[INDONESIA-VIEWS] MUNG - Maksud Kematian ...

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon Apr 09 2001 - 11:44:07 EDT


From: Mung Murbandono <mung.murbandono@rnw.nl>
To: apakabar@radix.net dll
Subject: Serial Artikel yang Ditolaki Kompas (12) - MAKSUD KEMATIAN
Date: Mon, 9 Apr 2001 09:24:20 +-200

SERIAL ARTIKEL YANG DITOLAKI KOMPAS (12)

PENGANTAR

Sejak sekitar Maret 1999 sampai sampai akhir Januari 2001 artikel-artikel
kiriman saya ke koran Amanat Hati Nurani Rakyat, Kompas, Jakarta, ditolaki
melulu. Penolakan-penolakan tersebut amat bersemangat, membuat saya keok. Maka mulai 1 Februari 2001 tulisan-tulisan yang jumlahnya lumayan banyak itu saya publikasikan ke banyak t empat.

Yang sudah saya postingkan sampai saat ini adalah:
(1) KKN dan Moral
(2) Bhinneka Tunggal Ika
(3) Gerakan Kejujuran
(4) Habibie Center
(5) Daftar Pekerjaan Bangsa
(6) Kredibilitas Lembaga Publik
(7) Melacak Uang Haram
(8) Pers Pembela Rakyat
(9) Kebohongan yang Perkasa
(10) Kemarahan yang Beradab
(11) Rakyat Menurut Rakyat

Berikut ini, daftar nomer 12 artikel yang ditolaki Kompas:

Maksud Kematian
Oleh L Murbandono Hs

SEMUA orang meninggal dunia. Caranya aneka rupa. Karena usia tua, sakit,
kecelakaan, bunuh diri, dibunuh dan lain-lain, yang intinya adalah mati
secara normal dan abnormal. Di zaman rusuh tempo hari, banyak warga RI
yang tewas secara abnormal. Pengemis, penderma, presiden, jendral,
prajurit, tuan, budak, kuli, bos, koruptor, editor, provokator, advokat,
penjilat, penipu, aktivis HAM, penculik, pendeknya siapapun kita, pasti
mati, entah kapan. Mengapa kita harus mati? Lalu apa guna hidup kalau
akhirnya h arus mati?

Pertanyaan yang "enak" itu sukar dijawab sekalipun peradaban manusia sudah
masuk era internet. Di depan kematian, kita menghadapi fakta yang gelap,
jika cuma didekati dengan akal "rasional". Fakta gelap kematian harus
didekati dengan akal "yang lain".

Akal "yang lain" adalah bahasa rasio radikal yang dalam bahasa agama
disebut iman. Dengan iman, fakta kematian yang seakan-akan segalanya stop,
menyatu dengan kehidupan bentuk lain sehingga si mati berkembang "ke
terus" - menuju ke tempat/saat kesementara an menyatu dengan keabadian.
Kehidupan bentuk lain adalah ihwal-perkara adikodrati yang menjadi fondasi
iman (agama apapun) dan "iman" (segala faham hidup, ip, ialah sebagai
salah satu "keputusan" individu yang paling penting. Kematian adalah
"saat" man usia dihadapkan kristalisasi/akumulasi seluruh kehidupannya.
Segala kedwiartiannya, lebur! Seluruh otonomi-korelasinya, dinamik-statis,
waktu-ruang, kebebasan-keterikatan, aktualitas-potensialitas,
materialitas-spiritualitas, actus primus-secundus, dan se gala unsur
penting kemanusiaannya menyatu dalam fakta kematian, dan seolah-olah
diberi stempel yang definitif/purna.

Maka, fondasi kematian itu bukan dari luar (bahkan sekalipun dibunuh atau
kecelakaan), tapi manusia sendiri, yang proaktif "menyelesaikan diri".
Semakin manusia matang-dewasa-tua dan berpengalaman, actus "menyelesaikan
diri" itu akan makin sarat dan berma kna, yang bisa positif atau negatif.
Kematian bayi akan lebih "enteng" sebab akumulasi maknanya lebih tipis.

Dalam konteks kematian yang positif, segala yang pernah diaktualisasi
tetap akan "eksis". Bukan cuma secara "ekstrim" rohaniah tapi juga badani.
Jika tidak, manusia jadi tidak utuh, terbelah, tak mampu menyelesaikan
dualisme badan-jiwa. Padahal, seluruh aktualisasi manusia hanya lewat
badan, yang identik dengan "volume" kerohanian. Manusia tak bisa lepas
dari badan, meski mungkin telah menjadi abu dalam kremasi dan atau jadi
zat-zat apa pun di dalam tanah dalam kematian. Itulah keniscayaan manusia
seba gai "ada" yang rohani membadan dan badan merohani (empat kata yang
sejatinya cuma satu kata). Jadi, sisi kerohanian manusia "di dunia sana"
juga membawa sejarah kejasmaniannya. Fakta kematian berarti kristalisasi
seluruh aktualitas yang telah terbangun "di sini", menjadi gerbang, untuk
hidup "di sana".

Sejauh manusia memperkembangkan diri (otomatis memperkembangkan masyarakat
dan dunianya dan segala di luar dirinya), maka kristalisasi kehidupannya
disebut "surga". Jika perkembangan diri itu merusak solidaritas dan
korelasi dan otonomi yang otentik, maka kristalisasi kehidupan itu akan
bernama "neraka".

Maka, kebangkitan badan atau kehidupan alam baka yang selama berabad-abad
telah digeluti semua agama itu, meski lebih condong bernilai metafisik,
tetap tak bisa mengabaikan nilai empiristik. Meski kebangkitan badan
fisikal sulit "direkonstruksi" karena segala yang fisik telah mengalami
distorsi yang dahsyat di dalam kematian, tetapi eksistensi manusia
individual tetap ditentukan oleh kepribadian yang cuma mengaktualisasi
diri di dalam badan.

Kematian yang Positif

Semoga seluruh uraian di atas bisa difahami, sebab yang ingin dikatakan
amat sederhana, ialah imbauan agar fakta kematian itu mohon jangan
disikapi secara negatif. Fakta kematian, meski tampaknya menyeramkan tapi
ia sejatinya positif, yakni kehidupan b entuk lain. Ia sudah menjadi
"proyek" manusia selama aktualisasi diri "di sini". Dalam kematian,
manusia sejatinya "cuma" proaktif berangkat menuju "ke sana".

Maka menghadapi fakta kematian, manusia agaknya tak bisa lain kecuali
harus berpengharapan (mungkin itulah iman) sesuai dengan dinamika
akal-kodratinya sendiri. Dengan itu, mungkin manusia lalu jadi berani
menerima misteri kematian itu seorang diri (kemat ian itu bersifat absolut
individual), tanpa protes mengapa harus mati, tanpa putus asa bakal
terjatuh dalam kehampaan, tapi berkat pengharapan itu manusia yakin tidak
akan lenyap-berhenti-selesai melainkan akan sampai ke "waktu/ tempat"
tiap individu m enjumpai kristalisasi dirinya dan mengalami
kesatuan/persatuan dengan semua korelasinya termasuk relasi/dialog dengan
Sang Mahacinta, untuk "selama-lamanya".

Iman (dalam agama apa saja) itu sejatinya - mohon maaf - "senjata" hingga
dinamika akal bisa "menangkap" arti kematian manusia secara positif.
Kematian, sebagai fakta yang tak bisa ditolak, bukan cuma ditangkap
empiris dalam aspek-aspeknya yang negatif, tapi secara
metafisik-eksistensial "digeluti" secara bertahap sehingga tertangkap
aspek-aspeknya yang positif. Ia menjadi eksistensi kemanusiaan yang paling
radikal, saat kehampaan dan kepenuhan seorang individu bersatu dalam suatu
"momentum".

"Momentum" itu sampai detik ini tetap berupa misteri. Mungkin menakutkan,
atau justru "dirindukan/dipersiapkan". Yang terakhir itulah letak iman
seseorang - meski dengan segala kekurangan dan kelemahan, toh terus
berupaya hidup sebaik mungkin (memanusia dan mengaktualisasi diri
semanusiawi mungkin), sebab segala aktualisasi itu "kelak" jadi
kristalisasi individu terkait. "Di situ" alpha mencapai omega dan lebur di
dalamnya, individualitas lebur dalam keabadian -- "tempat/saat"
kesatuan-persatuan Sang Ma hacinta dengan segenap pencinta, terjadi secara
purna dan definitif!

L Murbandono Hs
Rakyat Biasa Warganegara RI
Tinggal di Hilversum - Nederland

----- End of forwarded message from Mung Murbandono -----

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---