[L] JOSHUA - Kapolda Dungu dan Media Penghasut (2)

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Fri Sep 28 2001 - 11:06:18 EDT


From: "Joshua Latupatti" <joshualatu@hotmail.com>
To: apakabar@radix.net
Subject: KAPOLDA DUNGU DAN MEDIA PENGHASUT
Date: Fri, 28 Sep 2001 11:45:10

KAPOLDA DUNGU DAN MEDIA PENGHASUT
---------------------------------------------------------------

Salam Sejahtera!

Saudara-saudara sebangsa,
Saya akan berkomentar lagi di seputar FKM dan RMS, sehubung-
an dengan “lagak kosong” dari Kapolda Maluku, Brigjen Edi Dar-
nadi! Seperti yang sudah diketahui, perjalanan karier Edi Darna-
di belakangan ini, sepertinya “sinkron” dengan “langkah laskar ja-
had” ke Maluku! Pada mulanya, Edi Darnadi bertugas di Jawa
Barat, di seputar daerah Bogor, yang dijadikan ajang latihan ka-
muflase “laskar jahad”! Mereka sebenarnya “sudah terlatih” se-
cara militer, baik sebagai “lulusan sekolah teroris yang terkatit de-
ngan Mujahidin dan Taliban”, dan karena terdiri dari “para deser-
tir TNI/Polri”! Setelah itu, Edi Darnadi dipindahkan ke Jawa Ti-
mur sebagai Wakapolda, dan menjadi “penyalur laskar jahad be-
serta, persenjataan dan amunisi standar TNI/Polri ke Maluku, di
dalam kerja sama terselubung dengan Pangdam Brawijaya, “Sudi
Silalahi”! Setelah “laskar jahad” (termasuk counterpart teroris
dari Afganistan, Malaysia, Moro, dll) bebas keluar-masuk Malu-
ku, Edi Darnadi “disusulkan ke Maluku”, untuk melanggengkan
proyek biadab “laskar jahad” di Maluku!

Seperti kita sudah tahu, sebentar lagi Edi Darnadi sudah harus le-
pas jabatan Kapolda Maluku kepada penggantinya! Belakangan
terlihat adanya suatu “kebiasan baru” dari Kapolda Maluku, un-
tuk “meninggalkan tanda mata bagi Maluku”, berupa “masalah
baru”, yang kembali memperkeruh dan merusuhkan suasana, se-
belum mereka angkat kaki dari Maluku! “Masalah baru” itulah
yang akan saya bicarakan sekarang ini!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
Polda Maluku: FKM Organisai Terlarang; Laporan: Sukirno
Ambon-RoL -- Polda Maluku menetapkan organisasi Front Kedaulatan Maluku
(FKM) sebagai organisasi terlarang. Kapolda Brigjen Edi Darnadi meminta
semua anggota FKM untuk menghentikan segala bentuk aktifitasnya di Maluku.
  Menurut Kapolda, penegasan tersebut dikeluarkan karena Pimpinan Eksekutif
FKM, Alex Manuputty, saat ini telah menjadi tersangka dalam kasus pengibaran
bendera Republik Malu-ku Selatan (RMS), 25 April lalu. “Berkas Acara
Pemeriksaan (BAP) tersangka Alex telah dianggap lengkap oleh Kejaksaan
Tinggi dan tinggal menunggu waktu sidangnya saja,” kata Edi Darnadi kepada
wartawan saat menggelar konferensi pers di ruang kerjanya, Selasa (25/9)
kemarin.

JOSHUA:
Sebenarnya, tidak ada alasan bagi Kapolda Maluku, Edi Darnadi,
untuk memberikan “penetapan dungu tentang FKM”! Polda Ma-
luku beada di bawah koordinasi PDSD - Maluku, dan ketetapan
yang “sama” sudah dikeluarkan PDSD - Maluku! Alasan yang di-
kemukakan Edi Darnadi untuk mengeluarkan “penegasan tum-
pang tindihnya”, juga terkesan mencong! Seseorang yang masih
berstatus tersangka, belum bisa dikatakan “bersalah”, sebelum si-
dang Pengadilan memutuskannya! Lalu, apa alasan Kapolda bego
ini untuk menunjukkan “lagak kosongnya” itu? Untuk “menutupi
tindakan brutal bodoh Polres Maluku Tengah, dan Yongab picisan
Sipur dan Yon-731, atas instruksi Polda Maluku (bersama PDSD-
Maluku, terhadap “Tua-Tua Adat Maluku, dan dua Wartawan, di
Waisarisa”! Tujuan utama Darnadi adalah menciptakan kemelut
baru, dengan mencoba mementahkan masalah tentang FKM dan
RMS, untuk melanggengkan “proyek bidab laskar jahad” di Malu-
ku, dengan mengalihkan perhatian umum dari “sorotan tajam” ter-
hadap terorisme internasional, belakangan ini! Rincian dari upaya
Edi Darnadi ini akan terungkap di dalam bahasan lanjut!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
Sebelumnya pelarangan terhadap segala aktifitas FKM telah dikeluarkan oleh
Penguasa Darurat Sipil Daerah Maluku (PDSDM), Gubernur Saleh Latuconsina.
Melalui Surat Keputusan No. 09A/ PDSDM/
IV/2001, Gubernur melarang organisasi yang bernama FKM melakukan kegiatan
yang bertentangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk
pengibaran bendera RMS. Hanya saja, larang-an PDS Maluku itu tidak
digubris oleh FKM. Pembangkangan terhadap larangan PDS itu ditunjukkan FKM
dengan melakukan upacara peringatan kemerdekaan RMS yang diikuti dengan
pengibaran ben-
dera RMS pada tanggal 25 April 2001 lalu.

JOSHUA:
Pada hakekatnya, “larangan PDSD-Maluku” pada waktu itu ada
dua, yaitu terhadap FKM dan Radio SPMM! FKM ditangkap dan
sempat menjadi “bulan-bulanan” permainan Firman Gani-Biman-
toro, tetapi SPMM tetap membangkang dan melanjutkan “siaran
provokasi dan pemutar - balikan kebenaran, dan hampir menjadi
penyebab ditariknya YonGab (asli) dari Maluku (peristiwa swee-
ping sarang penyamun yang dinamai poliklinik)! Ketidak-tegas-
an PDSD-Maluku, untuk menegakkan larangannya, sehingga ma-
salah seputar FKM ini jadi berlarut-larut hingga sekarang ini, di-
sebabkan oleh “impotensi PDSD-Maluku” sendiri, terhadap “las-
kar jahad”, untuk mengenyahkan mansia - manusia pelayan iblis
itu dari Maluku! Di akhir masa-baktinya yang tidak membawa
kebaikan apa-apa bagi Maluku, sesuai dengan “tekad” yang diku-
mandangkannya ketika mulai menapak di Maluku, Edi Darnadi
berusaha “menyorot FKM dan RMS” sebagai “wujud nyata dari
pelaksanaan tugas terselubungnya bagi “laskar jahad”!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
“Larangan kali ini juga merupakan penegasan kembali atas larangan dari PDS
terhadap keberadaan FKM. Dan kalau para anggota organisasi itu masih terus
melakukan kegiatan di Maluku maka akan ditindak. Karena FKM organisasi
terlarang,” tegas Kapolda Edi. Dia menegaskan kalau bukti ten-tang
keberadaan FKM sebagai organiasasi terlarang sudah jelas. Mengibarkan
bendera RMS dan mempunyai bendera sendiri itu membuktikankalau mereka
organisasi terlaran,” tegasnya.

JOSHUA:
Lihat arugmentasi “konyol” dari seorang Kapolda yang notabe-
ne adalah seorang Perwira Tinggi Polri! Bukti tentang keberada-
an FKM sebagai organisasi terlarang, bukanlah “apa yang dilaku-
kan oleh FKM”, tetapi “Surat Larangan PDSD-Maluku itu sendi-
ri! Kalau tidak “dungu”, jadilah Edi Darnadi seorang “penipu”!
Bukti tentang “kebiadaban laskar jahad” sudah setinggi bubung-
an rumah, dan keterlibatan mereka dengan teroris Internasional,
sudah senyata batang hidungnya Edi Darnadi, tetapi gerombolan
berbaju agama ini bukan “organisasi terlarang”, sebab Pemerin-
Indonesia dan PDSD-Maluku lebih suka memelihara iblis, dari-
pada bertindak benar demi Tuhan, Agama dan sesama manusia,
yang adalah rakyat Indonesia sendiri!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
Hanya saja, Edi Darnadi mengakui BAP Alex Manuputty yang telah diserahkan ke
pihak Kejaksaan itu hanya mengenai pasal tindak pidana melanggar keputusan
PDS saja. Alex Manuputty, lanjut Darnadi, hanya dikenai tuduhan melanggar
pasal 46 UU No. 23 dan Peraturan Pemerintah (PP) Tahun 1959 tentang Darurat
Sipil, yakni tindak pidana melanggar larangan PDSD Maluku dengan ancaman
satu tahun saja.

JOSHUA:
Mengapa setelah berkoar-koar tentang “Penaikan Bendera RMS”,
Edi Darnadi hanya sampai pada “tuduhan melanggar Larangan
PDSD-Maluku”? Itupun baru berupa “tuduhan”, yang masih ha-
rus disidangkan untuk mendapatkan Keputusan Pengadilan! Itu-
lah yang saya namakan “lagak kosong” seorang Kapolda dungu!!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
Ditanya mengapa pasal yang dikenakan terhadap dedengkot FKM itu bukan pasal
makar terhadap negara, Kapolda mengakui, pengibaran bendera RMS yang telah
dilakukan Alex Manuputty belum cukup dijadikan bukti, kalau yang
bersangkutan telah melakukan tindakan makar.

JOSHUA:
Ini yang menarik! Bendera RMS sudah berkibar di “tanah Pusa-
ka Alif Ur”, tetapi tidak bisa disebut “makar”! Mengapa? Kare-
na RMS memiliki segenap “kelayakan yuridis” sebagai “Negara
Merdeka dan Berdaulat! Yang melakukan “makar” adalah Soe-
karno dan RI! Surat “tantangan” FKM kepada Pemerintah NK-
RI, MPR/DPR dan berbagai cecurut yang gemar menyebut kata
“makar”, sampai sekarang “tidak berbalas”! Mengapa bisa jadi
begitu? Karena di dalam negara morat-marit ini, tidak ada se-
ekor kecoak-pun yang mampu mendebat FKM! Semua membisu
di dalam kemunafikan dan kepengecutan!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
Kapolda juga membantah kalau pihak kepolisian sengaja mengarahkan kasus Alex
Manuputty kepada tindak pidana ringan (Tipiri). Untuk memperjelas
penyataannya itu, Kapolda memerintahkan anggota Ditserse Polda Maluku, AKBP
Yan Hitalessy membacakan pasal 87 dan 106 KUHP tentang tindakan makar
terhadap negara yang diancam seumur hidup atau sedikitnya 20 tahun penjara.

JOSHUA:
Dalam hal ini, Edi Darnadi berkata benar! NKRI jadi “ompong”
jika berhadapan dengan kebenaran tentang RMS! Kalau saya
tidak salah, “Hitalesy” itu adalah “marga asli Rumahtiga”! Hei
nyong Yan, “Apakah menyelundupkan teroris internasional ke
dalam teritorial NKRI, untuk merusuh, menjarah, merampok itu
termasuk tindakan merongrong kedaulatan Negara dan bisa dise-
but “makar” atau tidak?” Mengapa kamu diam saja ketika “ku-
buran nenek moyangmu dijarah” oleh “larkar biadab” itu? Dari-
pada sibuk dengan FKM dan RMS, tendang saja para “kambing
kelaparan” itu dari Tanah Pusaka Leluhurmu!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
“Namun tidak menutup kemungkinan tersangka akan dikenai pasal makar itu.
Karena, proses peradial-an ini hanya sebagai permulaan saja. Kami masih
bedakan antara melanggar larangan PDS dan tindak-an makar. Kali ini baru
tuduhan melanggar maklumat PDS, makarnya bisa saja menyusul,” tandas
Darnadi.

JOSHUA:
Sudahlah Edi Darnadi! Jangan mengobral bualan kosongmu lagi!
Istilah “makar” itu adalah “momok besar” bagi NKRI, jika berbi-
cara tentang RMS! Jika para “ahli hukum” saja sudah menciut
di hadapan FKM, apalagi kamu seorang Kapolda Dungu? Kamu
hanya pandai untuk menggunakan fasilitas negara dan menjual
kedudukan, serta menghianati Sumpah Prajurid, demi kesejahte-
iblis di dalam ujud manusia yang mengaku ‘paling beriman’-“las-
kar jahad”!

SOURCE: REPUBLIKA ; DATE: 2001-09-25
Seperti diketahui,FKM adalah sebuah organisasi di Maluku yang memperjuangkan
dikembalikannya kemerdekaan RMS. Organisasi pimpinan ALex Manuputty itu
mengklaim, RMS telah merdeka di Maluku pada tanggal 25 April 1950 lalu. FKM
juga menuding, kemerdekaannya itu telah dianeksasi oleh Negara Kesatuan
Republik Indonesia.jun

JOSHUA:
Dengarlah “republika idiot”! Perjuangan FKM adalah “me-
ngembalikan Kedaulatan Rakyat Maluku atas Maluku, supaya
Maluku tidak ditindas dengan tipuan “makar”, tidak dirampok
oleh keserakahan NKRI dengan alasan Kepentingan Nasional,
dan supaya anak-anak Maluku tidak dijadikan “pengungsi di da-
lam rumahnya sendiri! Hei idiot! Yang merampok RMS pada
tahun 1950, “bukan NKRI”, tetapi “RI”,sebagai “Negara Bagian
dari RIS!

Bukankah kalian ini “asuhan ICMI”? Mengapa tidak mintakan
Adi Sasono, si “Ketua Drop Out” itu untuk menyusun Tim Pem-
bela RI? Katanya kalian itu “lebih nasionalistis”!? Atau mung-
kin karena ICMI itu adalah “Ikatan Cendawan Musiman Indone-
sia”, yang melacurkan Islam untuk meraih posisi, karena terlalu
pengecut untuk bersaing secara fair? Karena cendekia kalian
sudah berjamur dan bercendawan oleh kebusukan akhlak kalian,
maka “omongan beberapa ekor kambing congek, kalian jadikan
“seruan ilahi” untuk menipu, membodohi, dan menghasut umat!!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Berantas Dahulu RMS, Baru Ambon Damai
Keputusan itulah yang selama ini ditunggu-tunggu. Selama ini, warga Ambon,
terutama umat Islam, merasakan kehadiran organisasi itu sebagai ganjalan
bagi upaya perdamaian. Sementara itu, aparat menunjukkan kesan enggan
menindak mereka --kendati sejumlah fakta jelas menunjukkan organisasi ini
tak mengakui keutuhan RI.

JOSHUA:
Apa saya bilang? Inilah “tujuan utama” dari tindakan dungu si
Edi Darnadi! “Putusan idior” itu langsung ditelan mentah-men-
tah oleh beberapa kambing dungu yang segera “membolak-balik
kenyataan” untuk menyusui iblis dan memeram kebusukan me-
reka! Warga Muslim asal Buton dibunuh dan digantung, kare-
na berhubungan dengan warga Kristen! Malik Selang, SH. dia-
niaya hampir mati, karena memelopori rekonsiliasi! Rumahnya
Yuisuf Ely dibom, karena ikut gerakan “baku-bae”! Pasangan
suami-isteri dan rumahnya dibom, karena tidak setuju dengan
kebiadaban “laskar jarah”! Lalu, damai kotoran onta apa yang
ada di balik jubah dan sorban munafik kalian? Apakah kamu
mengakui “kedaulatan NKRI” dengan menyusupkan teroris in-
ternasional dari Afganistan, dll, dengan menunggang agama???

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Tentu saja ini ganjalan besar bagi perdamaian di Maluku. Ini tecermin pada
sebuah spanduk besar di atas ruas Jalan Diponegoro, Ambon, tepatnya di
perbatasan antara desa Batu Merah dan Mardika, Kecamatan Sirimau.
"Anda Memasuki Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. RMS Dilarang
Lewat," demikian bunyi spanduk itu. Masyarakat Muslim Batu Merah melarang
pihak Kristen melewati jalan itu, karena menganggap mereka mendukung gerakan
separatis Republik Maluku Selatan (RMS) yang ingin memisahkan diri dari RI.

JOSHUA:
Dasar “pendusta idiot yang mengaku amat beriman dan pandai”!
Hei penipu! Jalan Diponegoro itu mulai dari Makodam Pattimu-
ra, sampai ke Tugu Trikora! Lain kali jika ingin bikin spanduk,
tulislah “Anda memasuki daerah jarahan laskar biadab! Yang ti-
dak mau membiadab dilarang masuk!” RMS itu bukan Taliban,
dan NKRI bukan Afganisetan!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
RMS itu pulalah yang selama ini dianggap menjadi dalang kerusuhan di Ambon
dan Maluku. Sejak mula kerusuhan meletus, 19 Januari 1999, tanda-tanda
adanya gerakan separatis itu sudah terasa. Itu bisa dilihat dari yel-yel RMS
seperti nunusaku dan menamoeria diteriakkan pasukan penyerang umat Islam.
Selain itu, bendera RMS tertancap di ujung kota dan hutan di Pulau Ambon,
Lease, dan Seram. Sejumlah dokumen RMS juga banyak ditemukan.

JOSHUA:
Sudah lihat akibat “kebodohan Kapolda” Edi Darnadi? Tanda-
tanda kerusuhan dimulai dengan “Peresmian Posko dan Tim
Idul Fitri Berdarah”, oleh MUI-Maluku, di Al Fatah, pada tang-
gal 6 Januari 1999”! Kerusuhan Maluku dimulai pada tanggal
19 Januari 1999, sekitar pukul 15.30 sore, dengan penyerangan
dan pembakaran rumah-rumah warga Kristen di Mardika dan Si-
lale! Jika tidak percaya, tanyakan “Saleh Latuconsina”! Saya
sudah berulang-kali menantang dia, tetapi namanya juga sontong
(cumi-cumi), mana dia berani berkata benar atau membantah sa-
ya!?

Maluku pernah diramaikan oleh “isu-isu dokumen RMS” yang
disponsori oleh “Suaidi Marasabessy”, tetapi kemudian hilang
karena “K.A. Ralahalu menyita sekitar 50 lembar bendera RMS
dari Al Fatah”, yang disiapkan untuk disusupkan ke wilayah-wi
layah Kristen! Tentu saja Al Fatah tahu persis komposisi dan
warna Bendera RMS, karena “Abdullah Solissa”, Ketua Yayas-
an Al Fatah, adalah “bekas gembong RMS”- Sekretaris RMS!!!
Setelah “Penyitaan ratusan lembar Bendera RMS dari daerah
Muslim-Galunggung”, isu-isu tentang RMS-Kristen praktis le-
nyap, hingga kedatangan “laskar biadab” yang mendakwah de-
ngan Mortir dan M-16!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Selain itu, ada pengakuan dari Presiden RMS FLJ Tutuhatunewa dari
pemerintahan pengasingannya di Belanda bahwa RMS berada di belakang
peristiwa-peristiwa yang terjadi di Maluku. Semua petunjuk tentang
keberadaan gerakan separatis itu ditangkis dengan sengit melalui komentar
bahwa RMS telah mati.

JOSHUA:
Lihatlah “akhlak ular” dari manusia-manusia yang gemar bersor-
ban ini! Saya sendiri membaca pernyataan “FLJ Tutuhatunewa,
berulang-ulang kali, dan pernyataan seperti “racun ular” di atas
tidak ada. Beliau malah menyatakan bahwa “RMS itu milik Sa-
lam-Sarani Maluku”. Tetapi mana pernah iblis-iblis berujud ma-
nusia ini mampu untuk jujur? Untuk berdusta saja, mereka ha-
nya mampu membuat kalimat-kalimat yang tidak karuan ujung-
pangkalnya seperti di atas!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Lalu Front Kedaulatan Maluku (FKM) muncul ke permukaan sebagai reinkarnasi
RMS. Organisasi ini memperingati kemerdekaan RMS dan mengibarkan bendera
RMS, 25 April lalu. "Bagaimana kami tidak marah, tidak ada warga Kristen
yang memprotes RMS. Ini menunjukkan mereka semua RMS," kata seorang aktivis
sebuah ormas di Ambon, Salim Samsudin.

JOSHUA:
Apa memang benar bahwa manusia-manusia yang paling Islam”,
“berakhlak serendah ini? Mereka hanyalah “penunggang dan
penista Islam”! Anda buka saja file-file tulisan saya, dan anda
akan melihat “berbagai komentar warga Kristen Maluku yang
menentang RMS”! Anda bisa melihat berbagai komentar yang
menentang RMS, dari anggota RPDD - Maluku, bekas anggota
MPR, Dosen UKIM dan Unpatti, yang “Kristen”! GPM malah
tidak ketinggalan untuk mengganjal RMS dengan “Pesan Tobat”
nya! Hanya makhluk-makhluk binaan iblis yang bisa memutar-
balikkan kebenaran seperti ini! Mereka tidak perduli pada etika,
tidak punya malu, dan menunggang Islam, agar dusta mereka bi-
sa merasuk ke dalam jiwa umat Islam yang tidak tahu apa-apa!!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Pendapat senada dikemukakan Abdullah Latuapo, dosen Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN) Ambon. "Pertumpahan darah di Ambon yang terus
berlarut-larut merupakan aktualisasi dari rencana RMS yang dibangun selama
50 tahun terakhir oleh para pemimpin dan kader RMS di dalam dan luar
negeri," katanya.

JOSHUA:
Mengapa “mental busuk” seperti ini sering dipamerkan oleh bebe-
rapa Dosen STAIN-Ambon(lihat dusta dan hasutan dosen STAIN
lain tentang Poka-Rumahtiga)! Jika para Dosennya sebusuk ini,
bagaimana lagi mental mahasiwanya? Anjing saya juga tahu ka-
lau konflik berkepanjangan ini disebabkan oleh “laskar jarah”, yg.
“membiadab” di Maluku dengan dalih melakukan “dakwah dan
kegiatan sosial”! Apakah “Markas Brimob Tantui-Ambon” itu,
adalah “markas RMS” sehingga dihancurkan dan dijarah “laskar
jahad”? GMKI tidak pernah berbicara tentang RMS, baik secara
resmi maupun tidak resmi, seperti “Seminar HMI-Maluku”, yang
berisikan Makalah berjudul “Perjuangan belum selesai, sebelum
Maluku di-Islamkan”! Banjir BBM dan pendatang luar Maluku,
yang membuat “Pertumbuhan Penduduk Ambon menggila mele-
bihi jumlah pertumbuhan semua kota-kota di Indonesia”, adalah
“fakta dari siapa yang sedang mempersiapkan rencana jahad atas
Maluku”!!!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Sesepuh Maluku, Abdullah Soulisa (81), juga melihat adanya kesamaan
kerusuhan saat ini dengan kondisi 50 tahun silam, ketika Dr Soumokil bersama
sejumlah pasukan bekas KNIL melakukan pemberontakan dari NKRI. "Saat itu,
terjadi pembakaran kampung-kampung, pembantaian, dan pengusiran. Korbannya
sama, umat Islam," kata saksi sejarah yang kini menjadi Ketua Yayasan Al
Fatah, Ambon itu.

JOSHUA:
Hanya karena ingin “memeram kebusukan Al Fatah” di dalam
merancang dan mengeksekusi “Proyek Lebaran Berdarah”, maka
“bakas gembong RMS” seperti Abdullah Solisa menjual jiwanya
pada iblis! Jika RMS menghantam Muslim Maluku, mengapa de-
sa Muslim Tulehu di Ambon, menjadi salah satu “Basis RMS”??
Jika RMS memusuhi Muslim Maluku, mengapa “Duba Latucon-
sina” dengan bangga menamai anaknya yang mantan Ketua DPR-
D-II Ambon, dengan nama “RMS Latuconsina” (Pak Wan Latu-
consina)? Jika benar bahwa oknum-oknum ini “berjuang di jalan
Allah demi kebenaran”, mengapa mereka ‘tidak berani’ membuat
semacam “Seminar Resmi Tentang RMS, atas dukungan KBRI-
di Den Haag? Karena mereka sebenarnya “alergi terhadap kebe-
naran”, sehingga hanya mampu mencicit di dalam parit gelap dan
berbau busuk, untuk menipu dan menghasut umat!

Abdullah Solisa sendiri sudah harus sadar, bahwa “sebelah kaki-
nya sudah ada di dalam liang kubur”! Jika benar RMS memban-
tai Muslim Maluku, maka “tangan Abdullah Solisa juga berlumur
an darah Muslim Maluku”! Daripada memberati pocongmu de-
ngan timbunan dusta-khianat terhadap RMS, dan lebih banyak la-
gi darah dan nyawa warga Maluku, lebih baik kamu tidak bicara,
jika tidak lagi mampu untuk bicara benar, Dullah!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Setelah perang dan kerusuhan panjang yang menelan ribuan nyawa itu, warga
Maluku mungkin sudah terbiasa hidup dalam suasana tanpa harapan. Aksi bunuh,
meratakan desa dan tempat ibadah, menjadi peristiwa biasa. Padahal kuburan
terus digali dan nisan-nisan baru terus ditancapkan. Sebagai manusia, mereka
tentu ingin hidup normal. Tapi bagaimana caranya, itulah yang tak kunjung
terjawab, karena akar persoalan tak pernah disentuh.

JOSHUA:
Kami, warga Salam-Sarani Maluku, yang terikat di dalam Persau
daraan “Pela-Gandong”, bukan sudah biasa, tetapi sudah “lelah
dan bosan” berperang dengan saudara kami sendiri, selain sudah
muntah-muntah karena melihat kekotoran “laskar jarah” dan “pa-
ra penipu umat Islam di sarang ular - Al Fatah”! Yang “pertama
dan terbanyak” menjadi korban jarahan dan bakaran adalah Gere-
ja! Hal ini tidak terbantah, dan dapat dimaklumi, hanya dengan
melihat “seribuan Gereja-Gereja di Indonesia”, yang dirusak dan
dibakar! “laskar jarah” tidak pernah membuat nisan, tetapi “Sa-
lome” (satu lobang rame-rame), yang digali dengan traktor, lalu
baik yang sudah mati, atau yang masih sekarat, “digancu dan di-
lempar ke dalam Salome”! Jika “laskar jarah” pernah menggali
nisan, maka yang digali adalah “kuburan tua warga Kristen”, un-
tuk “dijarah”! Kalian benar bahwa “akar permasalahan belum
disentuh”, sebab akar permasalahan itu adalah “Posko dan Tim
Advokasi Lebaran Berdarah”, yang diresmikan MUI-Maluku pa-
da tanggal 6 Januari 1999 di Al Fatah” dan “laskar haram jadah”!

SOURCE: REPUBLIKA; DATE: 2001-09-26
Karena RMS sudah terbukti berada di belakang semua aksi kekerasan itu, maka
satu-satunya solusi adalah memberantas kekuatan laten itu. Selanjutnya,
orang-orang yang terlibat ditangkap dan diadili. "Dalang konflik Ambon dan
Maluku itu sudah jelas. Sekarang tunggu apalagi?" tegas Ketua Pengurus
Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Maluku, Abdul Karim Rahayaan. sukirno

JOSHUA:
Inilah “Kei” yang ;paling dungu, busuk dan munafik, yang per-
nah saya kenal! Si Mulut Kudis ini hanya bilang “sudah terbuk-
ti-sudah terbukti”, padahal “Suaidi Marasabessy” saja tidak be-
cus membuktikannya, lalu menebar isu-isu dusta, sambil menja-
hit ratusan Bendera RMS di Al Fatah dan Galunggung, untuk di-
susupkan ke daerah Kristen! Iblis berjubah ini menunjuk FKM
sebagai dalang kerusuhan Maluku, padahal FKM baru diresmi-
kan pada bula Desember 2000, sedangkan Putusan Pengadilan
hanya akan berkisar pada “bersalah atau tidak bersalah” terha-
dap PDSD-Maluku, dengan menaikkan Bendera RMS! FKM
malah belum pernah melayangkan nyawa seekor kambingpun!!
Seisi dunia sudah tahu, bahwa “kekerasan sekarang ini berkisar
pada masalah terorisme internasional”, dimana “laskar biadab”
terlibat di dalamnya! Jika warga Kristen Maluku adalah kader-
kader RMS yang membenci NKRI, maka Aparat TNI/Polri tak
akan “lebih suka dijamu-makan pada warga Kristen” daripada
di Al Fatah, karena takut diracuni karena bersikap netral (kebia
saan meracuni Aparat ini kemudian hendak disangkutkan ke
warga Kristen, melalui cerita dusta di RS-AU, Tawiri, ingat?)!

Sebenarnya, “paling mudah” untuk mengenali dan membekuk
para “perancang dan pelaksana kerusuhan Maluku”! Orang
orang menghubungkan Konflik Maluku dengan FKM/RM, ada-
lah orang yang dicari, yang sedang berusaha untuk melindungi
kejahadannya dengan mengkambing-hitamkan RMS! Mereka-
mereka yang rajin menyuarakan “RMS-Kristen” itulah “penja-
hadnya” yang asli, tetapi yang menggunakan “sorban dan jubah
serta jenggot dua tiga helai”, untuk berlindung sambil menung-
gangi Islam!

Sekarang anda sudah melihat “tanda mata dari Kapolda Malu-
ku yang akan enyah dari sini”, dan sudah memahami tujuan da-
ri tindakan “kalpoda dungu”, Edi Darnadi! Penegasan si Edi
Darnadi yang tumpang-tindih dan ngawur, lalu disergap, diolah
serta disebarkan oleh “duet penghasut republika-laskar jarah”,
untuk menipu dan menghasut umat Islam, agar kebiadaban si
“larkar jahad” di Maluku, bisa dihalalkan, ditunjang dan dilang-
gengkan! Karena ingin membiadab juga di Poso, maka “laskar
biadab” lalu “mentransfer RMS ke Poso”, melalui “tesis idiot”
si Ayip Syafrudin, bahwa warga Kristen Poso juga adalah bang
sa Alif Ur atau Alifuru”! Nanti Papua dan Manado juga sama,
turunan Alifuru! Mereka ini adalah “ular beludak yang berku-
litkan jubah, bersisikkan sorban, dan berliur-bisakan dakwah”,
yang harus dienyahkan dari bumi Pertiwi, sekali dan untuk se-
lamanya, jika negara ini harus maju!

Salam Sejahtera!
JL.

----- End of forwarded message from Joshua Latupatti -----