[REGS] KALTIM - Sejarah Panjang Tambang Emas Rakyat Kelian

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon Aug 27 2001 - 10:42:33 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/27/daerah/seja25.htm

>Senin, 27 Agustus 2001
   Sejarah Panjang Tambang Emas Rakyat Kelian
   Kompas/m suprihadi
   [BUTTON]
   SEJAK lama daerah aliran Sungai Kelian di pedalaman Kalimantan dikenal
   sebagai daerah tambang emas rakyat. Di kalangan pemburu emas
   mancanegara, Kelian bahkan disebut sebagai kawasan sabuk emas
   Kalimantan (Kalimantan Gold Belt).
   
   Usaha penambangan emas oleh masyarakat setempat di Kelian diperkirakan
   baru dimulai setelah tahun 1930. Sebab, para geolog Belanda yang
   melaporkan adanya penambangan batu bara sekitar enam kilometer dari
   muara Sungai Kelian pada awal tahun 1930-an tidak melaporkan adanya
   penambangan emas.
   
   Penemuan emas oleh suku Dayak yang berdiam di pinggir sungai itu baru
   dilaporkan pertama kalinya tahun 1950-an. Menurut catatan pemerintah,
   tahun 1958-1963 dihasilkan emas 100-300 kg per tahun. Tetapi, diduga
   emas yang didapatkan lebih besar dari yang tercatat itu.
   
   Setelah tahun 1963, penambangan emas itu terhenti. Kemudian, pada
   tahun 1979 kembali ramai menyusul naiknya harga emas. Tidak kurang
   dari 10.000 pendatang mengadu nasib di sana. Pada 1986, penambangan
   tradisional itu dibantu dengan mesin penyedot air. Diperkirakan tidak
   kurang 20 ton emas aluvial telah disedot dari sungai ini sejak tahun
   1955.
   
   Dalam buku Merana di Tengah Kelimpahan, yang ditulis Dianto
   Bachriadi-diterbitkan Elsam (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat)
   cetakan pertama (1998)-disebutkan bahwa usaha pertambangan rakyat di
   Sungai Kelian memiliki sejarah panjang sejak tahun 1948. Ketika itu
   beberapa orang Dayak Kayan menemukan emas di hulu Sungai Kelian.
   
   Daerah itu tidak berpenghuni, tetapi secara kultural menjadi bagian
   dari teritorial budaya suku Dayak Bahau yang tinggal di daerah muara
   Sungai Kelian. Sebenarnya, orang Bahau mengetahui adanya potensi emas
   di daerahnya, tetapi saat itu mereka belum tahu kalau pasir berwarna
   kuning mengkilap itu bernilai ekonomis. Mereka baru tahu nilai
   ekonomis emas ketika orang-orang Dayak Kayan yang pernah menambang
   emas di daerah Sarawak (Malaysia) menemukan dan kemudian menambang
   emas di sana.
   
   Sejak itu, mulai berdatangan orang Dayak dari berbagai subsuku untuk
   menambang di Kelian, antara lain Dayak Uk Murung, Siang Murung, Uk
   Ddaung, Bakumpay, Kayan, Tunjung, Benuaq, dan Bahau. Tahun 1949,
   mereka bersepakat mendirikan permukiman bersama di Loa Tapu.
   
   Kompleks permukiman di Loa Tapu itu terus berkembang, bahkan
   dilaporkan mereka sempat mendirikan sekolah swasta. Selain menambang,
   mereka juga berladang, mencari ikan, dan mengambil rotan serta damar
   di kawasan hutan sekitarnya.
   
                                    ***
                                      
   DALAM versi hampir sama, Lembaga Kesejahteraan Masyarakat Tambang dan
   Lingkungan yang mendampingi warga dalam menuntut ganti rugi ke PT
   Kelian Equatorial Mining (KEM) disebutkan, usaha penambangan rakyat
   telah dimulai tahun 1949. Saat itu serombongan orang Dayak Panihing
   menemukan butiran emas di Sungai Kelian. Sepekan, mereka bisa
   mengumpulkan butiran emas satu botol minuman limun.
   
   Emas itu mereka bawa ke Longiram. Di sana ada dua tukang emas etnis
   Tionghoa bernama Atjip dan Tjin Bjie. Emas itu ternyata diketahui
   berkadar 70 persen dan dihargai Rp 10 per gram. Sejak itu masyarakat
   berduyun-duyun datang mendulang emas.
   
   Lokasi penambangan rakyat itu tersebar di sepanjang Sungai Kelian
   seperti di Gah Pahang, Gah Biru, Gah Cincang, Gah Busra, Gah Tukul,
   Gah Lalang, Gah Pal, Gah Sadiah, Sungai Belengyan, Batu Mak, Batu
   Bidawang, Gah Batang, Muara Buang, Gah Donggo, Gah panjang, Gah kubur,
   Muara Nakan, Prampus, Gah Sombin, gah Bujang, Gah Macan, Loa Tepu, Gah
   Ekong, Gah Punan, Gah Kenyah, Sungai Jiu, Sungai Kelian Hulu, dan
   Magerang.
   
   Berdasarkan informasi adanya penambangan rakyat itulah sejumlah geolog
   dari Rio Tinto-perusahaan dari Inggris-melakukan eksplorasi seperti
   yang dilaporkan Theo van Leeuween dalam tulisannya Penemuan Cebakan
   Kelian dan Pinang (Warta Kelian edisi Mei-Juni 1998).
   
   Tahun 1975, edisi pertama dilakukan oleh geolog Eris Toh dan Duncan
   Large. Mereka menemukan banyak cebakan emas di sepanjang Sungai
   Kelian, tetapi kandungannya terlalu rendah. Meski demikian, mereka
   yakin ada sumber primer emas tidak jauh dari situ. Sayangnya, tim ini
   harus menghentikan pencariannya karena banyak yang terserang malaria.
   
   Pencarian kemudian dilanjutkan geolog Ken Ferguson dengan menyusur ke
   hulu Kelian dan Prampus. Mereka pun tidak banyak menemukan emas. Pada
   tahun 1978, pencarian mulai dengan pengeboran. Tetapi, hasilnya juga
   mengecewakan, karena kadarnya lebih rendah dari yang di permukaan.
   
   Ketika tahun 1979 harga emas mulai naik dan ditambah dengan penilaian
   ulang geologi, pencarian kembali dilakukan. Saat itu, penambang rakyat
   semakin banyak. Pada tahun 1980-1981, ada sekitar 40 lubang dibor lagi
   dan menunjukkan kemungkinan kandungan sebesar 20-30 ton berkadar 2 g/t
   emas. Proyek ini akhirnya ditangguhkan menunggu penandatanganan
   kontrak karya (KK). PT KEM memegang KK berdasarkan persetujuan
   Presiden RI No B06/ Pres/1 985 dengan luas mencapai 286.233 hektar.
   
                                    ***
                                      
   BERSENJATAKAN perjanjian kontrak karya itu, dimulailah babak baru
   penambangan modern. Untuk itu, penambang tradisional yang tinggal di
   sana harus tergusur. Dan seperti lazimnya pelaksanaan proyek
   pembangunan di zaman Orde Baru, represi terhadap masyarakat pun
   dilakukan. Sebanyak 444 keluarga yang tinggal di kawasan kontrak karya
   dimukimkan sekitar sembilan kilometer dari lokasi penambangan.
   
   Mereka berkali-kali mengajukan tuntutan tambahan ganti rugi, tetapi
   masih belum berhasil. Sebagian masyarakat kemudian kembali menambang
   emas di seberang areal KEM. Makin lama jumlahnya makin banyak. Saat
   ini sekitar 500 keluarga bermukim di kawasan itu dengan mengoperasikan
   lebih dari 100 mesin penyedot lumpur.
   
   April 2001, aksi mereka mencapai puncaknya dengan memblokade jalan
   masuk ke areal KEM. Aktivitas di lokasi penambangan pun macet selama
   40 hari.
   
   Sekarang, ketika KEM sudah mencanangkan penutupan tambang, nasib para
   penambang tradisional itu belum pasti. Mereka tetap mengincar lokasi
   KEM jika potensi emas di luar sudah habis.
   
   Dan ketika KEM sedang gencar-gencarnya melakukan upaya memberdayakan
   masyarakat, "tetangga" sebelah itu tampaknya belum tersentuh. Maka,
   cukup beralasan kekhawatiran Koordinator Aliansi Pemantau Kebijakan
   Sumber Daya Alam Kaltim, Niel Makinuddin bahwa potensi bencana justru
   akan terjadi saat KEM sudah angkat kaki dari Kelian. Penambang
   tradisional yang tak menguasai teknologi itu dikhawatirkan akan
   menambang sekitar "danau bekas sumur tambang KEM" yang sudah penuh air
   atau di danau penampungan limbah KEM. (ful/msh)