[REGS] RIAU - Pulai Karimun dan Pekerja Seks Anak

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Tue Aug 28 2001 - 20:03:28 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/29/UTAMA/pula01.htm

>Rabu, 29 Agustus 2001
   Pulau Karimun dan Pekerja Seks Anak
   Kompas/sonya hellen sinombor
   [BUTTON]
   CERITA perdagangan anak (child trafficking) menjadi pekerja seks
   komersial (PSK) di Pulau Tanjung Balai Karimun, Provinsi Riau-satu jam
   perjalanan laut dari Pulau Batam- bukan isapan jempol belaka. Di pulau
   yang memiliki luas daratan 1.524 km2 dan laut 6.460 km2, serta
   berpenduduk 162.829 jiwa ini, perdagangan anak menjadi PSK sangat
   mudah dilihat dengan mata telanjang di berbagai sudut kota.
   
   Berjalanlah mengelilingi kota dengan naik ojek, angkutan kota atau
   taksi. Akan terlihat anak-anak berumur belasan tahun bersama
   perempuan-perempuan dewasa nongkrong di depan kelab-kelab hiburan
   malam pada siang, sore, dan malam hari.
   
   Di setiap satu tempat hiburan seperti karaoke, dari sekitar 30 orang
   PSK, rata-rata terdapat belasan anak yang datang dari berbagai daerah,
   seperti Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Penggunaan kata "anak-anak" di
   sini mengacu pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Anak
   tahun 1989 dan di Indonesia diikuti dengan Keppres Nomor 36 Tahun 1990
   yang menyebutkan sampai usia 18 tahun adalah anak-anak.
   
   Khusus untuk yang masih perawan, biasanya mami, ibu asuh PSK,
   menyimpannya dulu dalam sebuah tempat khusus. Anak-anak perawan ini,
   seperti barang dagangan, ditenderkan kepada pelanggan yang sering
   jajan ke karaoke atau kelab malam.
   
   Tergantung negosiasi antara si hidung belang dengan si mami, remaja
   itu dihargai Rp 5 juta-Rp 8 juta, seperti pengakuan tiga remaja putri
   dari Medan yang hampir dijual sebagai PSK, tetapi berhasil digagalkan
   pada bulan April lalu. Bayaran ini jauh lebih besar ketimbang PSK yang
   dibayar Rp 200.000 setiap booking. Uang sebesar itu, bagi lelaki
   hidung belang yang umumnya dari Singapura dan sebagian kecil Malaysia,
   bukanlah masalah.
   
                                    ***
                                      
   ADA usaha dari Pemerintah Kabupaten Karimun mengatasi praktik
   prostitusi yang terjadi di dekat rumah-rumah penduduk dengan menyusun
   rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang pelanggaran kesusilaan.
   Raperda itu lebih banyak mengatur PSK yang notabene adalah perempuan
   sehingga sangat bias jender. Ketua Komisi IV DPRD Karimun, Rina Dwi
   Lestari, SIP, mengkritik rancangan itu sebagai tidak menyelesaikan
   masalah karena tidak menyentuh sindikasi perdagangan perempuan dan
   anak di dalamnya. Karena posisi geografisnya yang masuk di dalam jalur
   pertumbuhan Riau-Singapura-Johor (Sijori) dan keadaan ekonominya, ada
   kekhawatiran dari beberapa organisasi perempuan, Karimun akan menjadi
   salah satu titik perdagangan perempuan dan anak. (Kompas, 13/8)
   
   Di setiap rumah toko (ruko) yang ada kelab malamnya, dipastikan ada
   PSK yang tinggal di sekitarnya. Khusus anak-anak di bawah umur,
   umumnya tinggal bersama maminya di kelab malam yang bentuk bangunannya
   rata-rata ruko berlantai tiga. Pemandangan seperti ini bisa dilihat di
   kawasan Kuakang, Pasar Baru, Kecamatan Karimun. Di sini diperkirakan
   jumlah PSK-nya mencapai 1.000 orang.
   
   PSK juga ditempatkan di permukiman elite seperti di Vila Garden, BTN
   Kavling Tanjungbalai Karimun. Di vila yang resminya adalah kawasan
   permukiman itu ada sekitar 80 unit rumah mewah berlantai dua yang 25
   unit di antaranya menjadi penampungan PSK. Di masing-masing unit rumah
   diperkirakan terdapat 20-30 PSK.
   
   Di Karimun, hanya ada satu lokalisasi resmi PSK, yaitu di Payalabu
   yang berjarak sekitar 10 km dari pusat Kota Karimun. Resminya jumlah
   PSK di sini ada 562 orang. Di lokalisasi ini perempuan PSK sudah
   berumur 20 tahun ke atas, walaupun juga terdapat anak-anak di bawah
   umur. Biasanya, anak-anak di bawah umur ini akan ditawarkan oleh mami
   di Payalabu kepada mami di kota.
   
                                    ***
                                      
   ANAK-anak di bawah umur yang menjadi PSK di Karimun ini menjalani
   pekerjaannya bukan atas kerelaannya sendiri. Umumnya mereka menjadi
   PSK akibat permasalahan hidup misalnya karena himpitan ekonomi yang
   tidak mencukupi, penyalahgunaan obat-obat berbahaya, atau frustasi
   setelah ditinggal teman lelakinya.
   
   Tragisnya, banyak juga di antara mereka terjerumus ke dunia ini karena
   tertipu bujuk rayu mucikari yang menawarkan jasa baik mencarikan
   pekerjaan bergaji besar. Misalnya, akan dipekerjakan di restoran atau
   menjadi penyanyi di karaoke atau kelab malam, padahal anak-anak
   tersebut dijadikan PSK.
   
   Penipuan seperti itu sudah beberapa kali terungkap. Misalnya,
   peristiwa yang dialami tiga PSK, Yanti (17), Susi (19), dan Mila (19)
   (ketiga nama tersebut bukan nama sebenarnya-Red), yang melarikan diri
   dari Vila Garden karena merasa tertipu.
   
   Ketiganya lalu mengadu ke DPRD Karimun pada tanggal 23 Juli. Pengakuan
   Yanti dan Susi, asal Medan, dan Mila asal Kalimantan, mereka
   dijanjikan kerja dan akan memperoleh gaji bersih Rp 300.000 sebulan.
   Menurut Wakil Ketua DPRD Karimun Toto Wijaya, ketiganya mengaku pernah
   juga mencoba melarikan diri dari Karimun menuju Batam. Namun, di
   pelabuhan domestik Karimun mereka tertangkap bodyguard dan papi dari
   Vila Garden sehingga akhirnya kembali lagi.
   
   "Ketiga anak tersebut kami pulangkan kembali ke daerahnya
   masing-masing sesuai keinginan mereka setelah meminta
   pertanggungjawaban pengusahanya dan meminta aparat mengusut
   orang-orang yang terlibat," jelas Toto.
   
   Kasus serupa juga pernah menimpa tiga anak asal Medan, Nila Kencana
   alias Nila (17), Nurazizah alias Liza (16), dan Fani (15), yang
   berhasil diselamatkan orangtuanya dengan menjemputnya ke Karimun, pada
   April 2001. Ketiga anak tersebut nyaris menjadi PSK karena terbujuk
   rayu tetangganya sendiri yang menjanjikan akan dipekerjakan sebagai
   pelayan restoran dengan iming-iming memperoleh gaji sampai Rp 5 juta
   per bulan.
   
   Untung saja ketiga anak tersebut masih bisa diselamatkan dari jeratan
   lelaki hidung belang yang sudah bersedia membayar Rp 5 juta sampai Rp
   10 juta untuk tiap-tiap orang. Dalam kasus ini, sejak 22 Agustus,
   mucikari Sulastri (50), yang mengajak ketiga anak itu bekerja di
   Karimun, mulai diadili di Pengadilan Negeri Medan untuk diproses
   secara hukum. (Surya Makmur Nasution)