[VIEWS] Majalah Sabili, Bakin & Ma'had Al Zaytun

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon Sep 10 2001 - 12:53:45 EDT


From: umar-abduh@priest.com
To: islam-sesat@yahoogroups.com, N-sebelas@yahoogroups.com
Cc: AZ_ZAITUN@yahoogroups.com, sabili@yahoogroups.com, apakabar@radix.net,
        Mail2news-20010910-soc.culture.indonesia+alt.culture.indonesia@anon.lcs.mit.edu
Date: Mon, 10 Sep 2001 20:24:55 +0800
Subject: Majalah Sabili, Bakin & Ma'had Al Zaytun

Sabili, Bakin & Ma'had Al Zaytun
Oleh Taufiq Hidayat
Sumber: Majalah Darul Islam, April-Mei 2001, hal. 55-56

Sekitar pertengahan Desember 1999 lalu, saya bersama tiga rekan, Imam
(Sabili) berkunjung ke Ma'had Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Khusus
untuk Imam walaupun dia fotografer SABILI, tapi kami mengajaknya dalam
kapasitas pertemanan dan tukang foto. Begit u pula Eman, dia sama sekali
tidak ditugaskan oleh Sabili.

Saat itu kami bertemu langsung dengan Syekh AS Panji Gumilang. Kedatangan
kami harus melalui prosedur dan penjagaan yang cukup ketat. Tiga rekan
saya ternyata tidak mengetahui tentang maksud dan tujuan berkunjung ke
Ma'had Al Zaytun, sehingga untuk bebera pa saat sama sekali tidak
menimbulkan kecurigaan pihak Ma'had Al Zaytun, terutama Panji Gumilang
sendiri. Mungkin hari itu adalah hari terakhir Panji Gumilang menerima
wartawan ataupun sejenisnya dalam suasana keterbukaan, karena setelah itu
sangat sulit bagi media massa untuk mewawancarai langsung Panji Gumilang,
kecuali MAJALAH SABILI, mungkin karena Panji Gumilang beranggapan, "Ah,
kayak Sabili tidak tahu kami saja."

Dalam pertemuan dengan Syekh AS Panji Gumilang beserta lengkap dengan
aparat elite Ma'had Al Zaytun di ruang Abu Bakar, saya mendapatkan
kepuasan untuk menanyakan apa saja soal Ma'had Al Zaytun dan siapa di
baliknya. Sedangkan Eman dari Sabili cuma bertan ya sekitar Ghawzul Fikri
saja. Ketidak-tahuan ketiga rekan saya inilah yang memungkinkan saya
leluasa menanyakan hal-hal yang sangat sensitif sekitar isu Abu Toto, NII
KW IX dan rekrutmen pendanaan Al Zaytun. Saya berusaha mengorek dan
mengejar keterangan
 tentang kebenaran isu tersebut langsung kepada Panji Gumilang, yang pada
akhirnya dengan nada berat, kesal dan penuh curiga Panji Gumilang berkata,
"Sudahlah itu kan masa lalu, yang terpenting kita bisa berbuat untuk masa
depan."

Artinya, bahwa pertanyaan saya berkisar tentang berita keterkaitan Syekh
AS Panji Gumilang dengan Abu Toto dan NII KW IX sebagaimana ditulis Al
Chaidar, diakui secara jujur oleh Panji Gumilang.

Memang, tidak banyak keterangan yang dapat diambil dari pertemuan
tersebut, namun pengakuan Panji Gumilang saya anggap cukup sebagai sebuah
data dan fakta yang sangat berharga. Data yang sangat berharga selain
pengakuan Panji Gumilang, adalah hasil bidika n Imam yang jumlahnya hampir
2 roll penuh. Namun data tersebut sengaja dilenyapkan oleh oknum-oknum di
Sabili.

Ketika hampir berbulan-bulan kami mintakan hasil jepretan Imam, dia selalu
menghindar sambil berbohong. Ketika suatu saat di akhir tahun 2000 saya
berhasil mengontak dia via telfon ia hanya menjawab, "Taufik, saya akan
ganti seluruh biaya operasional ke A l Zaytun saat itu." Ketika didesak
oleh sahabat saya, akhirnya Imam mau ngomong apa adanya, "Saya tidak bisa
menyerahkan foto itu. Saya diancam mau dimatiin oleh Panji Gumilang. Sebab
ketika Eman Maret 2000 lalu ke Al Zaytun dan mewawancarai Panji Gumilan g,
Eman mendapat titipan ancaman buat Imam agar foto itu jangan
dimacam-macamin, urusannya bisa saya matiin, kata Panji Gumilang ditirukan
Eman."

Seluruh keterangan Imam tentang ancaman Panji Gumilang, ternyata tidak
disampaikan langsung oleh Eman kepada Imam. Ternyata Zaenal Mutaqin,
Pemred Sabili yang menceritakan adanya ancaman Panji Gumilang kepada Imam
dengan mencatut nama Eman. Terbukti ketik a saya dan Fitri menanyakan
langsung ke Eman tentang kebenaran berita tersebut, Eman malah tertawa dan
menganggap berita itu cuma karangan Zaenal Muttaqin saja.

Ketika ditanyakan tentang keberadaan foto tersebut, Imam menjawab,
"Disimpan oleh Bang Zaenal." Namun Zaenal Muttaqin sendiri malah bilang,
"Imam yang simpan, karena itu hak privacy Imam." Akhirnya kami
menyimpulkan, bahwa diantara mereka penuh dengan ked ustaan.

Bagi kami tim peneliti tentang Ma'had Al Zaytun, sangat memerlukan data
tersebut karena dalam foto tersebut terdapat gambar lengkap orang-orang
yang menjadi aparat Panji Gumilang dengan Ma'had Al Zaytunnya, dimana kami
beranggapan dapat mengidentifikasi o rang-orang tersebut. Bahkan kami
sempat berfoto bersama dengan sebuah mobil milik Syekh Panji Gumilang yang
hanya bisa dimiliki elite militer TNI yang saat itu digunakan untuk
berkeliling sekitar Al Zaytun atas perintah langsung Panji Gumilang.

Apalagi tanda tanya besar saya ada pengakuan dari Al Chaidar tentang
pertamuannya dengan ZA Maulani, Kabakin saat itu. Beberapa bulan sebelum
buku karya Al Chaidar tentang Abu Toto dan Ma'had Al Zaytun akan terbit,
Al Chaidar diajak oleh Zaenal Muttaqin, Pemred Sabili ke Sate Pancoran.
Ternyata di sana sudah ditunggu oleh ZA Maulani yang sengaja datang untuk
meminta Al Chaidar agar tidak menerbitkan buku tentang Al Zaytun.

Negosiasi berlangsung, dan akhirnya buntu karena ZA Maulani menolak
bargaining tertentu dari Al Chaidar. Zaenal Muttaqin sendiri saya yakin
takkan mengakui kesaksian Al Chaidar ini. Namun pertanyaan saya kembali
kepada raibnya file foto milik kami? Kedeka tan Zaenal Mutaqin dengan ZA
Maulani? Dan siapa yang memberikan perintah kepada Kabakin untuk melarang
Al Chaidar menerbitkan bukunya ataukah orang semacam Panji Gumilang bisa
mmeberikan perintah kepada seorang Kabakin?

Investigasi kami terus berlanjut sampai ke Pondok Modern Gontor. Saya saat
itu berhasil menemukan data dari buku induk Santri sekitar tahun 1960-1961
yang terdapat file nama santri Abdul Salam bin Rasyidi lengkap dengan
tanggal lahir dan biodata penting. Data tersebut diduga kuat sebagai nama
asli Syekh AS Panji Gumilang, artinya inisial AS adalah Abdul Salam yang
lahir di desa Sembung Anyar, kecamatan Dukun, Gresik, Jawa Timur.

Saya memutuskan untuk mencari keberadaan alamat tersebut, dan
alhamdulillah dengan begitu mudahnya tanpa halangan apapun saya menemukan
rumah Abdul Salam, di jalan Imam Rasyidi, nama ayahnya sendiri. Di sana
saya bertemu adik kandungnya Abdul Waahib Rasyi di yang menjadi Kepala
Desa Sembung Anyar (nomor telfon ada di saya). Saya pun berkesempatan
bertemu dengan keponakan Abdul Salam, sempat pula mengambil foto Ibunda
Abdul Salam bin Imam Rasyidi beserta keluarga.

----- End of forwarded message from umar-abduh@priest.com -----