[INDONESIA-VIEWS] MUNG - Bahaya Laten Komunis .....

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Thu May 10 2001 - 12:46:10 EDT


From: Mung Murbandono <mung.murbandono@rnw.nl>
To: apakabar@radix.net dll
Subject: SERIAL ARTIKEL YANG DITOLAKI KOMPAS (16) - BAHAYA LATEN KOMUNIS
Date: Thu, 10 May 2001 14:02:52 +-200

SERIAL ARTIKEL YANG DITOLAKI KOMPAS (16)

PENGANTAR

Sejak sekitar Maret 1999 sampai sampai akhir Januari 2001 artikel-artikel
kiriman saya ke koran Amanat Hati Nurani Rakyat, Kompas, Jakarta, ditolaki
melulu. Penolakan-penolakan tersebut amat bersemangat, membuat saya keok.
Maka mulai 1 Februari 2001 tuli san-tulisan yang jumlahnya lumayan banyak
itu saya publikasikan ke banyak t empat.

Yang sudah saya postingkan sampai saat ini adalah:
(1) KKN dan Moral
(2) Bhinneka Tunggal Ika
(3) Gerakan Kejujuran
(4) Habibie Center
(5) Daftar Pekerjaan Bangsa
(6) Kredibilitas Lembaga Publik
(7) Melacak Uang Haram
(8) Pers Pembela Rakyat
(9) Kebohongan yang Perkasa
(10) Kemarahan yang Beradab
(11) Rakyat Menurut Rakyat
(12) Maksud Kematian
(13) Rekonsiliasi Katolik
(14) Serakah dan "Serakah"
(15) Komunis dan Katolik

Berikut ini, daftar nomer 16 artikel yang ditolaki Kompas:

BAHAYA LATEN KOMUNIS
Oleh L Murbandono Hs

DALAM urusan PKI, saya pernah menonton dua koran RI Ibukota yang berbuat cabul ialah meloloskan tulisan orang memaki-maki PKI tanpa dasar. Sebab saya tidak suka percabulan itu, saya menulis tanggapan, dengan sekedar mengomentari butir-butir tulisan, alias
 semacam menggunakan hak jawab. Tanggapan itu disampahkan dan lenyap
seperti ditelan bumi. Mungkin karena ia tidak bermutu. Atau karena, ini
yang membuat saya cemas sekali, ia justru menyatakan hal yang benar?

Pengalaman itu memberi petunjuk, agaknya dalam urusan komunis dan PKI, di
negara kita masih terdapat jenis pers slintutan, mungkin lantaran taraf
peradaban kita masih memuat busa dan bius sisa-sisa Dasamuka Orde Baru.

Busa dan bius itulah yang agaknya membuat kita tidak mampu dan atau tidak
mau (ndablek) membedakan hal abstrak dari hal konkret. Logislah jika
urusan "bahaya laten" PKI itu tetap mbulet. Sebab sosok yang bernama
komunis dan atau PKI itu, berupa campuran
 hal konkret dan hal abstrak.

Fair dan Obyektif

Ke-mbulet-an bahaya laten PKI itu menyangkut tiga fondasi. Pertama, secara
global faham komunisme sudah tak jelas wajahnya.

Kedua, secara nasional sejarah PKI (dengan dua tonggak penting Peristiwa
Madiun dan Tragedi 1965) yang sampai detik ini dipersepsi bangsa Indonesia
sebagian besar cuma berdasar versi mitos-mitos bikinan Orde Baru yang
miskin obyektivitas dan antidialog.
 
Ketiga, "liturgi" wajib tahunan bahaya laten PKI itu, sejauh menyangkut
reformasi, sudah bisa diprediksi. Ia dilakukan sebagai upaya mengalihkan
agenda reformasi total membasmi statusquo dan menolak kultur ketogogan
Orde Baru yang muncul dengan 1001 waja h.

Tiga butir di atas memberi lima pedoman berharga bagi bangsa Indonesia
yang masih berniat mempunyai akal normal dan sehat.

Pertama, bahaya laten PKI mbulet sebab kacau antara fiksi dan fakta.

Kedua, bahaya laten Orde Baru lebih mengerikan sebab lebih konkret.

Ketiga, Orde Baru lebih mengerikan sebab mengekang akal sehat sehingga
orang tidak mampu membedakan komunisme sebagai konsep, ide, wacana ilmiah,
implementasi politik, gosip, berhala, subyek hukum, dan 1001 perwujudan
lain. Muaranya adalah khayal jalan pi kiran sempit otoriter yang
menjauhkan peradaban dari obyektivitas pluriformitas nilai dan atau
pandangan hidup.

Keempat, mengidentikkan PKI dan atau komunisme dengan iblis (ajaran Orde
Baru) itu ajaran Lucifer. PKI dan atau komunisme itu bisa positif atau
negatif tergantung waktu-tempat dan kasus-kasus tertentu, tak beda dengan
ratusan atau bahkan ribuan faham hidu p dan atau isme lain yang ada di
bumi.

Kelima, di banyak negara berperadaban tinggi yang mampu menghormati akal
normal-waras, segala faham/sikap hidup tidak diharu-biru. Mereka bebas
mengekspresikan diri. Semua diberi kesempatan dan hak hidup. Paham itu
hidup atau mati, akan diuji oleh kehidup an dalam "pertarungan pasar yang
fair".

Dalam konteks itu, berikut ini daftar pendek yang cuma tetes kecil dari
lautan samudra informasi di sekitar PKI dan G30S alias Gestok, yang
mungkin bisa membantu kita memahami ihwal-perkaranya secara lebih
obyektif.

PH Salim, The Gestapu 'Coup': Mystery Almost Solved,
IDS-Net/Paroki-Net/Indoz-Net/Apakabar-Net, 30 September 1994
 Foreign Relations of the United States 1961-1963, vol. XXIII (Southeast
Asia), US Government Printing Office, hal 491-493 dan 554-556 The Latief
Case: Suharto's Involvement Revealed, Journal of Contemporary Asia, hal
248-251.
 Amnesty International, 1977, Indonesia: An Amnesty International Report.
B Anderson dan R McVey, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 coup
in Indonesia, Cornell University, 1971.
 H Crouch, The Army and Politics in Indonesia, Cornell University Press,
1978, hal 79-81. C Holtzappel, The 30 September Movement: A Political
Movement of the Armed Forces or an Intelligence Operation?, Journal of
Contemporary Asia, 1979, 9(2), hal 216-239. J Hughes, The End of Sukarno,
Angus and Robertson, London, 1968. B May, The Indonesian Tragedy, Henley
and Boston, London, 1978. N Notosusanto dan Saleh, Coup Attempt of the 30
September Movement, 1968
 PD Scott, The United States and the Overthrow of Sukarno: 1965 - 1967,
Pacific Affairs, 1985, hal 239-264. J Southwood dan P Flanagan,
Indonesia: Law, Propaganda, and Terror, Zed Press, London, 1983, hal
155-156. U Sundhaussen, The Road to Power: Indonesia Military Politics,
1945 - 1967, Oxford University Press, 1982. E Utrecht, An attempt to
corrupt Indonesian History, Journal of Contemporary Asia, 1975, 5(1), hal
99-102. T Vitacchi, The Fall of Sukarno, Andre Deutch, 1967. WF
Wertheim, Whose Plot? -New Light on 1965 Events, Journal of Contemporary
Asia, 1979, 9(2), 197-213. Self-criticism dari PKI, AS, Inggris dan
Belanda. Tersebar di banyak buku. AM Hanafi Menggugat, bisa dicari di
internet. Berbagai tulisan kritis wartawan Willem Oltmans tentang
Nasution, Soeharto, CIA, dan bahkan pemerintah Belanda sendiri. Bisa
dilihat antara lain pada web: antenna.nl/wvi/nl/ic/bonv.html
 Enam dokumen AS, CIA, berupa telegram, yang bisa ditemukan dalam Lyndon B
Johnson Library. Enam Dokumen tersebut adalah: kode 4223 (6 Maret 1964),
16687 (21 Januari 1965), DDRS 1981:274C (26 Januari 1965), DDRS 597C (18
Maret 1965), DDRS R: 26F (14 Mei 1 965), DDRS R: 608E (Oktober 1965).
Surat Terbuka Dewi Soekarno kepada Ketua BP7. Berbagai kesaksian mantan
Napol PKI yang belakangan ini mulai bermunculan. Dan lain-lain info
sejenis. Seabrek-abrek! Misalnya, berbagai tulisan Pramoedya Ananta Toer.
Paling gamblang adalah "Nyanyi Tunggal Seorang Bisu".

Dari tetes-tetes kecil info di atas (info pendukung yang jauh lebih luas
tersedia berlimpah), agaknya pengidentikan PKI dan komunisme dengan dosa,
adalah dosa juga. Dan muara segala dosa tersebut adalah manipulasi dan
cuci otak yang jadi bagian strategi O rde Baru untuk melegitimasi
eksistensinya

Tentu, bibliografi tandingan yang isinya mendukung "keagungan" Orde Baru
juga berlimpahruah. Dan itu sudah lama berkibar-kibar di sepanjang kiprah
Orde Baru yang intinya berputar-putar di sekitar info usang yang
dikeramatkan, misalnya CIA yang clean, Dewa n Jendral dan our local army
friends yang cuma mitos, kepalsuan Dokumen Gilchrist dan dosa-dosa PKI
yang tak terlukiskan. Semasa Orde Baru info-info yang dikeramatkan itu
tanpa tanding, hingga banyak dari kita menjadi bego perkara PKI dan
ke-PKI-an. Maka
 demi obyektivitas sejarah dan pembebasan generasi mendatang dari
pem-bego-an, sudah saatnya di era reformasi ini 1001 info keramat itu
diimbangi 1001 info yang masuk akal dari kubu-kubu lain. Ini banyak sekali
jumlahnya, yang bisa ditemukan di banyak per pustakaan terhormat dan atau
pusat-pusat studi keIndonesiaan modern di berbagai tempat di dunia yang
sudah diakui reputasinya dalam sirkuit penggumulan keilmuan.

Maka, data-fakta-info dari banyak kubu, makin baik. Ihwal perkara PKI dan
komunisme bisa diusut dalam proporsi yang layak. Sebab, menyangkut tragedi
1965, dalang-dalangnya melibatkan banyak oknum sipil dan militer. Sebagian
memang orang-orang PKI. Tapi se bagian besar adalah oknum-oknum militer,
CIA, dan faktor-faktor luar negeri yang lain. Karena itu, oknum-oknum
keblinger PKI yang bertindak sebagai dalang, harus dibedakan dari massa
PKI dan atau mereka yang di-PKI-kan sebagai korban-korban game para jen
dral keblinger.

Mudah-mudahan era reformasi ini bisa membongkar segala kebohongan di
sekitar bencana nasional kita di masa lalu. Bahwa obyektivitas tragedi
masalalu itu tidak pernah bisa terbuka di Indonesia, sebab utamanya adalah
karena masih ada pers/media RI yang masi h suka muter-muter dan tunduk
pada semua Durna, Togog dan Dasamuka Nusantara yang getol mewartakan
luciferisme.

Jika luciferisme ini terselesaikan, akan tampak mana bandit dan mana
korban. Mungkin para korban akan menuntut. Ini bisa mengerikan. Mohon
semua pihak, khususnya para korban, menjadi bijak, ialah sudi berpedoman
pada satu hal: segala hal pahit yang terj adi di masalalu, adalah sejarah
yang tak boleh terulang!

Mohon hindari segala dendam yang tidak manusiawi. Mudah-mudahan para
"pendosa" secara ksatria mempertanggungjawabkan "dosa" mereka. Mungkin
diadili hakim-hakim adil yang anti KKN, bukan cuma berdasar hukum yang
berlaku, tapi berdasar produk hukum yang ber dasar nurani waras. Atau
mungkin cukup menangis di depan umum, misalnya di depan kamera televisi
independen-jujur yang mematuhi amanat hatinurani rakyat ...

L Murbandono Hs
Jurnalis/produser senior bidang Humaniora dan Budaya
pada Radio Nederland Wereldomroep, Hilversum, Nederland

----- End of forwarded message from Mung Murbandono -----

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---