[INDONESIA-L] DANIEL & ZAINAB - Sampit dan State Terror

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sat Mar 10 2001 - 16:48:36 EST


Date: Sat, 10 Mar 2001 11:09:48 +0100
Subject: Sampit dan State Terror
From: "Daniel und Zainab Geiger" <lembonah@active.ch>
To: apakabar@saltmine.radix.net

SAMPIT DAN STATE TERROR

Tragedi Sampit tidak bisa hanya dipandang sebagai permasalahan ethnik
belaka. Terlebih dengan membaca opini beberapa netter yang bertendensi untuk
memojokkan Dayak ataupun Madura. Masih banyak netter yang mengatakan orang
Dayak barbarian, tidak beradap, dlsbg. Dan menulis orang Madura kasar,
gampang membunuh (carok) dlsbg.

Saya pribadi sangat bersimpati dengan tulisan "cry of the native son" saya
sangat memahami sekali kekecewaan-kekecewaan masyarakat di pedalaman
Kalimantan (terutama Kaltim) karena saya rasa saya cukup lama bekerja dan
bergaul di lingkungan mereka.

Tapi hal diatas bukanlah merupakan sebuah pembenaran atas terusirnya
beribu-ribu warga Madura dan ratusan korban tewas di Sampit dan
Palangkaraya. Saya hanya mau mengajak kita bisa melihat dari sisi lain
daripada hanya sekedar mengungkapkan streotip Dayak dan Madura.

Kejadian di Kalteng tidak akan terjadi jika tidak ada patern dari kejadian
di Kalbar. Atau paling tidak, tidak dengan pola-pola yang sekeji seperti
yang kita lihat dari photo-photo yang beredar di internet.

Kerusuhan Kalbar (1997) tidak akan terjadi jika tidak ada sejarah legitimasi
dari pemerintah, ketika pada thn 1967 militer menunggangi masyarakat Dayak
di Kalbar untuk memberantas orang Cina di Kalbar.

Praktek budaya mengayau sudah ditinggalkan masyarakat Dayak.jauh sejak
sebelum Indonesia merdeka. Ritua-ritual perang seperti yang dijalankan
masyarakat Dayak di Kalbar telah ditinggalkan lewat kesepakatan Damai
Tumbang Anoi thn 1894, yang dihadiri tokoh masyarakat Dayak, Melayu dan
pemerintah Hindia Belanda. Meskipun begitu mereka tetap memelihara
pengetahuan atas budaya tersebut

Namun sejarah berkehendak lain, pada tahun 1967, ketika MBAH Soeharto sedang
gencar-gencarnya MEMBERANTAS, MEMBASMI, dan MEMBUNUH komunis, issue
komunispun ditiupkan, dibumbui dengan jargon-jargon, kalau Cina dibiarkan
hidup dengan leluasa, maka dia akan merajai sektor ekonomi dan masyarakat
lokal akan terdesak.

Akhirnya dengan restu pimpinan militer pada saat itu, tradisi mangkok merah
dibangkitkan, tariu di teriakkan, upacara mato diselenggarakan. Tradisi ini
berupa penyebaran secara estafet dari kampung ke kampung sebuah mangkok dari
tanah liat yang berisi darah ayam, beras kuning, daun rumbiak, yang
dimanterai panglima perang. Tradisi ini juga terkenal dengan permohonan bala
bantuan kepada kamang (arwah leluhur yang melindungi), yang dipercayai
masyarakat Dayak dapat menjelma dan merasuki tubuh mereka yang hidup,
sehingga mereka menjadi kebal dari peluru ataupun senjata tajam, mereka
dapat berjalan berhari-hari tanpa makan dan minum, mereka dapat melompat
dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat, mereka dapat membaui
(mencium) korban yang telah di targetkan, dan sejuta kekuatan supranatural
lainnya.

Kenapa orang Cina menjadi target pada saat itu? Menurut J. C. Oevaang Oeray,
yang saat itu mantan gubernur Kalbar "orang Cina mendukung gerakan komunis,
mereka mensuplai bahan makanan, obat, dan informasi. Orang Cina mungkin
disiang hari adalah petani biasa, tapi dimalam hari mereka adalah gerilyawan
komunis"

Jadilah tradisi yang puluhan tahun telah ditinggalkan, dibangkitkan kembali
di Kalbar pada tahun 1967 karena pimpinan militer kita yang pada saat itu
memiliki narrow-minded, opportunistic calculation.
Hasilnya? Dalam waktu 5 minggu Okt-Nov 1967 (based on Far Eastern Economic
Review June 30, 1978, hal. 25) menghasilkan data resmi Dayak di Kalbar
berhasil menewaskan 300 - 700 orang Cina, dan data tidak resmi mengatakan
3000. Dan mengusir sekitar 50.000 jiwa orang Cina yang tinggal di pedalaman
Kalbar ke daerah pantai.
(saya masih menyimpan kopian artikel dari FEER, January 25, 1968, dan June
30, 1978).

Sejarah Cina di Kalbar, yang kebanyakan berasal dari ethnik Hakka dan
Theochiu telah menetap di Kalimantan sejak 2 abad yang lalu. Mereka
bermigrasi ke Asia Tenggara karena tergiur deposit emas. Meskipun akhirnya
hingga pada tahun 60-an mereka adalah petani biasa yang sama hidupnya
seperti masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan. Mereka sebelumnya hidup
berdampingan dengan masyarakat Dayak dengan harmonis.

Selanjutnya ketika jargon roda pembangunan dijalankan, eksistensi masyarakat
Dayak tidak diakui pemerintah. Negara malah mengadakan teror-teror
terselubung dengan program-program pembangunan, Transmigrasi, HPH, Tambang,
dll. Kuburan-kuburan leluhur di buldozer karena lokasinya mau dimanfaatkan
untuk pembangunan. Masyarakat di hulu sungai Mahakam misalnya, hidup
semakin sukar karena kebetulan di daerah mereka ada tambang emas raksasa
yang mencemari sungai mereka, sehingga untuk kebutuhan air bersih mereka
harus pergi ke daerah lebih hulu, dibukanya perkebunan-perkebunan kelapa
sawit diatas tanah ladang masyarakat, dan jika ada diantara masyarakat
protes ataupun menuntut ganti rugi, perusahaan selalu di PR-i oleh militer,
dan tangisan-tangisan kecil lainnya yang tidak di akomodir pemerintah.

Teror-teror seperti ini mau mereka hadapi dengan apa? Ditambah dengan
julukan-julukan atau terminologi pejoratif perambah hutan, peladang
berpindah, terkebelakang, dan yang lagi trend saat ini primitf, barbarian,
biadap, dll. Mau marah sama negara, negara itu yang manasih? atau siapa?
Bagaimana wujudnya? Wong yang bersabda jauh di sana di negri antah berantah
yang penuh dengan gemerlap lampu. Mau perang dengan pemerintah, pemerintah
yang mana? Untuk para kamang-pun target ini sangat blur, abstrak.

Jadilah target dan tumpahan semua kekecewaan pada apa yang riil di depan
mata. Kebetulan yang nyeleneh di depan mata adalah Madura,
monggo...peranglah dengan Madura. Karena kelompok minoritas seperti Cina di
Jakarta, Madura di Kalimantan, Bugis, Buton, Makasar (BBM) di Maluku adalah
kambing hitam-kambing hitam yang gampang jadi target.

Ada perbedaan konflik di Kalbar dan Kalteng sejauh yang saya tahu. Meskipun
keduanya sama-sama berperang melawan Madura. Seperti yang saya tulis diatas,
konflik Kalteng tidak akan ada tanpa pola konflik di Kalbar, dan jangan lupa
Konflik Kalbar juga berawal dari pemberantasan ethnik Cina thn. 1967 made in
Militer. Kalau konflik di Kalbar sangat kental dengan budaya kayau dan
mangkok merah, konflik di Kalteng kelihatan lain, dalam artian (sejauh
informasi yang saya dapat) tanpa mengikut sertakan perangkat budaya. Konflik
Kalteng tak beda seperti halnya kerusuhan Maluku dan daerah lain, meskipun
tak terkait dengan masalah agama.

Pers sangat berperan dalam membentuk publik opini. Dengan menciptakan berita
sensasional headhunting by Dayak, mengarahkan pandangan orang bahwa di
Kalteng saat ini masih menjalankan praktek perburuan kepala. Sekali lagi
sejauh informasi yang saya dapat (saya akan berterimakasih sekali kalau ada
yang bisa bantu memberikan informasi adanya keterlibatan perangkat budaya)
konflik di Kalteng adalah pembunuhan massal yang tidak terkait dengan budaya
ngayau, yang celakanya meniru gaya kerusuhan di Sambas, Pontianak dan
Sanggau.

Yang saya khawatirkan, trade mark Dayak Madura bisa menular ke daerah
lainnya yang rawan potensi kerusuhan. Tahun lalu, ketika saya dan suami
berkunjung ke daerah utara kaltim (kabupaten Bulungan yang sekarang
dikembangkan menjadi 3 kabupaten) masyarakat asli disana terang-terangan
mengeluhkan kecemburuan mereka pada pendatang.

"Untuk apa otonomi daerah, kalau pegawai-pegawai kantor bupati yang baru
terbentuk juga orang-orang dari luar?"
"Untuk apa perusahaan ini buka, itu buka, tapi cuman ngasih lapangan kerja
orang luar? Sementara putera daerah tetap kerja di ladang?"
"Untuk apa diterbitkan IPH (ijin Pemanfaatan hutan) kalau toh yang
memanfaatkannya kelompok berdompet tebal yang membawa lari hasil sawmill ke
Malaysia?"

Saya yang orang luar, sudah dapat merasakan hawa panas yang terpendam.
Memang tidak begitu banyak suku Madura di Kaltim (compared with Kalbar und
Kalteng), tapi orang bisa melihat, mendengar dan meniru pola-pola tersebut
yang... jauhkan bala jangan sampai terulang.

Jadi kalau ada orang yang mencap orang Dayak masih hidup primitif di era
millenium seperti sekarang mereka harus dibantu untuk melihat sejarah.
MUNGKIN pemenggalan-pemenggalan kepala saat ini juga merupakan "pengayauan
plat merah" yang kebenaran sejarahnya baru terungkap 30 tahun yang akan
datang.

----- End of forwarded message from Daniel und Zainab Geiger -----

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---