[L] LENG - Pariaji Mistik Karismatik!

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Wed Aug 22 2001 - 10:57:29 EDT


Date: Wed, 22 Aug 2001 06:36:19 -0700 (PDT)
From: Timur Leng <kadungngetan@yahoo.com>
Subject: PARIAJI MISTIK KARISMATIK
To: APAKABAR@RADIX.NET

PARIAJI MISTIK KARISMATIK!

Setuju sekali. Jika dunia saat ini diperkirakan sudah
masuk jaman akhir.
Sebab tanda2nya. Memang sudah nyata. Peperangan antar
negara,
Antar suku bangsa. Kesenangan akan ibadah yang hampa,
malah
Orangnya tambah jahat. Ya, contohlah negeri Indonesia.

Mana bisa kita mungkir?
Menarik bagi kita. Dan patut berterima kasih kepada
Apakabar.
Bukannya Mengkritik sebagai tempat nulisnya orang
sakit jiwa.
Kata seorang penuduh.Yang akhirnya ketularan sakit
jiwa? Karena rajin menulis juga.
Berterima kasih. Karena menyajikan berpuluh media
baca. Melalui Ruangannya. Kita bisa membaca majalah
Bahana.
Tentang Pariaji. Pariaji yang dikenal sebagai bekas
ajudan Suharto yang bertobat. Jadi Karismatik.
Ia cepat ternama dan bertambah kaya. Senang ibadah di
hotel2 mewah.
Dan uang pendapatannya luar biasa besar. Kata orang
gereja yang senang putar2.
Sekarangpun bertitel pendeta tanpa gereja. Sama dengan
Lomo Indong Cs.
Mengapa juga tulisan bahana dikutip? Agar supaya pihak
Kissnade punya keseimbangan.
Bahwa ada Kristen yang berani menyatakan yang tidak
benar di kalangannya.
Jika memang salah,Ya akuilah itu tidak benar.
Misalnya mungkin juga. Kita benarkankah Islam Taliban
Atau laskar Jahad (kata Joshua?) Yang ternyata
didandani oleh Eggy Sujana?
Beberapa milist ada yang jeli. Melihat sumber
malapetaka di Indonesia
Bisa berakarkan pada pengajaran agama2 yang sudah
nyeleweng dari pakemnya
Bahkan pemerintah Malaysia mengakui juga
adanya laskar Jihad yang diimport ke Nusantara.
Satu pengakuan negeri Islam yang patut dihargai.
Sebelum malapetaka menyebar luas.
Kejujuran! Kejujuran kata bekas presiden yang
digulingkan. Menjadi pembuka Kearah kemerdekaan
bangsa.
Bahaya negara, bisa diawali dengan riak riak gelombang
yang terjadi di sekitar orang beragama.
Yang jadi sakit jiwa,tapi ujudnya seperti orang waras.
Seperti Hitler.
Maka Kloningpun jadi bahan perdebatan. Karena manusia
pandai, sudah hampir Dipastikan bisa membentuk
manusia, menurut apa maunya. Dengan mencetak
Ulang, orang orang heibat. Mau macam Hitlerkah? Atau
macam Gandhikah?
Dunia ilmupun sekarang memasuki tantangan luar biasa.
Tentu celakalah.
Jika orang sakit jiwa berujud waras, memperoleh
kesempatan utk berkarya.
Sama sama celaka. Dengan pemimpin agama yang nampak
waras.Tapi Sebenarnya sakit jiwa. Klenik, mistik
bercampur munafik. Memang kini menarik.
Kiranya para pemeluk segala agama.
Boleh diajak jujur untuk mengoreksi
Kebenaran setiap pengajarannya.
Agar jangan jadi sumber konflik.
Satu contoh baik yang kita dapatkan sekitar Kristen
Karismatik pendeta Pariaji.
Adanya hawa agama Kristen yang sangat menyesatkan.
Tetapi sangat disenangi.
Sebagai tanda jaman akhir. Malaikat Terang (iblis)
adanya di gereja/persekutuan2
Cinta uang,cinta diri, senang berbohong.

TANGGAPAN MENGENAI BERITA PDT. DRS. Y. PARIADJI
Saya sungguh kecewa membaca BAHANA (April 2001) yang
memuat berita Pdt. Pariadji sebab biasanya BAHANA
teliti dalam memuat suatu berita. Mengapa? Sebab
jelas-jelas pengajaran Pdt. Pariadji tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan saya
menghakimi, tetapi memang apa yang diajarkan mengenai
banyak hal tidak ada dasar firmannya. “Kebenarannya”
hanya versi Pariadji pribadi. Dengan kata lain
(sejujurnya) pengajarannya sudah sesat terlalu jauh
dan sangat mengerikan. Bukti-bukti yang nyata atas
kesesatan pengajaran Pdt. Pariadji dapat saya
tunjukkan sbb: 1. Pdt. Pariadji menuliskan “Hanya
Pendeta yang bisa menyembuhkan” (Warta Jemaat GBI
Tiberias, no. 640, 18 Maret 2001). Pertanyaannya: Di
Alkitab ayat mana yang menuliskan “Hanya Pendeta yang
bisa menyembuhkan?” Orang Kristen awam atau anak-anak
Sekolah Minggu saja tahu, kalau yang bisa menyembuhkan
itu hanyalah Tuhan bukan Pendeta seperti kata
Pariadji. Pendeta, bahkan dokter yang saleh sekalipun
(kecuali yang ateis), selalu mengatakan: bahwa mereka
hanyalah sarana, sumber penyembuh adalah Tuhan! 2.
Tampak sekali dalam pengajaran Pdt. Pariadji, Yesus
yang mestinya menjadi sentral hidup dan pengajaran
orang Kristen digeser dan diganti dengan minyak urapan
dan perjamuan kudus bahkan ke dirinya sendiri. Oleh
Pdt. Pariadji perjamuan kudus dan minyak urapan
dipromosikan (seluruh isi buletin yang dibuat Pdt.
Pariadji bertuliskan “dengan kuasa minyak urapan”,
“dengan kuasa perjamuan kudus”. Mengapa bukan “Tuhan
yang berkuasa” tapi “minyak urapan yang berkuasa?”
Minyak urapan oleh Pdt. Pariadji telah diubah menjadi
jimat yang tidak saja bisa dipakai untuk menyembuhkan
penyakit apa pun, tapi juga: melancarkan
saluran-saluran air yang mampet (Warta Jemaat GBI
Tiberias 18 Februari 2001), memanggil burung walet
yang sudah pergi dari sarangnya, membuat produktif
pohon-pohon durian bangkok yang tidak berbuah (Warta
Jemaat GBI Tiberias 28 Januari 2001). Pdt. Pariadji
secara gencar setiap Minggu mengiklankan Perjamuan
Kudus dan minyak urapannya di koran “Suara
Pembaharuan” dan media lain. Kita harus kembali ke
Alkitab. Menurut Alkitab perjamuan kudus tidak boleh
diiklankan dan dipromosikan menjadi semacam jimat
ampuh untuk menyembuhkan. Rasul Paulus telah membahas
hal ini secara khusus dalam 1 Korintus 11:17-34. Hal
ini Paulus lakukan karena telah melihat penyimpangan
makna perjamuan kudus sebagaimana ditetapkan Tuhan
Yesus. Dalam keseluruhan ayat di atas, juga dalam
seluruh Alkitab PB kita tidak menemukan satu pun
upacara perjamuan kudus dilakukan untuk tujuan
penyembuhan. Soal minyak urapan yang dijadikan
rebutan, yang secara sadar dijelmakan menjadi “jimat”,
disadari atau tidak hal itu telah menyimpang dari iman
dan pengharapan kita kepada Kristus yang hidup dan
berkuasa dan beralih ke “kuasa minyak urapan”.
Misalnya Pdt. Pariadji mengajarkan bahwa jenasah harus
diolesi minyak urapan dengan alasan kalau tidak diberi
minyak urapan, mayatnya akan diperebutkan oleh Iblis.
Pengajaran yang demikian mana ayatnya? Soal
argumentasi, bahwa banyak juga orang yang sembuh
dengan minyak urapan, Mangapul Sagala, M.Th. (Majalah
Dia, edisi 1/2001) dengan jelas menuliskan: Mungkin
ada yang berkata, “Tetapi kenyataannya kan ada juga
yang sembuh?” Soal sembuh atau tidak bukan itu yang
terutama, tapi kebenaran firman Tuhan harus
diberitakan, iman jemaat dibangunkan. Soal
penyembuhan, dukun pun dapat menyembuhkan. Bahkan
menyedihkan sekali, karena dukun tersebut memakai
ayat-ayat firman Tuhan juga, memegang salib juga serta
mengangkat-angkatnya dalam proses penyembuhan
tersebut. Dan lagi, kalau iman jemaat diserongkan,
dari pribadi Kristus kepada kesembuhan, bukankah setan
dan kuasa kegelapan pun akan senang membantunya?
Itulah sebabnya saya bersyukur mendengar kesaksian
seorang ibu yang sudah divonis dokter mengidap kanker,
tetapi tetap menolak untuk pergi ke kebaktian (yang
diadakan oleh Pdt. Pariadji, red). Alasannya, “Saya
tidak sejahtera dengan pengajarannya, juga dengan cara
mengadakan perjamuan kudus yang direndahkan dari
maknanya.” 3. Pdt. Pariadji mengatakan: Waktu rohnya
diundang Tuhan menghadap takhta-Nya di surga dengan
diantar Rasul Petrus ia menuliskan ia “memasuki tangga
Roh Kudus”. Rupanya menurut Pariadji Roh Kudus
bersifat daging yang memerlukan tangga untuk naik
turun! Padahal Tuhan Yesus sudah menegaskan: “Allah
itu Roh.” (Yoh. 4:24). 4. Juga kepada
pendeta-pendeta besar seperti: Pdt. Dr. Petrus
Octavianus, Pdt. Gilbert Lumoindong, S.Th., Pdt. Dr.
Japarlin Marbun, Pdt. Drs. Juda D. Mailool yang telah
menjadi pengkhotbah tetap di Gereja GBI Tiberias milik
Pdt. Pariadji, seharusnya Bapak-bapak sebagai “hamba
Tuhan”, yang notabene “hamba kebenaran”, jangan hanya
berbicara yang “aman-aman”, tapi bicarakan tentang
kebenaran. Jangan bicara yang disukai Pdt. Pariadji
tapi bicarakan yang disukai Tuhan. Meluruskan yang
bengkok adalah tanggung jawab Bapak-bapak juga, bukan
hanya mencari “aman” bahkan lebih-lebih takut
kehilangan “amlop” atau fasilitas bernilai jutaan!
Saya khawatir, nanti Bapak-bapak dibilang hamba uang
bukannya hamba kebenaran! Jusuf Sukrina Alamat ada di
Redaksi
 

----- End of forwarded message from Timur Leng -----