[REGS] SUMUT - Musibah di Pulau Nias Akibat Penebangan Hutan

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Fri Aug 03 2001 - 18:05:03 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/04/UTAMA/musi01.htm

>Sabtu, 4 Agustus 2001
   Musibah di Pulau Nias akibat Penebangan Hutan
   * Sudah 50 Mayat Ditemukan
   Medan, Kompas
   
   Musibah banjir dan tanah longsor yang melanda Pulau Nias, Sumatera
   Utara (Sumut), sejak Senin (30/7) lalu, terkait dengan penebangan
   hutan di hulu Sungai Masio, di Kecamatan Lahusa, untuk membuka
   perkebunan nilam.Hal itu diungkapkan Gubernur Sumut T Rizal Nurdin
   setelah menerima laporan penduduk berkaitan dengan musibah ini saat
   meninjau ke lokasi bencana, Kamis (2/8). Gubernur langsung
   memerintahkan Bupati Nias Binahati B Baeha, yang mendampinginya, dan
   instansi terkait untuk menindaklanjuti laporan masyarakat itu.
   
   "Musibah ini merupakan pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati
   dalam memperlakukan alam," tegas Gubernur dalam kesempatan peninjauan
   bersama Muspida Sumut itu.
   
   Laporan-laporan yang diterima Kompas sebelum ini memang menyebutkan,
   pembabatan hutan di Pulau Nias yang terletak di hamparan Samudera
   Hindia itu terus terjadi dengan sewenang-wenang. Di samping bertujuan
   untuk membangun areal pertanian dan perkebunan, sasaran utamanya
   adalah untuk mengambil kayu-kayu bernilai tinggi di hutan-hutan yang
   dirambah. Pelakunya adalah cukong-cukong kayu dari Medan dengan
   memanfaatkan penduduk setempat.
   
   Sementara itu, laporan dari Biro Humas Pemda Sumut menyebutkan, sampai
   Kamis malam pukul 22.00, sudah ditemukan 50 mayat yang diidentifikasi
   sebagai korban bencana itu. Dari jumlah itu, 17 mayat ditemukan di
   Kecamatan Lahusa, 21 mayat di Kecamatan Teluk Dalam, enam mayat di
   Kecamatan Lolomatua, satu mayat di Kecamatan Lolowau, empat mayat di
   Kecamatan Gomo, dan satu mayat di Kecamatan Bawolato.
   
   Sementara warga yang dinyatakan hilang masih berjumlah 114 orang,
   masing-masing 99 orang di Lahusa, sembilan orang di Teluk Dalam,
   seorang di Lolomatua, dan lima orang di Gomo. Rumah yang hanyut dan
   rusak 325 unit, gedung sekolah dan gereja masing-masing satu unit
   serta empat jembatan putus.
   
   Masih terisolasi
   
   Sementara itu, wartawan Kompas yang saat ini berada di lokasi bencana
   tadi malam melaporkan, walau bencana alam dan tanah longsor sudah
   berlangsung tiga hari, penyebaran bantuan masih tersendat-sendat
   akibat putusnya beberapa ruas jalan.
   
   Putus total terjadi di Desa Bawodabara, Kecamatan Teluk Dalam, akibat
   terputusnya jembatan di Sungai Zava. Selain itu, di Desa Hiliganowo,
   sekitar 10 kilometer utara Bawodabara, jalan raya longsor ke laut pada
   dua tempat sehingga tak bisa dilalui mobil.
   
   Kerusakan paling parah terjadi di Kecamatan Gomo yang membuat wilayah
   ini terisolasi. Jalan dari Kecamatan Lahusa ke Kecamatan Gomo putus
   total akibat tanah longsor di Desa Bawolato, Kecamatan Lahusa. Desa
   Bawolato sendiri sebagian besar rata dengan tanah akibat Sungai Masiho
   yang melaluinya meluap sampai setinggi 2,5 meter dari permukaan
   normalnya.
   
   Hal yang sama juga diungkapkan Gubernur Sumut T Rizal Nurdin melalui
   Biro Humasnya Sakhyan Asmara. Dikatakan, kondisi desa-desa yang
   dilanda banjir dan longsor sangat parah. Apalagi pada malam hari
   sangat mencekam karena listrik padam, sementara hubungan telepon
   terputus. Belum lagi rakyat terus tercekam dalam ketakutan karena
   banjir dan longsor tampaknya terus mengancam akibat cuaca yang tidak
   bersahabat.
   
   Rentan longsor
   
   Pakar teknik geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr
   Dwikorita Karnawati, yang dihubungi Jumat kemarin, berpendapat,
   fenomena hujan di atas normal sepanjang Juli hingga akhir tahun 2001
   di wilayah Pantai Barat Aceh, Sumatera Utara, serta pulau-pulau di
   sebelah baratnya, sangat rentan terhadap longsor. Faktor cuaca
   tersebut bisa membuyarkan peta penafsiran kerentanan gerakan tanah.
   Indikasinya, Pulau Nias yang ditafsirkan masuk dalam zona kerentanan
   rendah, malah belakangan ini mengalami longsor dan menelan puluhan
   jiwa.
   
   Ia mengungkapkan, Peta Penafsiran Kerentanan Gerakan Tanah di
   Indonesia terbitan Direktorat Geologi Tata Lingkungan (skala
   1:5.000.000) menunjukkan bahwa wilayah Pantai Barat Aceh dan Sumut
   serta wilayah Pulau Simeuleu, Kepulauan Banyak, Pulau Tuangku, dan
   Pulau Nias, termasuk sebagai zona kerentanan longsor menengah hingga
   rendah.
   
   Akan tetapi, dengan adanya hujan di atas normal, zona-zona yang semula
   ditafsirkan relatif aman sangat berpotensi mengalami longsor. Dia
   mencontohkan, longsoran yang terjadi di Purworejo (Jawa Tengah), Kulon
   Progo (DIY), dan Banten, November 2000 justru terjadi di zona yang
   ditafsirkan pada kerentanan menengah hingga rendah. "Hujan di atas
   normal harus disikapi dengan kewaspadaan adanya longsor susulan di
   Pantai Barat Aceh dan Sumatera Utara, serta pulau-pulau di sebelah
   baratnya," kata Dwikorita.
   
   Bantuan mengalir
   
   Sementara itu, Samson Zai, staf Posko Penanggulangan Bencana Alam
   Pulau Nias yang dihubungi di Gunungsitoli, ibu kota Kabupaten Nias
   mengemukakan, bantuan sosial untuk para korban terus mengalir ke Posko
   Penanggulangan Bencana Alam di Gunungsitoli. Saat ini mereka telah
   menerima bantuan uang kontan Rp 273,5 juta, yang Rp 200 juta di
   antaranya dari Pemerintah Provinsi Sumut. Mereka juga telah menerima
   bantuan pangan dan obat-obatan. Bantuan juga datang dari TNI AD dan
   TNI AU, baik berupa bahan pangan maupun lainnya dalam upaya
   meringankan beban para korban yang sedang dalam kesusahan itu.
   
   Dari Markas Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar), telah dikirim
   sejumlah bantuan berupa 20 ton beras serta sembako lainnya ke Pulau
   Nias. "Panglima Komando Armabar Laksamana Muda SI Putu Ardana juga
   telah memerintahkan untuk mengirim pesawat patroli untuk dapat
   membantu melakukan pencarian korban yang masih belum ditemukan. Hal
   ini akan dilakukan bersama tim SAR," kata Kepala Dinas Penerangan
   Armabar Letkol Laut Suhaebin, Jumat.
   
   Selain itu, tambahnya, pihak Komando Armabar juga telah membuka posko
   bantuan sejak 1 Agustus lalu. "Posko tersebut juga dapat menerima dan
   segera menyalurkan bantuan yang akan diberikan masyarakat.
   Masing-masing untuk warga Sumatera Utara bisa langsung menghubungi
   Lantamal I Belawan di nomor telepon 061-6941426," jelasnya.
   
   Akan halnya mereka yang berada di Jakarta dan ingin memberikan uang,
   pakaian bekas, atau bahan makanan, tambah Kepala Dispen Armabar, dapat
   mengirimnya ke Markas Komando Armabar di Jalan Gunung Sahari 67,
   Jakarta Pusat. Bisa juga dengan menghubungi telepon 021-4246145,
   42880616, dan 4241677. "Untuk mengirim bantuan yang akan diberikan
   masyarakat, sudah disiapkan tiga KRI jenis LST (Landing Ship Tank) dan
   pesawat udara," katanya.
   
   Palang Merah Indonesia (PMI) bersama dengan Federasi Palang Merah dan
   Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) juga mengirimkan bantuan dan
   tim assessment ke daerah bencana di Pulau Nias. Pesawat Hercules yang
   membawa bantuan dari Jakarta sudah tiba di Sibolga untuk kemudian
   diteruskan ke Nias dengan helikopter. Demikian dikatakan Ketua Umum
   PMI Mar'ie Muhammad saat menerima bantuan dari PT Caltex Pacific
   Indonesia berupa uang sebesar Rp 250 juta dan dari
   PricewaterhouseCoopers yang tidak disebutkan jumlahnya di Kantor Pusat
   PMI, Jakarta Selatan, Jumat.
   
   Posko Bantuan Bencana Nias (PBBN) yang diprakarsai oleh Yayasan Dian
   Nias/Nias Community Forum mulai menerima bantuan berupa bahan makanan,
   dan juga sumbangan pakaian-pakaian bekas. ''Direncanakan mulai Kamis
   ini akan segera dikirimkan ke Nias melalui kapal yang akan berangkat
   ke Nias dari Tanjung Priok,'' ujar Fenueli Zalukhu, Ketua Posko
   Bantuan Bencana Nias.
   
   Perhatian dan simpati masyarakat terus mengalir dari seluruh wilayah
   Indonesia untuk membantu masyarakat yang terkena bencana di Nias.
   Bahkan, ada beberapa sumbangan yang diterima dari warga yang tinggal
   di luar negeri, ujar Amaano Lase, yang kemarin giliran menjaga posko.
   
   NCF bersama beberapa tokoh Nias juga telah menerima bantuan dari
   Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) yang diserahkan
   secara simbolis oleh ketuanya Mayjen (Purn) Teddy Yusuf.
   
   Adapun pembaca yang mau memberi bantuan untuk korban bencana alam di
   Nias, baik berupa uang maupun barang, silakan menghubungi Posko
   Bantuan Bencana Nias (PBBN), Jalan Kemang II No 39 Jakarta Telp/ Fax:
   021-71791136; 7197727-24, 0816-1669503; 0812-9392000 e-mail:
   niascom@cbn.net.id, rekening Bank BCA Cabang Kemang No 286-115276.8
   atas nama Fenueli Zalukhu. (sp/arb/nar/nic/p05)
     

---
HOMEPAGE: Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---