[VIEWS] DATU - Propaganda: Acheh Dileceh

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sat Sep 01 2001 - 15:30:46 EDT


From: "Datu Beru" <datuberu@hotmail.com>
To: serambimekkah@egroups.com, PPDI@egroups.com, apakabar@saltmine.radix.net
Subject: PROPAGANDA: ACHEH DILECEH
Date: Sat, 01 Sep 2001 08:56:44

             PROPAGANDA:ACHEH DILECEH

Propaganda pada gilirannya dipandang sebagai suatu disiplin ilmu perang dan
diakui oleh para ahli sejarah sebagai salah satu alat ampuh memenangi suatu
peperangan, setidak-tidak dengan cara ini kurang resiko, murah biaya dan
hasilnya mengagumkan. Betapa tidak, sejak dari tahun 1480 hingga tahun 1977,
sudah terjadi kira-kira 2.610 peperangan besar di atas dunia yang kita diami
ini. Peperangan tersebut telah menyeret negara-negara Eropa, Amerika, Jepang
dan termasuk Acheh. Dari angka tersebut Perancis terlibat 47%;
Austria-Hongaria 34%; Jerman 25%; Inggeris 25%; Turki 15%; Sepanyol 12% dan
Belanda 8%. Khususnya Belanda, telah terlibat dalam perang paling dahsyat
dan paling lama dalam sejarahnya Belanda ialah: perang melawan Acheh, dari
tahun 1873-1942. Ternyata sebagian besar yang keluar sebagai pemenang dalam
perang tersebut diperoleh karena kekuatan Propaganda. Inilah propaganda.

Ketika meletus Perang Dunia ke-I tahun 1914-18, Presiden Wilson dari Amerika
Serikat berjanji akan memberikan hak untuk menentukan nasib diri-sendiri
>>self-determination<< bagi bangsa-bangsa Eropa Timur, yang saat itu
dijajah Austria-Hongaria, Jerman dan Turki. Para ahli sejarah sudah sepakat
mengatakan bahwa kemenangan pihak tentara Sekutu dalam perang Dunia ke-I
adalah karena propaganda. Inilah Propaganda.

Begitu pula sebelum meletus Perang Dunia ke-II, kemenangan Jerman di
Scandinavia, Belanda, Belgia, Perancis dan di negara-negara Balkan, dalam
realitasnya sangat ditentukan oleh kelicikan agen-agen Jerman, dimana
"pasukan Kelima" yang membuka pintu negara-negara dijajah kepada tentara
Jerman. Usaha tersebut ternyata berkesan, juga karena kakuatan propaganda.
Inilah propaganda.

Pada masa meletus perang Acheh-Belanda priode ke-II, Belanda mamakai
propaganda sebagai alat untuk mempengaruhi opini masyarakat dunia. Misalnya:
Van Sweten pernah mengeluarkan pernyataan spektakuler: "Acheh sudah kita
takluki dan kini selesailah sudah tugas berat, yang selama ini sangat
mengganjal Belanda". Untuk kepentingan propaganda, Van Sweten nekad memberi
laporan falsu kepada Ratu Belanda. Akibat pernyataan Sweten, serdadu Belanda
yang berada dalam barak-barak militer di pulau Jawa berjingkrak-jingkrak
kegirangan dan untuk menyambut 'kemenangan' ini, maka dalam benteng-benteng
pertahanan Belanda di Jawa dan dalam Kraton-kraton Jawa didentumkan meriam
21 kali. Di Belanda sendiri, kabar 'kemenangan' ini dimuat pada halaman muka
seluruh surat-surat kabar terkemuka, padahal yang terjadi di lapangan adalah
Belanda berada dalam keadaan sekarat, terdesak oleh kekuatan tentara Acheh.
Dunia internasional dan rakyat Belanda terbius dengan omongan Van Sweten,
sehingga mereka memberi sokongan penuh kepada Belanda. Barulah setelah
terbukti bahwa Van Sweten menipu, dia dipecat dan akhirnya Van Sweten
sendiri mendirikan suatu partai politik baru untuk melawan kebijaksanaan
Belanda di Acheh melalui Parlemen. Inilah propaganda.

Jauh (13 tahun) sebelum tahun 1942, tahun masuknya Jepang ke Sumatera,
khususnya ke Acheh, sudah disebar propaganda, bahwa Jepang akan membantu
mengusir Belanda dari bumi Acheh. Dengan propaganda ini, Jepang tidak perlu
menyerang Sumatera (boleh baca: Acheh), malah diundang masuk ke Acheh dan
dijemput oleh Said Abubakar ke Pulau Pinang, sementara Tengku Daud Beureuéh
mengerahkan rakyat Acheh turun ke jalan-jalan utama yang dilalui pasukan
Jepang >>tentara Majusi<< ini. Akhirnya, sesudah beberapa bulan berada di
Acheh, barulah jepang memulai perbuatan biadabnya terhadap rakyat. Ulama
PUSA >> sipenjilat<< Jepang tidak diapa-apakan, kecuali Tengku Abdul Djali
Bayu, seorang Ulama yang menantang kehadiran Jepang di acheh bersama
ratusan anak didik beliau dibantai oleh serdadu jepang. Ironisnya, Hamka,
Mr. Hasan dan Ulama PUSA membujuk sebelumnya supaya Tengku Abdul Djalil
tidak melawan Jepang. Acheh tergadai oleh propaganda. Jepang kemudian kalah
oleh serangan tentara Sekutu, ini soal lain. Inilah kekuatan propaganda.

Menjelang kemerdekaan RI tahun 1945, Jepang memakai propaganda, dengan
menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Untuk itu dibentuk BPUPKI yang 90%
dari 70 anggotanya adalah orang Jepang. Jika rancangan Jepang berhasil,
maka Indonesia akan masuk ke mulut singa setelah lepas dari mulut buaya.
Ketika itu, politisi Indonesia (Sukarno Cs) ikut saja telunjuk Jepang.
Jepang akhirnya menyerah kkepada tentara sekutu, apalagi Nagasaki dan
Hirosima sudah dibom oleh Amerika, itu soal lain. Inilah propaganda.

Menjelang kemerdekaan RI, Sukarno memakai propaganda untuk menelanjangi para
Ulama Acheh dan Tengku Daud Beureuéh secara pribadi. "Indonesia akan
dimerdekakan sebagai negara berdasarkan Islam, oleh sebab itu orang Acheh
supaya membantu saya memerdekakan Indonesia". Denagn propaganda Sukarno,
Ulama Acheh:
1. Tengku Hasan Kreung Kalé;
2. Tengku Daud Beureuéh;
3. Tengku Hasbalah Indrapuri dan
4. Tuanku Mahmud terperangkap propaganda dan terpaksa mengeluarkan fatwa
supaya orang Acheh mau menyabung nyawa dalam perang Surabaya dan kalau mati:
mati syahid. Akhirnya Indonesia dibentuk berdasarkan Pancasila >dasar
kepercayaan Hindu Jawa kuno< dan ramai orang Acheh mati dalam perang
Surabaya yang tidak manfaat apapun kepada bangsa Acheh. Na'uzubillah. Inilah
propaganda.

Satu ketika dahulu, Sukarno pernah pidato di Meulaboh tahun 1949, di depan
orang ramai dia bilang: "Acheh adalah daerah modal". Lantas orang Acheh
terlena dan bangga degan julukan tersebut sampai-sampai seluruh kekayaan
alam Acheh dikuras siang-malam dan diangkut ke Jawapun tidak sadarkan diri.
Kemudian penyelesaian konflik antara rezim Sukarno-Tengku Daud beureuéh >>
dalam pergolakan DI-TII 1953-1961<< rezim Indonesia memakai propaganda
sebagai alat untuk menenlanjangi orang Acheh. Sesudah ribuan rakyat Acheh
dibunuh, disiksa, kepada Acheh dijanjikan status daerah Istimewa dalam
bidang: agama, pendidikan dan kebudayaan. Akhirnya sampai mati Tengku Daud
Beure-éh yang dijanjikan tidak pernah wujud. Kado yang berisi "Daerah
Istimewa" yang dibawa oleh Mr. Hardi ke Acheh hanya propaganda. Akhirnya,
rezim Suharto yang berkuasa selama 32 tahun menikmati hasil propaganda rezim
Sukarno. Inilah propaganda

Ketika rezim Habibie berkuasa, dipropagandakan bahwa orang Acheh akan
disantuni dengan sebaik-baiknya, akan diberikan ganti rugi kepada para
korban DOM semasa rezim Suharto, akan diberikan ini, ... itu, ... ini dan
... itu, sampai kepada propaganda yang mengatakan akan dibangun sistem
transportasi kereta Api lintasan Acheh-Lampung. Hingga kuasanya tamat yang
dikatakannya tidak pernah wujud. Inilah propaganda.

Ketika sibuta dari Guha Hantu >>Gusdur<< berkuasa, kepada orang Acheh
dipropagandakan: "Kalau di Timor Timur bisa dilaksanakan referemndum,
mengapa di Acheh tidak?". Di akhir hayat kekuasaannya sempat membuat resep
bom (Kepres No.IV/2001) untuk membunuh bangsa Acheh, bom itu sedang
diledakkan di merata tempat di Acheh. Sampai digusur Gusdur, pembantaian
demi pembantaian terhadap bangsa Acheh yang berlaku. Inilah propaganda.

Para penjahat perang Indonesia di Timor-Timur yang membumi hanguskan kota
Dilli dan melakukan genocide di sana, dikirim Gusdur ke Acheh. Manusia ini
yang membakar lebih dari 3000 bangunan rumah/gedung di Acheh, membunuh,
menyiksa dan menculik siapa saja yang dicurigainya sebagai anggota GAM.
Setelah melakukan perbuatan biadab ini, mereka berkoar bahwa pelakunya OTK.
Inilah propaganda.

Megawati, ketika kampanye untuk partainya >>PDI-P>> di Acheh si inem ini
sempat menangis: "kalaulah PDI-P menang dalam Pemilu ini, di Acheh akan
dilaksanakan referendum". Sewaktu Wapres dan sesudah dilantik sebagai
Presiden, propaganda pertamanya untuk Acheh ialah: "akan memberi kado
(hadiah) dalam rangka ulang tahun RI kepada rakyat Acheh." Kemudian kita
baru tahu bahwa kado tersebut adalah "pasukan khusus untuk membunuh 43 orang
bangsa Acheh di Julok Peureulak, Acheh", yang terjadi persis pada hari
pelantikan kabinetnya, pada 9 Agustus 2001, dan berselang beberapa hari
kemudian dibantai lagi saksi utama dalam perbuatan biadab itu seramai 9
orang. Dengan kuasa Allah, beberapa saksi mata lagi masih hidup dan mereka
siap memberi kesaksian jika penyelidik internasional yang independen turun
tangan. Akan tetapi pemain Kuda Kepang Tangerang >>Hasan Wirayuda<< atas
perintah tukang Jamu gendong >>Mega<< menolak kehadiran penyelidik
independen luar negeri untuk meniliti keabsahan kasus pembunuhan biadab ini.
Inilah propaganda.

Propaganda selanjutnya ialah: menanda tangani UU-NAD untuk berlaku di Acheh,
yang dipandang sebagai kado kepada orang acheh. Pada hal Ayahnya >>Sukarno<<
dahulu pernah memberi kado yang berisi "Daerah Istimewa" (baca: lonté muda
pakai kebaya) kepada orang Acheh, yang terima Tengku Daud Beureuéh, dalam
kenyataannya nol besar! Sekarang giliran Mega (anak Sukarno) konon mau
memberi kado berisi "Nanggroë Acheh Darussalam" (baca: lonté buntung
berkerudung) dalam kenyataannya juga akan nol kosong! Lihat dan catat
pernyataan saya ini. Inilah propaganda.

Nilai politik kunjungan Mega ke Acheh, tidak lebih daripada nilai politik
yang diraih Ayahnya tahun 1949. Kalau Sukarno beri kado "Daerah Istimewa -
lonté muda pakai kebaya" kepada orang Acheh, Sekarang giliran Mega mau
memberi kado berisi "Nanggroë Acheh Darussalam - lonté buntung berkerudung"
dan kadonya bertulis: "kepada Acheh diberi 70% dari seluruh kekayaan Acheh
dan 30% untuk pusat selama delapan tahun", potong masa transisi menjadi lima
tahun = satu priode jabatan Presiden. Setelah itu akan mampus lagi Acheh.
Kekayaan Acheh akan dikuras dan angkut lagi ke Jawa. Rezim Jakarta dalam
hatinya berkata: "Orang Acheh itu kan patung mainan >>refleksi dari pemain
Sedati<< yang garang dengan gerak tangan, mulut dan dadanya,
berjingkrak-jingkrak, menepuk-nepuk dadanya (simbul keangkuhan dan
kegagahan), akan tetapi pada akhirnya, orang garang ini kedua tangannya akan
lunglai dan telentang ke atas (simbul setia, pasrah atau
menyerah),menyerahkankan bulat-bulat apa yang saja yang dimilikinya kepada
orang lain -[rezim Indonesia])". Lihat fakta sejarah, bukan saja kekayaan
Acheh diserah, akan tetapi negara Acheh diserahkan kepada rezim
Indonesia-Jawa. Na'uzubillah!Yang pasti, Gerakan Acheh Merdeka (GAM) bukan
representasi pemain Seudati. Bangsa Acheh jangan berhenti belajar dari
kesilapan sejarah masa lalunya untuk menjadi suatu bangsa merdeka. "Suatu
bangsa tidak akan mati karena menginsafi kesalahan yang pernah diperbuatnya
dan suatu bangsa akan mati jika mengulangi kembali kesilapan yang pernah
dilakukannya" (Van Sweten). Wallahu'aklam.

Yusra Habib Abd Gani

----- End of forwarded message from Datu Beru -----