menyetujui usulan ini,"
   ujarnya.
   
   Aly mengaku, dirinyalah yang memelopori pembentukan pansus tersebut
   sejak Agustus 2000 lalu. "Tapi waktu itu, saat diadakan voting kami
   (pendukung pembentukan pansus BLBI) kalah suara. Waktu itu, beberapa
   fraksi terutama FPG, menolak. Juga, FPPP dan F Reformasi. Hanya PKB,
   fraksi-fraksi kecil dan sebagian anggota FPDI-P yang mendukung,"
   kisahnya.
   
   "Nanti akan kita lihat. Siapa atau pihak mana yang menolak pembentukan
   pansus ini, berarti mereka dari kalangan Orba yang merasa posisinya
   terganggu, atau orang-orang yang memiliki mentalitas Orba," imbuhnya.
   
   Sedangkan Tari Siwi Utami, salah satu anggota pansus dari FKB yang
   juga menjadi penyusun buku, kepada pers di Jakarta, kemarin
   mengatakan, penyusunan buku yang diperkirakan setebal 52 halaman itu
   dilakukan dengan sungguh-sungguh dan seobyektif mungkin. "Kami tidak
   mempunyai tujuan politis. Kami hanya ingin menjelaskan kepada
   masyarakat, apa yang telah dilakukan pansus dengan hasilnya yang
   begitu menyudutkan Gus Dur. Buku ini kami susun secara hati-hati,
   dengan referensi data yang lengkap, tidak asal buat saja," tegasnya.
   
   Isu Akbar ditangkap
   Sementara itu, Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung,
   menanggapi dingin isu dirinya akan ditangkap, karena termasuk dalam
   daftar 10 bekas pejabat tinggi yang "bermasalah." "Saya tenang saja
   kok, itu kan hanya isu, jadi tidak perlu ditanggapi serius," tutur
   Akbar Tandjung, Minggu, saat transit di Bandara Hasanuddin Makassar
   dalam perjalanan dari Irian Jaya.
   
   Sebelumnya diberitakan, dalam kunjungannya ke Pasuruan, Jawa Timur,
   Presiden KH Abdurrahman Wahid mengatakan dalam tiga pekan mendatang
   akan ada 10 bekas pejabat tinggi (Orba) yang akan ditangkap. Tetapi
   Presiden tidak menyebut nama.
   
   Namun, seorang sumber yang dekat dengan Presiden Gus Dur kepada harian
   The Straits Times, mengatakan bahwa 10 orang yang akan ditangkap
   termasuk tokoh-tokoh Partai Golkar, di antaranya Ketua DPR Akbar
   Tandjung.
   
   Diungkapkan, telah terjadi pengumpulkan berkas-berkas kasus, yang
   melibatkan Akbar Tandjung dalam kasus Taperum (tabungan perumahan),
   sewaktu ia menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat pada saat Soeharto
   berkuasa.
   
   Demo di Solo
   Sedangkan demo di daerah, dengan isu pro dan kontra Gus Dur terus saja
   berlangsung. Sepanjang Minggu (11/2), kota Solo misalnya, digoncang
   aksi demo. Aksi digerakkan oleh dua kekuatan, yakni Front Demokrasi
   untuk Reformasi Total (FDRT) yang mengembangkan tuntutan pembubaran
   Golkar dan anti Orba. Dan massa anti Presiden Abdurahman Wahid, yang
   digerakkan oleh Aksi Bersama Mahasiswa dan Rakyat Surakarta (ABMRS).
   Sedangkan kekuatan massa pro Gus Dur yang juga berencana menggelar
   aksi demo, membatalkan diri pada pagi hari, dengan alasan tidak ingin
   terjadi benturan kekuatan.
   
   Aksi FDRT dimulai dari Boulevard UNS sekitar pukul 09.00, seakan
   hendak menguak ingatan masyarakat kota Solo pada semangat patriotik
   reformasi 1998. Dengan kekuatan sekitar 250 massa, FDRT bergerak jalan
   kaki menuju Balaikota Solo.
   
   FDRT yang dikomandoi Faizin, yang juga ketua KPK PRD kota Solo itu,
   membagikan selebaran berisi 7 dosa Orba yang di antaranya menyebut
   kasus BLBI, Kasus Texmaco, dana non-budgeter Bulog, dan sejumlah kasus
   lain yang merugikan negara triliunan rupiah, dan semuanya melibatkan
   kader-kader Partai Golkar, maupun kroni Soeharto, serta organ ABRI di
   masa Orde Baru.
   
   Aksi ini sempat menarik perhatian masyarakat. Dua kelompok aksi sempat
   bersinggungan di putaran Gladag, namun tidak terjadi insiden berarti.
   
   Dua kelompok aksi, melanjutkan aksi di tempat masing-masing yang
   berjarak 300 meter, sampai sekitar pukul 12.00 dan membubarkan diri.
   
   Sementara itu, desakan agar Presiden Wahid mundur, digaungkan oleh
   sekitar 800 massa aksi ABMRS di Tugu Gladak. Aksi diawali dari
   lapangan Kota Barat. Aksi para penentang Presiden ini sempat membuat
   lalu lintas di Jalan Slamet Riyadi terhambat.
   
   Iring-iringan rombongan yang menggunakan seluruh ruas jalan protokol
   Slamet Riyadi, juga mengusung berbagai spanduk dan poster. Sebuah
   spanduk dari kain hitam bertuliskan "Libas Orba, Turunkan Gus Dur dan
   Adili Soeharto". Nampak pula wakil sekretaris Barisan Muda (BM) Partai
   Amanat Nasional, Bambang Saptono, mengendarai sedan bertulisan "Gus
   Dur mundur diampuni, Ngeyel diadili". Di luar barisan, nampak Mudrick
   M Sangidoe juga ikut beraksi bersama massa. (jj/**/ptg)

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---