[INDONESIA-NEWS] KMP - Istilah Pembisik Mengandung Arti Konspirasi

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Mon Feb 26 2001 - 18:51:37 EST


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0102/27/nasional/isti06.htm

>Selasa, 27 Februari 2001
   Soetandyo Wignjosoebroto:
   Istilah Pembisik Mengandung Arti Konspirasi
   Surabaya, Kompas
   
   Masukan-masukan yang diterima Presiden Abdurrahman Wahid dari para
   pembantu maupun penasihatnya pasti sudah melalui proses cek dan ricek,
   sebelum diambil keputusan. Sikap Presiden yang mau mendengarkan
   pendapat orang lain dimaksudkan agar Presiden mampu melihat masalah
   dari berbagai sudut pandang.
   
   Hal itu diungkapkan Prof Soetandyo Wignjosoebroto, guru besar
   Universitas Airlangga Surabaya, dalam percakapan dengan Kompas, pekan
   lalu. Beberapa kalangan menggugat dan mempertanyakan masukan-masukan
   yang diterima Presiden, seperti munculnya rencana Presiden untuk
   membubarkan parlemen dan pernyataan-pernyataan Presiden lainnya,
   termasuk kemelut politik di Tanah Air akan berakhir bulan April 2001.
   
   Bagi Soetandyo, siapa pun juga yang jadi presiden, pasti akan memakai
   beberapa orang untuk mendengarkan pendapat lain, second opinion. Hal
   ini perlu dilakukan agar Presiden mampu melihat dari segala sudut
   pandang.
   
   Soetandyo mempertanyakan, apakah betul masukan-masukan kepada presiden
   adalah masukan yang salah. "Perlu diperjelas dulu, siapa yang menilai
   salah. Juga harus diperjelas, apakah pernyataan itu berdasarkan fakta
   atau hanya opini dia sendiri. Kalau hasilnya tidak sama dengan
   pendapat yang menilai, langsung dinilai tidak benar. Jangan begitu,"
   tegasnya.
   
   Soetandyo kurang sependapat dengan penggunaan istilah pembisik
   terhadap orang-orang di lingkungan Presiden yang lebih mengandung arti
   konspirasi. "Istilah itu sebaiknya tidak digunakan, karena yang
   melontarkan pertama kali pastilah lawan politik dari Presiden.
   Sebaiknya media massa juga tidak menyosialisasikan istilah pembisik,
   karena lebih bersifat sensasional," katanya.
   
   Keluar dari krisis
   
   Sementara Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof Dr Ichlasul
   Amal tidak mengetahui secara pasti, mengapa bulan April dipakai
   pemerintah sebagai ancer-ancer untuk menandai keluarnya bangsa
   Indonesia dari krisis yang selama ini terjadi.
   
   Semula Amal menduga, pernyataan Presiden Wahid itu dikaitkan dengan
   penyusunan anggaran yang dulunya antara bulan Maret dan April. Namun,
   sekarang anggaran disusun bulan Desember dan Januari, sehingga
   pernyataan itu hanya cocok dikatakan sebagai kwartal pertama dari
   tahun anggaran 2001.
   
   Bahkan, ujar Amal, hal itu mungkin saja dinyatakan sebagai jawaban
   atas memorandum itu. Jadi, sulit bagi kita menerka pernyataan
   Abdurrahman Wahid itu. Ada kemungkinan, ujar Amal, ungkapan keluar
   dari krisis itu disebabkan oleh kecenderungan Abdurrahman Wahid yang
   karena kelemahan fisiknya, sehingga dia percaya saja pada pembisiknya.
   Bagaimanapun, sebagaimana kita ketahui bersama, dia tidak bisa melihat
   situasi, sehingga akhirnya me-relay begitu saja pada pembisiknya.
   
   Sedang soal ide pembubaran parlemen, Amal mengatakan, Presiden tidak
   mungkin membubarkan parlemen. "Kita harus lihat dulu, ahli tata negara
   mana yang bicara demikian. Kalau asosiasinya mengarah pada peristiwa
   bagaimana Bung Karno (Presiden RI Soekarno-Red) membubarkan DPR pada
   waktu lalu, tampaknya hal ini lain sama sekali." (p27/arn)

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---