[NEWS] DUTA - Kostrad Kembalikan Senjata Polri

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Mon Sep 17 2001 - 16:58:21 EDT


Date: Mon, 17 Sep 2001 15:35:10 EDT

Kostrad Kembalikan Senjata Polri

* Pimpinan Dicopot, 20 Prajurit Dipecat

Akibat tawuran antarkesatuan (Kostrad dan Polisi) di Madiun, Komandan
Yonif 501 dan wakilnya dicopot. Sementara 20 prajurit Kostrad dipecat.
Kemarin pihak Kostrad sudah mengembalikan beberapa senjata api dan peluru
milik Polisi yang berhasil dirampas. Sementara para siswa keliling kota,
pawai keprihatinan.

Madiun, DM
Bentrok antara TNI AD dan polisi di Madiun telah selesai. Namun, akibat
kerusuhan itu Komandan Yonif Linud 501 Kostrad, Mayor Infantri Komestin
Hadirin dan wakilnya Mayor Infantri Nuchlid, dicopot. Sedangkan 20
anggota TNI yang terlibat dipecat.
Perihal itu diungkapkan Pangkostrad Letjen Ryamizard Ryacudu kepada
wartawan usai apel siaga di Markas Resimen Armed I Malang, Jawa Timur,
Senin (17/9) kemarin. “Kita tidak memberi ampun jika kejadian semacam itu
terulang kembali. Satu batalyon pun akan saya pecat, jika hal itu terjadi
lagi,” tegas Ryamizard. Namun, menurut Pangkostrad, dalam kerusuhan
tersebut tidak ada anggota Kostrad yang membawa senjata dan bergabung
dengan masyarakat yang menyerbu kantor polisi di Madiun. “Tidak ada
anggota TNI yang bergabung dengan masyarakat,” jelasnya.
Apapun, peristiwa ini sangat memalukan dan menampar aparat keamanan.
Apalagi sampai terjadi aksi perampasan senjata api milik Polri. Kemarin,
senjata itu dikembalikan. “Serah terima senjata telah dilakukan oleh
pihak Batalyon 501 Bajra Yudha, Lintas Udara (Linud) Kostrad, Ahad siang
lalu sekitar pukul 11.30 wib,” jelas Komandan Garnisun Madiun Letkol Inf
Suwandi, kepada wartawan, Senin (17/9) kemarin.
Lalu, tambahnya, sekitar pukul 12.00 wib senjata tersebut sudah
diserahkan ke Polwil Madiun dengan memakai tanda bukti penyerahan.
Barang-barang itu berjumlah 3 buah yaitu 2 senpi laras pendek dan satu
senpi laras panjang, dan 7 butir peluru tajam aktif.
Pihak Garnisun, katanya hanya menjembatani pengembalian senpi dari
Batalyon 501 dengan pihak Polisi, alurnya senpi diambil dari Batalyon 501
dan tidak lama berselang sudah berada ditangan pihak Polwil Madiun.
Mengenai asal-usul senpi pengembalian tersebut, Letkol Inf Suwandi yang
juga Dandim 0803 Madiun menyatakan tidak tahu secara pasti, karena
sekadar sebagai jembatan dua institusi yang baru mengalami adanya
kesalahpahaman. “Saya secara pasti tidak tahu, bagaimana senpi tersebut
hingga berada di Batalyon 501? Jika ingin tahu hubungi saja Batalyon 501
atau Polwil Madiun,” ujarnya usai pertemuan dengan unsur Muspida plus
Kota Madiun.
Sementara itu, Kapolwil Madiun Kombes Saputro Satriyo ketika dihubungi
membenarkan pengembalian ke-3 senpi milik Polisi. Ke-3 senpi tersebut
berasal dari 2 milik anggota Polresta Madiun dan satu milik anggota
Polres Madiun, sedangkan satu senpi laras pendek milik anggota Brimob
masih berada di pihak Garnisun. Penyerahan senjata yang tersisa menunggu
kelengkapan surat-surat, selanjutnya langsung disampaikan ke pihak
Garnisun. “Senjata yang dikembalikan adalah senpi milik anggota polisi
yang berada di pos-pos maupun yang direbut saat terjadi aksi massa
tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, dalam pengamatan Duta, suasana Kota Madiun masih seperti
hari pertama meletusnya peristiwa tawuran, meski polisi mulai muncul
disejumlah jalan, tapi itu hanya berlangsung hingga pukul 08.30 wib.
Kegiatan lain belum terlihat, seperti di pos-pos Polisi dan Bagian Lalu
Lintas Polwil Madiun yang dirusak terpasang Police Line (Garis Polisi),
termasuk di Mapolresta Madiun barikade kawat berduri terlihat belum
berpindah tempat. Berbagai kerusakan yang ada masih jadi tontonan
masyarakat, tak urung sempat memacetkan lalu lintas. “Wah, terpaksa hari
ini (kemarin) gagal memperpanjang SIM yang sudah habis,” ujar Sutarno.
Situasi Kota Madiun memang sudah pulih, tapi keberadaan polisi yang
seperti hari-hari biasa di jalan sejak pagi masih belum terlihat.
Dilaporkan dari Polda Jatim telah tiba unit forensik untuk melakukan
berbagai kegiatan. Menurut rencana, hari ini, Komisi I DPR-RI akan
mengunjungi lokasi kejadian maupun korban peristiwa berdarah.

Aksi Keprihatinan
Dilaporkan sekitar pukul 09.00 wib sebanyak 70 siswa SMUN V mengadakan
taqziah ke makam dan keluarga Herdik Fredyanto siswa kelas 1F yang tewas
tertembak tidak jauh dari Mapolresta Madiun. Usai melakukan takziah,
siswa yang didampingi sejumlah guru sempat berputar-putar keliling Kota
Madiun dengan cara berbaris menggunakan kendaraan roda dua. Saat
bersamaan puluhan siswa SMUN IV mengadakan aksi keprihatinan.
Ketika secara tidak sengaja bertemu di perempatan tugu, lalu mereka
bergabung dan mengadakan aksi keprihatinan bersama. Tujuan awal menuju
taman makam pahlawan untuk memasang karangan bunga sebagai tanda
keprihatinan atas aksi berdarah. “Tujuan aksi keprihatinan ini, ingin
mengadu ke para pahlawan bangsa, mengapa semua itu harus terjadi dan anak
bangsa menjadi korban?,” ujar seorang pelajar SMUN IV.
Rasa keprihatinan pelajar SMUN IV melalui Osis juga ditunjuk dengan
mengirim sepucuk surat turut berbela sungkawa atas meninggalnya Herdik,
surat ditandatangani Wakasek Bidang Kesiswaan Drs Totok Yuliadi. Kepala
SMUN V Drs Setjono menyatakan rasa prihatin atas musibah yang dialami
anak didiknya, seusai pulang mengikuti pesta seorang temannya.
Korban sipil terbanyak dari SMUN V yaitu Herdik siswa kelas 1F, meninggal
dunia, korban lain mengalami luka-luka antara lain Edwin Hariansyah kelas
1B, M Adi Nugroho 2B, Bayu Hanindio kelas 1E dan Dimas Satria Irawan 2F.
Dalam kesempatan lain jajaran unsur Muspida plus Kota Madiun turut
memberikan bantuan santunan untuk meringankan biaya pengobatan,
masing-masing korban menerima Rp 200.000. Sehari sebelumnya, Walikota H
Achmad Ali sesaat akan kembali ke Jakarta untuk mengikuti Kursus Lemhanas
juga memberikan bantuan serupa Rp 250.000 untuk korban meninggal dan Rp
200.000 korban yang mengalami luka-luka. “Alhamdulillah, bantuan santunan
cukup meringankan beban menutupi biaya rumah sakit dan obat-obatan,” ujar
Waluyo orangtua korban M Adi Nugroho, penuturan serupa disampaikan orang
tua korban lainnya ketika ditemui Duta Masyarakat di RSUD.
Sementara, baku tembak ini juga mengundang reaksi DPR RI. Komisi I DPR
akan segera memanggil Kapolri dan Panglima TNI untuk menjelaskan tentang
baku tembak yang menewaskan dua warga sipil itu. Hal itu ditegaskan
Ketua Komisi I DPR RI Ibrahim Ambong kepada wartawan di gedung DPR, Senin
(17/09).
Menurut dia, Komisi I akan meminta penjelasan terhadap Kapolri dan
Panglima TNI soal penggunaan senjata yang sedemikian bebas, sehingga
menewaskan 2 anggota mayarakat. “Jangan sampai konflik antara aparat
terulang, apalagi sampai meminta korban masyarakat sipil,” kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, bentrokan antara oknum TNI dan Polri yang kerap terjadi,
menunjukkan mereka belum menegakkan disiplin. Untuk menghindari
terulangnya peristiwa serupa, kedisiplinan aparat perlu segera
dievaluasi. “Mereka selalu mempersoalkan tawuran pelajar, padahal mereka
sendiri tawuran. Ini menunjukkan mereka belum menegakkan disiplin dan
segera perlu dievaluasi,” kata Ibrahim.
Sementara itu, anggota Komisi I asal PDIP Permadi mengatakan peristiwa
bentrokan antara anggota TNI dan Polri itu harus diusut tuntas. Untuk
itu, anggota DPR yang juga paranormal itu mengusulkan dibentuk tim
investigasi yang anggotanya tidak hanya polisi dan TNI. “Tawuran tersebut
menunjukan merosotnya disiplin anggota TNI dan Polri sampai pada titik
nadir. Kita berharap mereka dapat kembali pada jati dirinya yaitu
profesional,” kata Permadi. (dt/ag)

----- End of forwarded message from Sefdin Bahks -----