[INDONESIA-NEWS] KONTRAS - GAM, Siapa Mereka?

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Fri Feb 23 2001 - 18:17:00 EST


X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/kontras/125/lap1.htm

   KONTRAS No. 125 TAHUN IV 21 - 27 FEBRUARI 2001
   
   GAM, Siapa Mereka?
   
   Begitu banyak teka-teki di dalam tubuh GAM, termasuk pertanyaan yang
   selalu muncul: siapa sesungguhnya GAM? Dari unsur mana saja komponen
   pembentuknya? Kok mereka tangguh, sampai-sampai Kopassus didatangkan
   lagi untuk menggempur?
   
   Selaku mantan Pembantu Rektor Bidang Akademik di Universitas Islam
   Indonesia (UII) Yogyakarta, Profesor Mahfud MD tampaknya akan kembali
   bergelut dengan tabulasi angka dan akurasi data. Soalnya, Menteri
   Pertahanan (Menhan) RI ini kini sedang memilah apa itu gerakan
   separatis yang ada di Aceh (juga Irja), siapa saja yang terlibat,
   serta berapa pula kekuatannya. Itu perlu, "Agar tidak salah sasaran,"
   ujar Menhan seusai mengikuti Rakor Polkam di Jakarta, Selasa (20/2).
   
   Data riil tentang gerakan separatis di Aceh --siapa lagi kalau bukan
   GAM yang dia maksud-- diperlukan Menhan Mahfud untuk suatu tujuan
   khusus. Yakni, "Dalam waktu dekat, paling tidak Maret, kita akan
   melakukan tidakan tegas terhadap separatis. Sekarang, kita tinggal
   memastikan saja siapa mereka dan berapa kekuatannya," tukas Mahfud.
   
   Sikap Menhan memilah siapa separatis di Aceh --untuk kemudian
   ditindak-- bisa diartikan bahwa Jakarta ternyata tidak main "pukul
   rata". Selama ini, mengingat begitu banyak warga sipil yang tewas di
   Aceh dibanding GAM, muncul dugaan jangan-jangan Jakarta mempersepsikan
   semua orang Aceh itu sudah GAM. Maka, boleh sembarang tumpas. Apalagi,
   persebaran GAM sudah demikian luasnya, hampir mencakup seluruh Aceh
   (Baca: Pola Persebaran GAM, hlm 7).
   
   Tapi, dengan pemilahan yang dilakukan Menhan itu, anggapan dan
   kekhawatiran bahwa semua orang Aceh GAM, tidak terbukti. Lagi pula,
   seperti yang dipraktikkan jajaran Polda Aceh selama ini --di masa jeda
   kemanusiaan dan moratorium kekerasan-- mereka tidak sembarang sasar.
   Yang paling mereka uber hanyalah sipil bersenjata. Tapi, masyarakat
   yang dengan sukarela menyerahkan senjata api atau bahan peledak ilegal
   yang mereka miliki, tidak diapa-apakan. Begitu pula, tenaga sipil
   profesional seperti Teuku Kamaruzzaman SH dan Sofyan Ibrahim Tiba SH,
   sejauh ini belum dicap GAM atau ditindak oleh aparat Polri, kendati
   mereka mengabdi untuk kepentingan GAM dalam memuluskan dialog
   kemanusiaan dan politik (Baca: Awak GAM Bicara tentang Motivasinya).
   
   Lalu, siapa GAM sesungguhnya? Untuk mendapatkan GAM dengan indikasi
   separatis seperti dimaui Menhan RI, tentulah diperlukan kriteria
   tersendiri. Tapi, tidaklah sulit bagi RI memastikan siapa separatis
   siapa pula yang tidak. Menhan, misalnya, saat ini tidak akan melayani
   dialog soal Aceh dengan orang-orang yang membawa ide merdeka. Itu
   artinya, sepanjang yang mau berdialog itu adalah orang yang tidak
   membawa aspirasi merdeka, maka mereka tidak dianggap separatis. "Siapa
   yang mau berdialog, jangan membawa aspirasi merdeka," ujarnya.
   
   Secara yuridis, RI bisa menggunakan pasal 106 KUHPidana untuk
   dijadikan barometer untuk memastikan siapa separatis di Aceh, siapa
   pula yang bukan. Pasal tersebut dengan tegas menyatakan, mereka yang
   berniat membuat bagian daerah negara ini menjadi suatu negara yang
   berdaulat sendiri, maka digolongkan melakukan makar (aanslag). Mereka
   yang makar atau merusak kedaulatan negara, berdasarkan pasal ini,
   diancam hukuman penjara seumur hidup atau penjara selama- lamanya 20
   tahun. Mahfud yang akademisi dan ahli tata negara, tahu persis tentang
   pasal ini.
   
   Juga digolongkan makar, bila pelaku memiliki niat untuk menggulingkan
   pemerintah yang sah, sebagaimana diatur dalam pasal 107 KUHP.
   
   Ke depan, sepertinya, mereka yang berada dalam sasaran bidik pasal
   itulah yang digolongkan separatis oleh Jakarta, dan kemungkinan,
   seperti ditegaskan Menhan, akan ditindak tegas.
   
   Untuk mendapatkan data lengkap tentang siapa itu separatis GAM dan
   berapa kekuatan riilnya, memang tidak mudah bagi aparat RI. Apalagi,
   dalam setiap wawancara dengan wartawan, pihak GAM selalu
   merahasiakannya. Kontras coba mendesak Wakil Panglima GAM Wilayah
   Pase, Abu Sofyan untuk mendapatkan data itu. Tapi, dia tetap
   merahasiakannya. Cuma dia sebutkan, baru-baru ini pihak GAM di
   wilayahnya merekrut lagi 4.000 pemuda untuk dilatih militer. Mereka
   ini diposisikan sebagai pelengkap yang senantiasa siap mendampingi
   pasukan elite GAM dalam bertempur.
   
   Itu pula sebabnya, GAM di wilayah Pase dan lainnya, menurut Abu
   Sofyan, tidak gentar dengan rencana tambahan personel RI sebanyak
   6.000 orang dalam waktu dekat untuk menyukseskan Operasi Cinta
   Meunasah (OCM) II tahun 2001. Dia bahkan merasa terpanggil untuk
   menantang kedatangan personil yang kabarnya akan diperkuat dengan
   personel Kopassus itu. Mengingat, korps pasukan khusus TNI-AD itulah
   yang semasa DOM banyak melakukan pelanggaran HAM di Aceh. Mereka pula
   yang banyak mencipta kuburan massal. Jadi, kalau betul mereka datang,
   GAM siap menghadang, sekalian untuk tueng bila atawa melampiaskan
   dendam (Baca: RI Tambah Pasukan, Siapa Takut? hlm 7).
   
   Tapi, GAM perlu mewaspadai kepiawaian Kopassus dalam menggempur musuh
   yang berbasis perang gerilya. Sebab, selama sembilan tahun Kopassus
   bergerak di Aceh dalam Operasi Jaring Merah (1989-1998), gerak langkah
   GAM berhasil mereka minimalkan, meski tak terpadamkan. Malah banyak
   pentolan GAM yang terpaksa berkutat di hutan atau lari ke luar negeri.
   Mata rantai dukungan logistik terhadap GAM pun berhasil mereka putus.
   
   Cuma, amat banyak ekses penumpasan yang menimpa warga sipil, meski
   mereka tak ada kaitannya sama sekali dengan GAM. Sehingga, operasi
   yang diujungtombaki Kopassus itu paling banyak menimbulkan kecaman
   para pegiat GAM, karena paling banyak melanggar HAM. Tercatat,
   sedikitnya 7.727 warga Aceh yang dilanggar HAM-nya di masa Operasi
   Jaring Merah itu. Belakangan, ketika record buruk itu terungkap, citra
   TNI ikut jatuh gara-gara dahsyatnya kejahatan kemanusiaan yang mereka
   lakukan di Aceh atas nama penumpasan GAM --sebagai order penguasa Orde
   Baru.
   
   Di masa Operasi Jaring Merahlah, Satuan Tugas Khusus (Satgassus)
   berhasil memetakan siapa itu GAM, simpatisan, dan klandestinnya.
   Mereka juga tahu siapa kekuatan inti dan kekuatan pendukungnya. Dan
   record tentang itu mereka kompilasi dalam laporan penugasan periodik
   yang diserahterimakan secara beranting sebagai memori akhir jabatan,
   tatkala terjadi pergantian komandan di tubuh Satgassus Aceh yang
   berpusat di Lhokseumawe.
   
   Dalam sebuah dokumen milik Kopassus yang jatuh ke tangan GAM di
   Kandang, kemudian dokumen itu beralih ke tangan Polri lewat razia di
   Masjid Kandang tahun lalu, terekam banyak hal tentang operasi GAM,
   yang dikategorikan Satgassus sebagai musuh. Misalnya, Satgassus
   membuat pemetaan tentang komposisi GAM. Bahwa ketika berada di daerah
   operasi, GAM itu terdiri dari kelompok gerilya hutan bersenjata,
   klandestin, dan rakyat pendukung/simpatisan.
   
   Mereka diidentifikasi sebagai angkatan luar (eks Libya) dan angkatan
   dalam. Angkatan luar adalah mereka yang pernah dididik pengetahuan dan
   ketrampilan militer di Libya. Kelompok ini potensial dalam ilmu
   militer, namun kurang militan dan tak berpengalaman tempur. Sedangkan
   angkatan dalam, adalah anggota masyarakat yang terpengaruh oleh
   hasutan, sakit hati, serta kecemburuan sosial-ekonomi. Kelompok ini,
   menurut dokumen tersebut, ada yang ikut bergerak di hutan, maupun di
   kampung-kampung sebagai klandestin ataupun menjadi simpatisan.
   
   Kategori ketiga adalah tokoh-tokoh ideolog yang memegang peranan
   ebagai motivator. Mereka umumnya mantan pejuang DI/TII dan generasi
   awal GAM yang masih aktif.
   
   Sepertinya, pendataan dan pemetaan itu sudah cukup jelas bagaimana
   Kopassus, yang kabarnya akan datang ke Aceh lagi, mendeskripsikan apa,
   siapa, dan komponen mana saja pembentuk GAM.
   
   Kenyatan ini amat berbeda dengan sekarang, ketika Polri yang berdiri
   di garda depan dalam menumpas GAM, sedangkan TNI hanya sebagai
   kekuatan back-up. Belum terdengar adanya pendataan serinci itu
   mengenai GAM.
   
   Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Drs Yun Mulyana mengakui, adalah tugas
   dan kewenangan Polri melakukan pengamanan di tempat-tempat kekacauan
   seperti di Aceh. Kalaupun ada anggota TNI yang menyertai Polri, itu
   masih dalam kerangka tugas kepolisian.
   
   "Di Aceh itu, komando pengendaliannya masih di bawah Kapolda setempat.
   Sehingga, masih terbuka peluang anggota Polda Jabar untuk dikirim ke
   Aceh," katanya Selasa kemarin di Cirebon. Ia juga menambahkan,
   pengiriman pasukan Polri untuk mengamankan daerah konflik seperti di
   Aceh, masih akan terus dilakukan, sepanjang belum ada darurat sipil
   atau darurat militer.
   
   Kendati demikian, ia ingatkan, status di Aceh bisa saja berubah
   menjadi kewenangan militer, sepanjang eskalasi situasi Kamtibmasnya
   memerlukan peran militer, seperti dalam kondisi darurat sipil atau
   darurat militer. Namun, sampai sekarang perannya masih dipegang Polri.
   "Pokoknya, sepanjang masih bernuansa kriminal, tugas Polri-lah yang
   dikedepankan untuk menumpas dengan cara represif, preventif serta
   bimbingan masyarakat," tegasnya.
   
   Kasubsatgaspen OCM, Komisaris Besar (Kombes) Pol Kusbini Imbar, Rabu
   (14/2), di Banda Aceh mengatakan, dalam struktur organisasi OCM
   II-2001 akan terjadi perubahan. "Setelah dikaji dan dianalisa selama
   berlangsungnya OCM -I, maka pada OCM II mendatang dibentuk satuan
   tugas (Satgas) penindakan, yang tugasnya khusus memburu para pelaku
   kriminal bersenjata yang masih banyak berkeliaran di Aceh," ujarnya.
   
   Dikatakannya, Satgas penindakan itu akan diisi oleh pasukan terlatih
   dari kesatuan elite TNI/Polri, termasuk di dalamnya Kopassus. Dan,
   itulah yang akan dilayani GAM dengan segenap upayanya. tim kontras

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---