[REGS] SULSEL - Padang Sappa Berangsur Pulih

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Fri Aug 31 2001 - 20:40:54 EDT


X-URL: http://www.fajar.co.id/Berita/08-2001/1utama-1.htm

   1/9/01
   
   Padang Sappa Berangsur Pulih
   
   Ditengarai Perusuh Dibayar, Ada Pemasok Amunisi Terorganisasi
   
               SUASANA Padang Sappa, Kecamatan Ponrang mulai
   berangsur-angsur pulih. Aparat keamanan yang disiagakan pun sisa empat
   peleton polisi; masing-masing dua SST (satuan setingkat peleton)
   Perintis dari Polwil Parepare dan dua SST lainnya dari Brimob Polwil
   Parepare dan Baebunta.
   
               Untuk menghindari kemungkinan terburuk, demikian
   dikemukakan Kadispen Polda AKBP Muh Siswa malam tadi, keempat SST
   polisi tadi juga diback-up satu peleton gabungan TNI dari Kodim 1403
   Sawerigading dan Kompi C 721 Palopo.
   
               Selain menyimpulkan situasi terakhir Padang Sappa,
   Kadispen Siswa juga menyampaikan bahwa aparat keamanan telah menahan
   dan memintai keterangan 10 warga yang diduga keras sebagai pelaku. Di
   samping itu, ratusan senjata dan barang bukti lainnya berupa 11 pucuk
   senjata rakitan (papporo), 174 butir peluru rakitan, dua (2) pak
   amunisi, dua (2) buah bom molotov, 222 batang besi, serta satu buah
   tang besi, berhasil disita dan diamankan aparat. Laporan resmi polisi
   menyebutkan jumlah korban tewas terakhir 11 orang.
   
               Yang cukup mengejutkan, demikian Kadispen Polda, tiga di
   antara 10 warga yang masih dimintai keterangan ternyata warga dari
   luar Padang Sappa. Mereka itu adalah An (16), Rud (18) kduanya dari
   Walenrang, serta App (14) warga desa Lamasi. Kepada penyidik ketiganya
   mengaku dibayar Rp20 ribu serta ditanggung kebutuhan makannya setiap
   hari.
   
               Sementara dari Palopo dilaporkan, Kapolres Luwu AKBP Drs
   Anjaya melalui Kasat Serse Iptu Pol Prayitno SH, mengakui kalau
   kerusuhan di Padang Sappa itu melibatkan orang luar. Dia malah
   mengistilahkannya sebagai `tentara bayaran. "Indikasinya memang ke
   sana. Istilahnya kita, ada tentara bayaran. Itu setelah kita
   mencermati data yang ditemukan di lapangan," ujar Pryitno.
   
               Demikian halnya, dia melanjutkan, kemungkinan penggunaan
   senjata organik selama kerusuhan berlangsung. Hal itu sekaitan dengan
   telah ditemukannya peluru organik jenis Pindad 556 di lokasi
   kerusuhan, saat aparat keamanan melakukan penyisiran.
   
               "Dugaan saat ini, memang ada kelompok yang mempergunakan
   peluru organik saat kerusuhan. Sewaktu penyisiran, kami menemukan dua
   butir peluru organik. Peluru itu jenis pindad," terang Prayitno.
   
               Adanya kelompok yang memakai amunisi organik standar
   aparat keamanan dalam kerusuhan Padang Sappa, lanjut Prayitno,
   diperkuat pula keterangan salah seorang warga yang diciduk Polres
   Luwu. Warga yang kini meringkuk dalam tahanan Polres Luwu itu, kata
   Prayitno, dalam keterangannya menyebutkan kalau ada kelompok yang
   mendapat suplay amunisi organik dari oknum aparat," katanya.
   
               Kendati demikian, Prayitno enggan melansir lebih jauh asal
   kesatuan oknum aparat yang ditengarai menyuplai amunisi organik kepada
   salah satu kelompok yang terlibat pertikaian. "Sinyalemen itu masih
   dalam penyelidikan," katanya.
   
               Dan itu juga dibenarkan saksi mata Luther yang Kades
   Padang Sappa Kepada Fajar dia mengungkapkan warganya telah menemukan
   sebutir peluru organik di dekat jenazah korban kerusuhan."Warga saya
   menemukan sebutir peluru organik di dekat jenazah Marthen," kata
   Luther.
   
               Pernyataan senada dikemukakan seorang saksi mata kerusuhan
   yang berhasil menyelematkan diri ke Makassar. Wan (30) warga Buntu
   Batu menuturkan, saat kerusuhan meledak, salah satu pihak dari yang
   bertikai menggunakan berbagai macam senjata, serta serbuannya sangat
   terorganisir. Akibatnya, mayoritas warga pribumi Padang Sappa yang
   tidak menyangka bakal diserang, tidak bisa berbuat banyak selain hanya
   menyelamatkan diri.
   
               "Itu pun ada di antara kita yang tidak berdaya diberondong
   papporo. Atau, terperosok dan luka-luka akibat ranjau rakitan yang
   sengaja dipasang oleh kelompok penyerang," ungkapnya sangat emosional.
   
               "Tapi secara umum, keadaan di Padang Sappa sudah mulai
   membaik sehingga aparat keamanan yang disiagakan pun sisa lima SST.
   Tadi (kemarin, red) Bupati Luwu Kamrul Kasim beserta jajarannya juga
   datang meninjau lokasi bekas kerusuhan sekaligus menyerahkan sejumlah
   bantuan," ujar Siswa, mencoba meyakinkan.
   
               Bupati, kata Siswa, menjanjikan akan mengucurkan dana
   rehabilitasi senilai Rp 350 juta buat merehabilitasi 78 bangunan milik
   warga yang 61 di antaranya merupakan rumah tinggal. Selain itu, Pemkab
   (pemerintah kabupaten) Luwu juga menyediakan sedikitnya 40 ton beras
   guna mengantisipasi kebutuhan pengungsi yang ditampung di lima lokasi
   berbeda. Masing-masing di halaman Polsek, kantor kecamatan, dan markas
   Koramil setempat, serta di salah satu rumah ibadah dan kantor desa.
   
               Pengungsi Padang Sappa yang umumnya kaum perempuan dan
   anak-anak kini tersebar pada rumah-rumah keluarga mereka di luar
   Padang Sappa, termasuk dalam Kotif Palopo. Arus pengungsian itu
   terjadi menyusul terjadinya kerusuhan di Padang Sappa, Rabu (29/8)
   silam. Hingga Kamis lalu, pengungsi Padang Sappa masih membanjiri
   Kotif Palopo.
   
               Data yang dihimpun Fajar menunjukkan, sejak bergolaknya
   Padang Sappa empat hari lalu itu, sedikitnya 3.000 warga Padang Sappa
   terpaksa meninggalkan kampung dan rumah mereka. Selain ke Kotif Palopo
   dan desa terdekat, sebagian warga juga ada yang mengungsi ke Kabupaten
   Tana Toraja dan Masamba. "Tetapi, mereka umumnya mengungsi ke
   rumah-rumah keluarga yang ada di Palopo," kata salah seorang petugas
   Posko pengungsi Padang Sappa di gedung DPD Golkar Luwu, Jumat kemarin.
   
               Bupati Luwu DR H Kamrul Kasim, Jum'at (31/8) kemarin,
   mengatakan banyaknya warga Padang Sappa yang mengungsi ke Kotif
   Palopo, harus mendapatkan perhatian serius semua pihak. "Tetapi, kami
   (Pemkab, Red) menghimbau kepada warga Padang Sappa untuk kembali ke
   Padang Sappa," katanya.
   
               Dikatakan Kamrul, pihaknya telah menginstruksikan segenap
   Camat yang ada di Luwu, untuk melakukan pendataan warga Padang Sappa
   yang mengungsi ke daerahnya. "Saya juga menghimbau, agar pengungsi
   Padang Sappa itu mendapat bantuan logistik," imbuhnya.
   
               Keberadaan pengungsi tersebut, jelas Kamrul merupakan
   imbas dari kerusuhan yang terjadi di Padang Sappa. Olehnya itu,
   katanya, mereka merupakan tanggungjawab Pemkab Luwu. "Kami akan
   memberi bantuan kepada para pengungsi tersebut, baik yang berada di
   Palopo, maupun yang ada di daerah-daerah lain," jelas Kamrul seraya
   menambahkan bahwa realisasi bantuan itu akan dilakukan setelah semua
   data pengungsi rampung.
   
               Untuk mengantisipasi terjadinya aksi balas dendam terhadap
   para korban kerusuhan Padang Sappa yang kini menjalani perawatan medis
   di RS Tentara, sedikitnya tiga anggota TNI AD dari Kodim 1403
   Sawerigading Palopo, disiagakan. Mereka mengawasi RS Tentara dari
   kemungkinan terburuk itu. Sementara itu, Jumat (31/8) petang kemarin,
   tercatat masih enam korban kerusuhan Padang Sappa dirawat di RSUD
   Palopo dan RS Tentara.
   
               Pantauan kontributor Fajar di dua RS ternama di Palopo itu
   menunjukkan, tiga korban kerusuhan Padang Sappa yang menjalani rawat
   inap, kondisinya mulai membaik. Mereka, yakni Nobel (bukan Noble,
   Red), Saka, dan Udin, telah menjalani operasi medis untuk mengangkat
   timah panas yang bersarang pada kaki dan tangan mereka.
   
               Sementara itu, korban kerusuhan Padang Sappa yang dirawat
   inap di RSUD Palopo, kondisinya telah membaik dari dua hari
   sebelumnya. Bahkan, Nawir, korban yang terkena timah panas muntahan
   senjata api rakitan, telah dipulangkan ke rumahnya. Masih tiga korban
   yang dirawat di rumah milik Pemkab Luwu itu, di antaranya Sulaiman,
   Iwan, dan Liku.
   
               Dari tiga korban tersebut, Sulaeman terbilang parah dan
   Liku. Pasalnya, dua korban itu tertembak pada paha. "Namun, mereka
   sudah menjalani operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang pada
   tubuh mereka," kata salah seorang perawat medis RSUD yang enggan
   dilansir identitasnya.
   
               Midan, keluarga Sulaeman, mengatakan kondisi korban mulai
   membaik. Namun demikian, katanya, korban masih mengalami shoch mental
   akibat musibah yang dialaminya.
   
               Iwan, salah seorang korban yang tertembak pada kepalanya,
   mengatakan dirinya tak terlibat dalam kerusuhan Padang Sappa. Katanya,
   Rabu (29/8) lalu itu, dia sedang berjaga-jaga di halaman rumahnya,
   ketika konsentrasi massa menyebar di wilayah itu. Namun demikian,
   entah siapa yang menembaknya, Iwan mengaku langsung tersungkur ke
   tanah akibat terkena tembakan pada kepalanya.
   
               "Untung saja, peluru itu hanya menyambar kepala saya,
   sehingga lukanya hanya tergores. Kalau saja peluru itu bersarang di
   kepala saya, mungkin saya sudah tewas," ujarnya dengan nada sendu.
   (rp9-pp.)