[ACAD] BUKU - Soe Hok Gie

From: academe@indopubs.com
Date: Fri Aug 31 2001 - 21:12:04 EDT


X-URL:
http://www.suarapembaruan.com/News/2001/09/02/Buku/bk02/bk02.html

   SUARA PEMBARUAN DAILY
     _________________________________________________________________
   
                  Soe Hok Gie: Intelektual dan Humanis Sejati
                                       
   Judul: Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani
   
   Penulis: Dr John Maxwell
   
   Penerbit: PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, Juli 2001
   
   Tebal: xiii+443 halaman
   
   D ari sejarah pergolakan mahasiswa menentang rezim totaliter Orde Lama
   (Orla) pada dekade 1960-an, bangsa Indonesia patut mencatat dan
   mengenang satu nama. Ia patut dikenang tidak semata-mata karena andil
   dan keterlibatannya dalam menyukseskan perjuangan mahasiswa
   menghancurkan otoritarianisme kekuasaan Orla, tetapi lebih dari itu,
   ia pantas mendapatkan tempat terhormat di hati dan ingatan warga
   bangsa karena totalitas perjuangan dan sikap hidupnya yang luar biasa
   dan mengagumkan dalam upaya menegakkan kebenaran, keadilan, dan
   kemanusiaan.
   
   Sebagai seorang aktivis mahasiswa, ia adalah pribadi yang istimewa.
   Hal itu tampak melalui cakrawala pemikirannya yang visioner,
   militansinya yang nyaris tanpa batas, serta komitmennya yang kukuh
   pada prinsip-prinsip demokrasi dan humanisme universal.
   
   Karakter demikianlah yang selanjutnya menghadirkan sosoknya sebagai
   intelektual dan humanis sejati. Dialah almarhum Soe Hok Gie, sosok
   intelektual muda pendobrak tirani Orla yang dibahas oleh John Maxwell
   dalam bukunya, Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan
   Tirani.
   
   Soe Hok Gie bukanlah nama yang populer. Bahkan, sebagai aktivis
   mahasiswa, sosoknya hanya dikenal oleh komunitas masyarakat terbatas.
   Pikiran dan sepak terjang perjuangannya tidak banyak diketahui publik
   di Tanah Air. Menurut penulisnya, hal itu karena kendati pernah
   terlibat secara aktif dalam politik, ia berbeda dengan para tokoh
   politik dari generasinya. Ia tidak mencurahkan seluruh hidupnya untuk
   politik.
   
   Kehidupannya yang tergolong singkat, yakni hanya 27 tahun, juga tidak
   banyak memberikan peluang padanya untuk mengukir prestasi gemilang,
   baik secara individual maupun politis. Walau demikian, menyimak
   kegigihan perjuangannya, sukar untuk membantah bahwa anak muda ceking
   keturunan Tionghoa itu adalah seorang intelektual dan pejuang yang
   luar biasa.
   
   Dalam konteks demikian, selain menambah khazanah studi Indonesia
   modern tentang biografi tokoh-tokoh politik, penerbitan buku ini juga
   memperluas peluang publik untuk lebih memahami pandangan dan sepak
   terjang politik adik kandung sosiolog Arief Budiman ini. Lebih dari
   itu, buku ini memiliki nuansa lain dibandingkan dengan biografi
   tokoh-tokoh politik yang telah ada sebelumnya semisal biografi tentang
   Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataupun Soeharto.
   
   Karena berbeda dengan biografi-biografi tersebut, yang notabene
   mengulas para tokoh politik terkemuka, biografi yang satu ini justru
   membedah seorang tokoh "minor" dalam politik Indonesia. Minor dalam
   pengertian, meskipun merupakan salah satu tokoh dalam pergerakan
   mahasiswa dekade 1960-an, ketokohan politiknya tidak pernah dikenal
   luas di Indonesia. Posisinya dalam peta politik nasional pun tidak
   pernah cukup sentral jika dibandingkan dengan para tokoh di atas.
   
   Selalu Memberontak
   
   Maxwell melukiskan, sebagai intelektual, komitmen Soe Hok Gie untuk
   menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan tidak perlu
   disangsikan lagi. Jiwanya selalu memberontak tatkala menyaksikan
   berbagai praktek dehumanisasi, pengingkaran demokrasi, dan pelecehan
   terhadap akal sehat. Keberpihakannya pada nilai-nilai prinsipil itu
   membuatnya tidak memedulikan siapa pun yang mesti dihadapinya dan
   risiko apa pun yang bakal menimpanya. Yang ia kehendaki hanyalah "yang
   lurus-lurus" saja.
   
   Sebagai intelektual non-partisan, demikian Maxwell, loyalitasnya
   hanyalah pada nilai-nilai, melampaui segala sekat dan kepentingan. Ia
   adalah intelektual bebas yang tidak terjebak pada interest tertentu,
   entah itu kapital, kuasa, ataupun pamrih politis.
   
   Sikap antinya terhadap ketidakadilan sesungguhnya telah tumbuh sejak
   usia dini. Sementara, benih perlawanannya terhadap penguasa Orla
   berawal saat ia masih duduk di bangku SMA. Suatu ketika, ia bertemu
   dengan seseorang, yang jika dilihat dari penampilannya, bukanlah
   pengemis. Namun, orang itu kelaparan, dan untuk mengobati rasa
   laparnya, orang itu terpaksa makan kulit mangga. Karena tak tega, Hok
   Gie akhirnya memberikan seluruh uang yang dimilikinya pada orang itu.
   
   Sebenarnya pengalaman itu bukanlah hal yang luar biasa di Jakarta.
   Menjadi luar biasa karena peristiwa itu terjadi tak jauh dari istana
   kepresidenan, tempat yang saat itu menjadi simbol kemewahan dan
   keglamoran. Kenyataan pahit itu semakin mengentalkan kebenciannya
   kepada penguasa Orla.
   
   Sikap kritisnya terhadap pemerintah Orla semakin mengental saat ia
   menjadi mahasiswa UI, bertepatan dengan kian menguatnya
   otoritarianisme dalam politik dan kegagalan pemerintah dalam mengatasi
   perekonomian Indonesia yang merosot tajam. Dalam berbagai refleksi
   kritisnya di media massa, peme-rintah Orla senantiasa jadi sasaran
   utama kritikannya.
   
   Ketidakpuasannya terhadap berbagai pembatasan kebebasan berbicara yang
   dilakukan oleh Demokrasi Terpimpin melalui sensor pers dan pelecehan
   terhadap lawan-lawan politik bung Karno membuatnya semakin intensif
   melontarkan kecaman-kecaman terhadap pemerintah Orla.
   
   Mengingatkan Orba
   
   Setelah sukses menumbangkan kediktatoran Orla, ia kerap kali masih
   melontarkan kritikannya. Namun, berbeda dengan masa sebelum kejatuhan
   Orla, maksud utama kecamannya terhadap kekuatan lama pada masa
   pascakejatuhan Orla adalah untuk mengingatkan Orba agar tidak
   melakukan repetisi sejarah yang memalukan sebagaimana dilakukan
   pendahulunya. Sayang, warning simboliknya tidak digubris penguasa
   Orba. Tak mempan dengan kritik simbolik, akhirnya secara terbuka ia
   menyerang kebijakan Orba yang menurutnya tidak dapat dibenarkan.
   
   Tak hanya penguasa Orba yang menjadi sasaran kritikan. Maxwell
   mencatat, Hok Gie juga mengecam para tokoh Kesatuan Aksi Mahasiswa
   Indonesia (KAMI) yang menurut dia telah berkhianat pada perjuangan
   mahasiswa. Ia begitu gusar saat menyaksikan sebagian besar tokoh KAMI
   justru larut dalam kekuasaan. Mabuk kekuasaan di kalangan aktivis '66
   membuatnya muak dan gerah.
   
   Godaan harta dan takhta segera merapuhkan soliditas mahasiswa '66.
   Mereka akhirnya terpolarisasi menjadi dua kekuatan utama yang secara
   diametral saling berhadapan, yakni kekuatan moral dan kekuatan
   politik. Sejumlah mahasiswa dari golongan politik akhirnya masuk
   parlemen. Dan, dengan harta yang bergelimpangan dan kekuasaan yang
   besar dalam genggaman, kehidupan mereka berubah secara drastis.
   
   Terhadap kelompok itu, Soe Hok Gie mengecam habis-habisan. Menurut
   dia, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang mencatut
   perjuangan mahasiswa. Secara tajam ia mengkritik, "Sebagian dari
   pemimpin-pemimpin KAMI adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka
   berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula.'' Ia
   secara tegas menolak perwakilan mahasiswa yang diangkat sebagai
   anggota DPR GR karena, menurut dia, peran politik mahasiswa harusnya
   bersifat situasional, bukan permanen.
   
   Secara keseluruhan, buku ini sangatlah menarik karena mengulas secara
   cukup komprehensif sosok Soe Hok Gie, baik menyangkut pemikiran maupun
   aktivitas politiknya. Berbeda dengan buku seputar Hok Gie yang lain,
   buku ini adalah sumber kepustakaan pertama yang secara terperinci
   mengulas sosok sang tokoh. Sebab, buku-buku mengenai dia yang selama
   ini ada hanya berisi kumpulan tulisan, catatan harian, atau
   analisisnya tentang suatu masalah.
   
   Buku ini juga menampilkan perspektif baru tentang sejumlah aspek
   politik Indonesia pada dasawarsa 1960-an, yakni tentang asal-usul
   oposisi mahasiswa yang terorganisasi melawan rezim Orla, peran yang
   dimainkan oleh mahasiswa pada masa-masa transisi menuju Orba, serta
   perdebatan para aktivis dan intelektual tentang arah politik
   Indonesia.
   
   Mengingat begitu banyak hal yang dapat dipelajari dari kehidupan Soe
   Hok Gie, buku ini layak dibaca oleh para intelektual, peminat sejarah,
   pejuang demokrasi, dan terutama para aktivis mahasiswa yang ingin
   belajar bagaimana berjuang dengan tetap mempertahankan kesetiaan pada
   idealisme. Hanya kepada Soe Hok Gie hal itu dapat dipelajari.
   
   YF ANSY LEMA
   
   Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia.