[REGS] KALTIM - Kabupaten Bulungan

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon Aug 20 2001 - 17:56:58 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/21/nasional/kabu08.htm

>Selasa, 21 Agustus 2001
   Kabupaten Bulungan
   DEBU pekat berwarna kecoklatan berhamburan masuk melalui kaca jendela
   mobil yang terlambat ditutup. Sesaat debu jalanan itu menutupi kaca
   depan, sehingga menghalangi pandangan. Badan jalan provinsi yang
   menghubungkan Kabupaten Berau dengan Kabupaten Bulungan di Provinsi
   Kalimantan Timur pun tidak tampak jelas. Kejadian serupa kembali
   berulang setiap ada kendaraan yang melaju di depan atau melintas dari
   arah berlawanan.Dari tetangganya, Kabupaten Berau yang berada di
   sebelah selatan, Kabupaten Bulungan bisa dijangkau melalui jalan
   darat. Kondisi jalan sepanjang 122 kilometer ini hanya sebagian kecil
   beraspal halus, selebihnya jalanan tanah berbatu-batu. Jalan ini juga
   dilalui truk pengangkut kayu, yang keluar masuk dari puluhan lorong di
   tepian jalan.
   
   Sepanjang perjalanan dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau ke
   Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan, yang makan waktu 2,5 jam,
   terlihat pelataran luas penuh kayu kering. Beberapa menunjukkan sisa
   pembakaran untuk membuka ladang. Lainnya merupakan bukti pemanfaatan
   dan pengeksploitasian sumber daya hutan yang tidak mengabaikan faktor
   kelestarian alam.
   
   Kabupaten Bulungan memiliki hutan 3,9 juta hektar. Dari luas itu, 36
   persen merupakan hutan produksi tetap dan terbatas. Dalam catatan
   Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Kabupaten Bulungan, terdapat 12 pemilik
   hak pengusahaan hutan (HPH) dengan luas areal 1,3 juta hektar. Untuk
   menggarap areal hutan yang menjadi haknya, perusahaan kayu itu
   membekali diri dengan 455 peralatan pengusahaan hutan dan 1.018 tenaga
   kerja dari negeri sendiri.
   
   Produksi kayu bulat tahun 1999/2000 sebesar 391.012,71 meter kubik,
   dengan jenis terbanyak kayu meranti 69,4 persen. Jumlah keseluruhan
   produksi itu hanya 5,4 persen dari total produksi kayu bulat
   Kalimantan Timur yang 7,3 juta meter kubik. Produksinya masih jauh di
   bawah CDK Mahakam Tengah yang berkedudukan di Tenggarong yang
   menghasilkan 2,8 juta meter kubik.
   
   Sama seperti daerah lainnya di Provinsi Kaltim yang mengandalkan hasil
   hutan, Kabupaten Bulungan tidak luput dari tudingan "membiarkan"
   deforestasi di wilayahnya. Berdasarkan Forestry Agreement, pengusaha
   HPH berkewajiban melakukan serangkaian kegiatan penanaman. Kegiatan
   itu meliputi penanaman perkayaan (Tebang Pilih Tanam Indonesia/TPTI),
   penanaman kiri-kanan jalan HPH, penanaman areal tanah kosong, dan
   pembangunan hutan tanaman industri (HTI). Cara ini diharapkan terjadi
   pembangunan dibidang kehutanan yang bersifat berkesinambungan.
   
   Namun, pemegang HPH lebih banyak yang bekerja tebang-lari (cut and
   run) serta berorientasi pada profit belaka. Ibarat kakek yang tanam,
   cucu yang tebang, pengusaha tentu enggan bersusah payah menanam pohon
   yang hasilnya nanti belum tentu dinikmati. Realisasi penanaman kembali
   areal yang ditentukan, tidak ada yang memenuhi target. Dari 10.433,20
   hektar yang ditargetkan untuk ditanami, realisasinya hanya 47 persen.
   
   Dari Iuran Hasil Hutan (IHH) misalnya, kas daerah menerima Rp 1,6
   milyar. Perolahan ini jauh lebih tinggi dari Rp 600 juta yang
   ditargetkan. Potensi hasil hutan ikutan seperti rotan, kulit kayu, dan
   sarang burung juga memberikan hasil tambahan. Realisasi perdagangan
   rotan di kabupaten ini 47.000 ton, kulit kayu 60.000 ton, dan sarang
   burung 0,160 ton. Retribusi yang diterima Pemda Kabupaten Bulungan
   dari Izin Pengambilan Hasil Hutan Ikutan (IPHHI) ini Rp 64,9 juta,
   lebih tinggi Rp 14,9 juta dibandingkan target yang dianggarkan.
   
   Tidak bisa dimungkiri, hasil hutan Bulungan merupakan penunjang utama
   perekonomian wilayah seluas 18.010,50 kilometer persegi ini. Dalam
   kegiatan perekonomian kabupaten Rp 535,4 milyar, subsektor kehutanan
   memberi Rp 205,8 milyar. Hasil dari subsektor ini membuat sektor
   pertanian menjadi penyumbang terbesar yakni 53,03 persen.
   
   Selain hasil hutan, wilayah ini juga mengandalkan pemasukan dari
   subsektor minyak dan gas bumi. Kegiatan di subsektor ini menghasilkan
   98,6 persen dari Rp 124,3 milyar kegiatan ekonomi di sektor
   pertambangan dan penggalian. Daerah penghasil minyak dan gas bumi itu
   adalah Pulau Bunyu di Kecamatan Bunyu, satu dari lima kecamatan di
   Kabupaten Bulungan.
   
   Dulu Kabupaten Bulungan memiliki 15 kecamatan. Namun, pada bulan
   Oktober 1999, dari wilayah ini dibentuk dua kabupaten baru yaitu
   Kabupaten Nunukan dan Malinau dengan masing-masing lima kecamatan.
   Dengan pembentukan kabupaten baru itu, kecamatan di Kabupaten Bulungan
   tinggal lima.
   
   Pulau Bunyu masuk dalam catatan sejarah perkembangan migas di
   Indonesia. Di pulau seluas 162 kilometer persegi ini diresmikan kilang
   metanol pertama di Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986. Kilang yang
   luas areal pabriknya 379.833 meter persegi itu dibangun dengan tujuan
   memanfaatkan gas alam menjadi metanol. Produksi gas alam yang
   dihasilkan sekitar 5,5 mmscfd (million standard cubic feet per day).
   Hasil ini mampu mencukupi kebutuhan metanol dalam negeri, yang antara
   lain digunakan untuk bahan baku perekat kayu lapis. Setelah kebutuhan
   dalam negeri 500 ton-2.500 ton per bulan tercukupi, kelebihannya
   diekspor ke Amerika, Korea, Jepang, dan Taiwan. Dari 35,9 juta kg
   metanol yang diekspor tahun lalu diperoleh devisa 1.656.192 dollar AS.
   (BE Julianery/ Litbang Kompas)
     

---
Email all postings in plain text (ascii) to apakabar@radix.net
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH YEAR 2000+ POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
SEARCH 1990-1999 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net/search-all.html>
HOMEPAGE: Lists, Databases & Links Center - <http://www.indopubs.com>
---