[ACAD] Inovasi Pendidikan di Indonesia

From: academe@indopubs.com
Date: Fri Aug 31 2001 - 16:46:31 EDT


X-URL: http://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No_026/sebuah_tinjauan_teoritis_Idris.htm

   Sebuah Tinjauan Teoritis Tentang Inovasi Pendidikan di Indonesia
   Oleh: Idris HM. Noor
    ___________________________________________________________________
   
   Abstraksi
   
   Inovasi pendidikan menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dari
   masa ke masa. Isu ini selalu juga muncul tatkala orang membicarakan
   tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam inovasi
   pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi yang
   baru yaitu: Pertama "top-down model" yaitu inovasi pendidikan yang
   diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan
   kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh
   Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Kedua "bottom-up model"
   yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan
   dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu
   pendidikan.
   
   Disamping kedua model yang umum tersebut di atas, ada hal lain yang
   muncul tatkala membicarakan inovasi pendidikan yaitu: a).
   kendala-kendala, termasuk resistensi dari pihak pelaksana inovasi
   seperti guru, siswa, masyarakat dan sebagainya, b). faktor-faktor
   seperti guru, siswa, kurikulum, fasilitas dan dana c). lingkup sosial
   masyarakat.
   
   1. Pendahuluan
   
   Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada
   istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu
   yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah
   penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan
   demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru
   dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam
   kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan
   yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati
   sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang
   (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau
   discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentu atau untuk
   memecahkan masalah ((Subandiyah 1992:80)
   
   Proses dan tahapan perubahan itu ada kaitannya dengan masalah
   pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi
   (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption), penerapan
   (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Subandiyah 1992:77)
   
   2.
   Perubahan dan Inovasi Pendidikan
   
   Pelaksanaaan inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum tidak dapat
   dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri. Inovasi
   pendidikan seperti yang dilakukan di Depdiknas yang disponsori oleh
   lembaga-lembaga asing cenderung merupakan "Top-Down Inovation".
   Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk
   meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk
   memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan
   efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan
   kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan
   memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan
   bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak
   pelaksanaannya.
   
   Banyak contoh inovasi yang dilakukan oleh Depdiknas selama beberpa
   dekade terakhir ini, seperti Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Guru
   Pamong, Sekolah Persiapan Pembangunan, Guru Pamong, Sekolah kecil,
   Sistem Pengajaran Modul, Sistem Belajar jarak jauh dan lain-lain.
   Namun inovasi yang diciptakan oleh Depdiknas bekerjasama dengan
   lembaga-lembaga asing seperti British Council. USAID dan lain-lain
   banyak yang tidak bertahan lama dan hilang, tenggelam begitu saja.
   Model inovasi yang demikian hanya berjalan dengan baik pada waktu
   berstatus sebagai proyek. Tidak sedikit model inovasi seperti itu,
   pada saat diperkenalkan atau bahkan selama pelaksanaannya banyak
   mendapat penolakan (resistance) bukan hanya dari pelaksana inovasi itu
   sendiri (di sekolah), tapi juga para pemerhati dan administrator di
   Kanwil dan Kandep. Model inovasi seperti yang diuraikan di atas,
   lazimnya disebut dengan model 'Top-Down Innovation". Model itu
   kebalikan dari model inovasi yang diciptakan berdasrkan ide, pikiran,
   kreasi, dan inisiatif dari sekolah, guru atau masyarakat yang umumnya
   disebut model "Bottom-Up Innovation"
   
   Ada inovasi yang juga dilakukan oleh guru-guru, yang disebut dengan
   "Bottom-Up Innovation". Model yang kedua ini jarang dilakukan di
   Indonesia selama ini karena sitem pendidikan yang sentralistis.
   
   Pembahasan tentang model inovasi seperti model "Top-Down" dan
   "Bottom-Up" telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan para ahli
   pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang inovasi pendidikan yang
   dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar.
   White (1988: 136-156) misalnya menguraikan beberapa aspek yang
   bekaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi,
   karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya.
   
   Kennedy (1987:163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang
   dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi
   inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan), Rational
   Empirical (empirik rasional), dan Normative-Re-Educative (Pendidikan
   yang berulang secara normatif).
   
   Strategi inovasi yang pertama adalah strategi pemaksaaan berdasarkan
   kekuasaan merupakan suatu pola inovasi yang sangat bertentangan dengan
   kaidah-kaidah inovasi itu sendiri. Strategi ini cenderung memaksakan
   kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan
   keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana inovasi itu akan
   dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya
   dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan
   pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang
   sebenarnya merupakan obyek utama dari inovasi itu sendiri sama sekali
   tidak dilibatkan baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya.
   Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai obyek semata dan
   bukan sebagai subyek yang juga harus diperhatikan dan dilibatkan
   secara aktif dalam proses perencanaan dan pengimplementasiannya.
   
   Strategi inovasi yang kedua adalah empirik Rasional. Asumsi dasar
   dalam strategi ini adalah bahwa manusia mampu menggunakan pikiran
   logisnya atau akalnya sehingga mereka akan bertindak secara rasional.
   Dalam kaitan dengan ini inovator bertugas mendemonstrasikan inovasinya
   dengan menggunakan metode yang terbaik valid untuk memberikan manfaat
   bagi penggunanya. Di samping itu, startegi ini didasarkan atas
   pandangan yang optimistik seperti apa yang dikatakan oleh Bennis,
   Benne, dan Chin yang dikutip dari Cece Wijaya dkk (1991).
   
   Di sekolah, para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang
   menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan
   kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai
   bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan inovasi untuk
   bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide, dan pengalaman
   dalam bidangnya itu, yang telah digeluti berbualan-bulan bahkan
   bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik
   dari pada model inovasi yang pertama. Hal ini disebabkan oleh
   kesesuaian dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan inovasi
   tersebut.
   
   Jenis strategi inovasi yang ketiga adalah normatif re-edukatif
   (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi yang
   didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan seperti Sigmund Freud,
   John Dewey, Kurt Lewis dan beberapa pakar lainnya (Cece Wijaya (1991),
   yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaharuan
   seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan
   dengan manusia.
   
   Dalam pendidikan, sebuah strategi bila menekankan pada pemahaman
   pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat
   dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem
   belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi
   berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan
   kaidah-kaidah pendidikan. Kecenderungan pelaksanaan model yang
   demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan
   dengan hasil dari perubahan itu sendiri. Pendidikan yang dilaksanakan
   lebih mendapat porsi yang dominan sesuai dengan tujuan menurut pikiran
   dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali agar semua tujuan yang
   sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan pelaksananya dapat
   tercapai. Para ahli mengungkapkan berbagai persepsi, pengertian,
   interpretasi tentang inovasi seperti Kennedy (1987), White (1987),
   Kouraogo (1987) memberikan berbagai macan definisi tentang inovasi
   yang berbeda-beda. Dalam hal ini, penulis mengutip definisi inovasi
   yang dikatakan oleh White (1987:211) yang berbunyi: "Inovation
   ......more than change, although all innovations involve change." (
   inovasi itu ... lebih dari sekedar perubahan, walaupun semua inovasi
   melibatkan perubahan).
   
   Untuk mengetahui dengan jelas perbedaan antara inovasi dengan
   perubahan, mari kita lihat definisi yang diungkapkan oleh Nichols
   (1983:4).
   
   "Change refers to " continuous reapraisal and improvement of existing
   practice which can be regarded as part of the normal activity .....
   while innovation refers to .... Idea, subject or practice as new by an
   individual or individuals, which is intended to bring about
   improvement in relation to desired objectives, which is fundamental in
   nature and which is planned and deliberate."
   
   Nichols menekankan perbedaan antara perubahan (change) dan inovasi
   (innovation) sebagaimana dikatakannya di atas, bahwa perubahan mengacu
   kepada kelangsungan penilaian, penafsiran dan pengharapan kembali
   dalam perbaikan pelaksanaan pendidikan yang ada yang diangap sebagai
   bagian aktivitas yang biasa. Sedangkan inovasi menurutnya adalah
   mengacu kepada ide, obyek atau praktek sesuatu yang baru oleh
   seseorang atau sekelompok orang yang bermaksud untuk memperbaiki
   tujuan yang diharapkan.
   
   Setelah membahas definisi inovasi dan perbedaan antara inovasi dan
   perubahan, maka berikut ini akan diuraikan tentang kendala yang
   mempengaruhi pelaksanaan inovasi pendidikan.
   
   3. Kendala-kendala Dalam Inovasi Pendidikan
   
   Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi
   pendidikan seperti inovasi kurikulum antara lain adalah (1) perkiraan
   yang tidak tepat terhadap inovasi (2). konflik dan motivasi yang
   kurang sehat (3). lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga
   mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan (4).
   keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi (5). penolakan dari
   sekelompok tertentu atas hasil inovasi (6) kurang adanya hubungan
   sosial dan publikasi (Subandiyah 1992:81). Untuk menghindari
   masalah-masalah tersebut di atas, dan agar mau berubah terutama sikap
   dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan
   dikembangkan, sehinga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat
   berhasil dengan baik, maka guru, administrator, orang tua siswa, dan
   masyarakat umumnya harus dilibatkan
   
   4. Penolakan (Resistance)
   
   Setelah memperhatikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan suatu
   inovasi pendidikan, misalnya penolakan para guru tentang adanya
   perubahan kurikulum dan metode belajar-mengajar, maka perlu kiranya
   masalah tersebut dibahas. Namun sebelumnya, pengertian tentang
   resisten itu perlu dijelaskan lebih dahulu. Menurut definisi dalam
   "Cambridge International English Dictionary of English" bahwa
   Resistance is to fight against (something or someone) to not be
   changed by or refuse to accept (something).
   
   Bertdasarkan definisi tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
   bahwa penolakan (resistance) itu adalah melawan sesuatu atau seseorang
   untuk tidak berubah atau diubah atau tidak mau menerima hal tersebut.
   
   Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat
   diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah
   sebagai berikut:
    1. Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan,
       penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide
       baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan
       miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu
       dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi
       sekolah mereka.
    2. Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan
       saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka
       laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Disamping itu
       sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa
       aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka.
       Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) dimana guru tetap
       mempertahankan sistem yang ada.
    3. Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat
       (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan
       kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan
       oleh Munro (1987:36) yang mengatakan bahwa "mismatch between
       teacher's intention and practice is important barrier to the
       success of the innovatory program".
    4. Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari
       pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala
       sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi
       ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finasial dan
       keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah
       atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan
       kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk
       merubahnya.
    5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat
       menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum
       tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.
       
   Untuk mengatasi masalah dan kendala seperti diuraikan di atas, maka
   berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan
   inovasi baru.
   
   5. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi
   
   Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas,
   faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan
   adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan,
   
   1. Guru
   
   Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak
   yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan
   kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar
   di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa
   siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.
   
   Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain
   adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai
   dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan
   siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam
   proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan
   tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan
   guru itu sendiri.
   
   Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru
   mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan
   dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan
   suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin
   mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini
   seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang
   tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan,
   tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan
   kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi
   pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru
   mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai
   teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright
   1987)
   
   2. Siswa
   
   Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar
   mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses
   belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui
   penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan
   komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa
   terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan,
   walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada
   perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan,
   sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang
   harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi
   pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya,
   karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran
   pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena
   itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan
   penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak
   saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga
   mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.
   
   3. Kurikulum
   
   Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi
   program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam
   pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu
   kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
   dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan
   inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan
   unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa
   mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan
   tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh
   karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya
   sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti
   dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari
   kedua-duanya akan berjalan searah.
   
   4. Fasilitas
   
   Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa
   diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar
   mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan
   hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan.
   Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa
   dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama
   fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam
   mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika
   dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu
   diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan
   sebagainya.
   
   5. Lingkup Sosial Masyarakat.
   
   Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara
   langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak,
   baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan.
   Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun
   tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan
   dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik
   terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa
   melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan
   terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau
   dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan
   sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam
   melaksanakan inovasi pendidikan.
   
   Kata Kunci
   : inovasi, perubahan, penolakan, kurikulum, siswa, guru, fasilitas,
   inovator, pelaksana, masyarakat, sekolah, keterlibatan,
   top-down-bottom-up, sosial, program, pendidikan
   
   6. Kesimpulan
   
   Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa
   berdiri sendiri, tapi harus melibatakan semua unsur yang terkait di
   dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan
   siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja
   ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat
   serta kelengkapan fasilitas.
   
   Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya bisa
   berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal antara lain
   adalah penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan
   secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara
   itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu
   inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana
   dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada
   pelaksanaan. Oleh karena itu mereka masing-masing bertanggung jawab
   terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.
   
                               Daftar Pustaka
   
   Cece Wijaya, Djaja Jajuri, A. Tabrani Rusyam (1991) Upaya Pembaharuan
   dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran. Penerbit PT. Remaja
   Rosdakarya- Bandung 1991.
   
   Day, C.P. Whitaker, and D. Wren (1987) Appraisal and Professional
   Development in the Primary Schools, Philadelphia : Open University
   Press.
   
   Kennedy, C. (1987) Innovation for Change: teacher development and
   innovation. ELT Journal 41/3
   
   Kouraogo, P. (1987) Curriculum Renewal and INSET in Difficult
   circumstance. ELT Journal 41/3
   
   Munro. R.G. (1977) Innovation Success or Failure?. Bristol: J.W.
   Arrowss Smith Cambride English Dictionary
   
   Nicholls, R. (1983) Managing Educational Innovation. London. George,
   Allen and Unwin.
   
   Subandijah (1992) Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. PT Raja Grafindo
   Persada-Yogyakarta
   
   White, R.V. (1988) The ELT Curriculum: Design, Innovation and
   Management. Oxford: Blackwell.
   
   White, R.V. (1987) Managing Innovation. ELT. Journal 41/3
   
   Wright, T. (1987) Roles of Teachers and Learners. Oxford: Oxford
   University Press.