[INDONESIA-L] TL - Ulasan tentang Strategi Sabotase ...

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Wed Mar 21 2001 - 11:27:59 EST


Date: Wed, 21 Mar 2001 01:06:49 -0800 (PST)
From: Tangkisan Letug <tletug@yahoo.com>
Subject: Ulasan Tentang Strategi Sabotase
To: apakabar@radix.net

SABOTASE SEBAGAI STRATEGI POLITIK

Mengamat hingar-bingar politik di Indonesia, ada satu perkara yang
tampaknya dilupakan publik dan para agen perubahan. Perkara ini adalah
Strategi Sabotase. Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas pokok ini untuk
membantu teman-teman yang berada di lapangan untuk mencermatinya, sehingga
tidak terjerat oleh strategi ini.

ARTI SABOTASE

Kata sabotase berasal dari "sabotage" yang berarti mensabot, atau merusak.
Strategi sabotase ini dalam sejarah politik sering digunakan sebagai jalan
ampuh untuk melumpuhkan lawan-lawan politik yang sedang berkuasa atau
menguasai wilayah atau kekuatan tertentu. Dalam strategi perang gerilya,
sabotase ini banyak diarahkan pada prasarana vital seperti logistik.
Ingat, ketika Sultan Agung perang melawan Belanda, membakar dan
menghancurkan kekuatan logistik telah menjadi strategi pemerintah kolonial
maupun Sultan Agung.

Dalam perpolitikan modern, yang menjadi sasaran tidak hanya sarana-sarana
vital seperti logistik saja, tetapi juga sarana-sarana subtil yang
tampaknya tidak penting. Dari kacamata lawan, sasaran itu barangkali
merupakan sasaran yang tidak menentukan, tetapi kalau dilihat jangka jauh
dan dalam perspektif rajutan-kepentingan, apa yang tampaknya kurang
penting itu ternyata bisa menjadi sangat vital. Barangkali inilah yang
diistilahkan oleh Gusdur dengan bahasa sepakbola "catennaccio" (strategi
mengobrak-abrik lawan kesebelasan dengan menyerang dari berbagai segi,
tetapi dengan tusukan-tusukan kecil).

Lalu apa yang terjadi di Indonesia? Adakah sabotase-sabotase politik itu?
Untuk itu, saya ingin membagi dua jenis sabotase yang tampaknya sedang
terjadi di Indonesia: sabotase besar, dan sabotase kecil.

SABOTASE BESAR

Sabotase besar mempunyai sasaran yang besar dan yang mempunyai pengaruh
luas serta pengaruh sistematis jangka panjang. Ini terjadi dalam berbagai
level nasional (mungkin juga internasiona).

Level Hukum: Sabotase dalam level hukum ini paling tampak dalam pemasungan
proses hukum. Pertama-tama dengan membuat sistem hukum dan tatanan tidak
bisa berjalan normal. Salah satu jalan pintasnya adalah pengebirian
konstitusi sebagai hukum yang paling dasar bagi eksistensi sebuah negara.
Bila konstitusi berhasil dibuat timpang, atau dibuat tidak punya kekuatan,
maka sebagai konsekuensinya, undang-undang yang lainnya akan dengan mudah
ditekuk-tekuk, atau bahkan diseret kepada kepentingan kelompoknya. Sasaran
sabotase hukum ini paling mudah dilakukan di sebuah negara yang sedang
dalam masa transisi seperti di Indonesia ini. Apalagi tidak adanya
"penjaga hukum" yang kredibel. Biasanya kelompok politik yang menggunakan
sabotase hukum ini mempunyai sasaran tidak hanya yang bersifat sementara
(misalnya, melindungi kroni dari jerat hukum), tetapi terutama sasaran
yang bersifat struktural dan ideologis. Ingatlah yang terjadi di dalam
revolusi besar dunia: revolusi bolschewik di Russia dan revolusi Prancis,
dan tentunya juga revolusi di Iran.

Sabotase ekonomi: Sabotase ekonomi ini sebetulnya bisa ditempuh sekarang
ini dengan jalan halus dan jalan kasar (mencolok). Dengan jalan halus kita
sudah mengalami apa yang kita sebut sebagai Krisis Moneter th. 1997.
Dengan permainan kurs, sebuah ekonomi negara bisa hancur secara pelan
tetapi pasti. Sabotase macam ini pula yang sekarang ini sedang diterapkan
untuk saling menjatuhkan. Rejim Habiebie dan sekaran rejim Gusdur,
sama-sama harus menghadapi sabotase ekonomi yang halus mematikan ini. Yang
terjadi pada jaman Bung Karno, sabotase ekonomi yang halus ini antara lain
ditempuh dengan memproduksi uang palsu sebanyak mungkin. Dengan beredarnya
banyak uang palsu ini, maka nilai rupiah turun sangat rendah.
Pasti nanti, siapapun rejimnya akan masih mengalami jenis sabotase halus
ini.

Selain sabotase halus dari segi mata uang ini, kita juga mengenal sabotase
kasar dengan menghancurkan sarana vital perekonomian. Kita bisa ambil
contoh mikro: Bila sebuah memproduksi susu, maka sabotase ini akan
diarahkan pada penghancuran peternakan sapi perah; perusahan tekstil
disabotase dengan penghancuran bahan bakunya; perusahaan makanan, maka
bidang pertanian yang dihancurkan dengan penciptaan penyakit hama dsb.
Dalam level makro tentu saja sabotase akan melihat faktor vital apa yang
menopang kehidupan negara yang bersangkutan. Kalau ekonomi Indonesia ini
sebagian besar ditopang oleh produksi minyak dan LNG, maka sasaran
sabotase ini adalah perusahaan-perusahaan minyak itu. Dengan penghancuran
faktor vital ini, rejim yang berkuasa akan dibuat tak berkutik.

Sabotase Informasi: Sekarang ini sudah selayaknya semakin diperhitungkan
strategi sabotase informasi ini. Jelas sasaran dari sabotase informasi ini
menghambat arus informasi dari pusat ke bawah, atau sebaliknya; sekaligus,
mengacaukan informasi sedemikian rupa sehingga sulit lagi menyaring mana
informasi yang sungguh-saungguh benar dan valid. Jaman global ini semakin
ditentukan oleh informasi yang begitu cepat. Sarana-sarananya begitu
canggih dan sering luput dari perhitungan rejim yang sedang berkuasa. Kita
ambil contoh saja internet. Dengan membanjirnya informasi lewat internet,
orang sering sulit membedakan antara informasi yang benar dan tidak.
Apalagi dalam dunia cyber ini orang bertindak sebagai pelaku informasi
secara anonim. Hanya dalam lingkup kelompok-kelompok yang dikenal sajalah,
informasi bisa dipertanggungjawabkan dalam kadar tertentu. Oleh karena
itu, sabotase informasi ini bisa menohok lawan dengan mudah. Bila tidak
ada jaringan yang menyaring informasi, maka tumbangnya sebuah rejim oleh
sabotase informasi ini akan dengan cepat datang. Saat ini di Cina
sabotase-sabotase informasi ini sedang diamati dengan jeli oleh rejim yang
berkuasa. Ahli-ahli komunikasi untuk menghadapi sabotase informasi
dikerahkan dalam dunia cyber. Tetapi sejauh mana rejim bertahan dengan
serangan bertubi-tubi, hanya waktulah yang akan membuktikan.

Bagaimana dengan rejim Gusdur? Tampaknya rejim Gusdur ini harus menghadapi
sabotase informasi yang maha berat. Banyak musuh-musuhnya yang telah
menguasai sarana informasi nasional. Satu kekuatan yang saya lihat dari
pribadi Gusdur dalam menghadapi sabotase informasi ini adalah bahwa Gusdur
sendiri sedang melakukan disinformasi ke khalayak publik. Dengan berbagai
ucapan dan keputusan-keputusan yang tidak mengikuti "pola" biasa, Gusdur
sekaligus menjadi sasaran empuk lawan dan menghindari lawan. Mungkin
tampaknya absurd. Tetapi hal ini pendapat saya setelah mengamati sepak
terjangnya. Silahkan para agen perubahan mengamati dengan jeli: kalau mau
melihat sasaran, jangan melihat apa yang sedang menjadi sasaran
manuver-nya.

SABOTASE KECIL

Kalau sabotase kecil mempunyai sasaran kecil dan lokal. Kalau dilihat
sekilas, tampaknya tidak ada kaitan antara peristiwa satu dengan yang
lainnya. Tetapi dari perspektif strategi sabotase, peristiwa-peristiwa
kecil itu bisa menjadi sebuah strategi ampuh untuk mengubah pelan-pelan
mind-set masyarakat sehingga berpihak pada kepentingan kelompok politik
tertentu.

Dari strategi ini pada dasarnya tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri.
Memang strategi ini membutuhkan agen-agen yang banyak dan tersebar, serta
kecerdikan luar biasa. Tetapi salah satu yang menjadi cirinya adalah
sistematikanya. Untuk sampai pada sistematikanya, perlu suatu analisis
intelijen yang memadai atas berbagai peristiwa sehari-hari. Dalam sebuah
rejim komunis dan fasis, biasanya intelijen sangat rajin mengawasi
rakyatnya. Rejim semacam ini dihantui ketakutan oleh jenis sabotase kecil
ini. Istilah yang sering digunakan oleh rejim Orde Baru adalah
"merong-rong kewibawaan pemerintah" atau dalam bahasa kasarnya
"subversif".

Strategi sabotase kecil ini biasanya melibatkan orang-orang biasa. Dan
mereka sebetulnya juga tidak menyadari bahwa dirinya ada dalam sebuah
sistem strategi sabotase kecil ini. Agen-agen strategi sabotase kecil ini
tidak mengenal mereka-mereka yang menggerakkan. Strategi inilah yang
digunakan untuk menumbangkan rejim-rejim otoriter. Ada yang mengistilahkan
"pembangunan kesadaran" untuk strategi ini.

PENUTUP

Begitulah sedikit ulasan tentang Sabotase yang hampir dilupakan orang di
tengah hiruk pikuk politik di Indonesia. Padahal tidaklah mustahil ada
kekuatan tersembunyi yang sedang mengincar dan menunggu waktu untuk
melancarkan serangan mematikan dan untuk mewujudkan cita-citanya. Apa
yang terjadi di permukaan politik di Indonesia hanyalah sebuah
wayang-wayang yang hidup untuk menuntun ke sebuah babak yang sedang
disiapkan. Akankah babak itu menjadi kenyataan atau tidak, hanya waktu
yang bisa membuktikan. Tetapi bukannya tidak mungkin pula bahwa babak itu
menjelma menjadi babak yang dinantikan oleh banyak orang bila kekuatan
tersembunyi ini bisa dibuka kedoknya.

(Sadewa/NY)

----- End of forwarded message from Tangkisan Letug -----

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---