[NEWS] MEDIA - Jenderal Pembaru dalam TNI-AD

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Fri Oct 05 2001 - 20:40:37 EDT


X-URL: http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2001100600250030

   Jenderal Pembaru dalam TNI-AD
   Media Indonesia - Opini (06/10/2001 00:25 WIB)
   Oleh Aris Santoso
   
   Pengamat kemiliteran
   
   SEJAK berdiri tahun 1945, TNI (khususnya Angkatan Darat) telah
   menghasilkan sekian ribu jenderal, mulai bintang satu (brigjen) hingga
   bintang empat (jenderal penuh). Bahkan ada jenderal bintang lima.
   Namun, dari sekian ribu jenderal itu tidak banyak nama-nama jenderal
   yang tetap dikenang publik. Pada umumnya para jenderal tersebut
   dikenal masyarakat saat masih berdinas aktif saja, misalnya sebagai
   pangdam atau pejabat di Mabes TNI dan Mabes TNI-AD. Jika telah
   memasuki masa pensiun, secara perlahan nama mereka mulai dilupakan.
   
   Fenomena seperti itu terkesan alamiah, bahwa orang dikenal karena
   jabatan atau kekuasaannya. Dan kemudian mulai dilupakan, ketika ia
   lengser dari kekuasaan atau jabatannya. Dari buku yang disunting oleh
   Harsya W Bachtiar (Siapa Dia? Perwira Tinggi TNI-AD
   , 1990), kita akan menemukan beberapa nama jenderal yang mungkin agak
   `asing` di telinga awam, seperti Brigjen TNI Machmoed Abdoellah (hlm
   56), Brigjen TNI Djadja Djoehari (hlm 103), Brigjen TNI Koempoel
   Moertadji (hlm 209), Mayjen TNI Drs Moeljono Hadinoto (hlm 116),
   Mayjen TNI Sri Hardiman SH (hlm 121), Mayjen TNI Harsono Reno Oetomo
   (hlm 231), Brigjen TNI Parwoto (hlm 239), Mayjen TNI Mohammad M Rowi
   (hlm 265), Brigjen TNI Harimoen Sabit (hlm 269), Brigjen TNI Tatang
   Soemantri SH (hlm 365), dan seterusnya. Tentu daftar nama jenderal
   (yang kurang dikenal) itu masih bisa diperpanjang lagi. Satu hal yang
   jelas adalah menjadi seorang jenderal butuh perjuangan berat, namun
   lebih berat lagi bila ingin terus dikenang masyarakat.
   
   Apresiasi seni
   
   Salah satu syarat untuk selalu tertanam dalam memori publik adalah
   dengan meninggalkan karya (tulis). Terlebih lagi kalau karya tulisnya
   memberi wacana baru dalam bidang kemiliteran, seperti yang dilakukan
   oleh Almarhum Jenderal Purn Soemitro dan Almarhum Letjen TNI Agus
   Wirahadikusumah. Ada juga tipe jenderal, meski terhitung jarang
   menulis, namun karena pendapat dan gagasannya membawa angin pembaruan,
   seperti Alm Letjen TNI Purn Sarwo Edhi Wibowo dan Alm Letjen TNI HR
   Darsono (Pak Ton), namanya akan selalu dikenang.
   
   Beberapa jenderal dari generasi yang lebih baru, yang juga aktif
   menulis, antara lain Jenderal Purn SB Yudhoyono, Letjen TNI Agus
   Wijoyo, Mayjen TNI Saurip Kadi, Brigjen TNI Ismet Herdi (kini
   Kadispenad). Termasuk beberapa yang masih berpangkat kolonel yakni Kol
   CZI Syarifudin Tippe (mantan Danrem 012/Teuku Umar), Kol Art Prijanto
   (Komandan Resimen Artileri Kostrad), dan Kol CHB Heru Sukmadi. Tentu
   saja untuk bisa menulis, perlu banyak membaca agar wawasan menjadi
   luas dan inspiratif. Minat baca inilah yang coba didorong oleh Letjen
   TNI Purn Yunus Yosfiah, saat menjabat Komandan Pussenif dulu,
   mengingat rendahnya minat baca di kalangan perwira. Minat baca ini
   perlu ditradisikan, jangan hanya rajin membaca di saat mengikuti
   pendidikan saja.
   
   Hal lain yang perlu diberi catatan, adalah rendahnya apresiasi seni
   pada kalangan perwira. Ini bisa kita lihat pada acara
   perayaan-perayaan di lingkungan tentara, biasanya selalu diisi dengan
   pertunjukan musik dangdut atau tari poco-poco. Boleh-boleh saja diisi
   acara kesenian seperti itu, namun perlu ada variasi lain, pada jenis
   kesenian yang lebih serius, misalnya drama, musik rock, atau tari
   kontemporer.
   
   Apresiasi seni berkorelasi dengan kehalusan budi. Mudah-mudahan dengan
   meningkatnya apresiasi seni di kalangan tentara, tindak kekerasan dari
   aparat militer pada warga sipil, atau `tawuran` antarpersonel seperti
   yang terjadi baru-baru ini di Madiun bisa diminimalisasi.
   
   Padahal, kalau seandainya apresiasi seni para perwira itu memang benar
   rendah, ini sesungguhnya merupakan degradasi sebagai alumni Akademi
   Militer Magelang. Karena, saat peresmian AMN pada 11 November 1957,
   turut dimeriahkan pula dengan pementasan sandiwara Penggali Intan
   karya Kirdjomulyo. Ini pentas seni yang bermutu karena dibesut oleh
   tokoh teater Yogya Nasjah Jamin, dengan pemain yang di kemudian hari
   menjadi aktor termasyhur seperti Kusno Sujarwadi dan M Nizar.
   
   Ironis
   
   Namun, sesuatu yang ironis terjadi. Perwira-perwira yang kaya gagasan
   seperti Alm Letjen TNI Agus Wirahadikusumah dan Alm Jend Soemitro
   biasanya justru terpinggirkan posisinya. Sangat jelas pada kasus Alm
   Letjen Agus WK, karena pemikirannya yang progresif, ia dikucilkan dari
   komunitas perwira tinggi dan TNI pada umumnya. Termasuk perwira yang
   dianggap rekan dekatnya, Mayjen TNI Saurip Kadi dan Brigjen TNI Robert
   Romulo Simbolon.
   
   Di masa 1950-an dulu, ada juga perwira yang nasibnya mirip Letjen TNI
   Agus WK, yaitu Kolonel Bambang Supeno. Karena pemikirannya terlalu
   `maju` (untuk masa itu), ia juga disingkirkan oleh Nasution dkk.
   Namun, nama Kol Bambang Supeno akan terus dikenang karena ia adalah
   konseptor Sapta Marga meski hal itu hampir dilupakan orang.
   
   Dengan meninggalnya Letjen Agus WK, kubu perwira progresif memang
   kehilangan pilar utamanya. Praktis kekuatan `kubu` ini telah sirna.
   Kini yang dominan di kalangan TNI-AD adalah `kubu` perwira gradualis.
   Perwira yang tetap menginginkan perubahan internal, namun secara
   bertahap, yang direpresentasikan oleh Letjen Agus Wijoyo (Kaster TNI)
   dan Jenderal SB Yudhoyono.
   
   Tampaknya kalangan TNI kurang toleran terhadap gagasan perubahan yang
   dirasa terlalu drastis. Ini terlihat dari sikap keras mereka terhadap
   `kelompok` Letjen TNI Agus WK. Karena yang dipersoalkan Letjen Agus WK
   adalah paradigma, sesuatu yang lebih ideologis sifatnya.
   
   Kalau pertentangannya kurang bersifat ideologis, misalnya dalam hal
   sharing of power
   , TNI-AD bisa lebih toleran. Ini bisa kita lihat dari ditempatkannya
   kembali perwira-perwira tinggi yang dulu dikenal dekat dengan Letjen
   TNI Purn Prabowo Subianto, seperti Mayjen TNI Mahidin Simbolon
   (Pangdam Trikora), Mayjen TNI Ismed Yuzairi (Komandan Pussenif),
   Mayjen TNI Syafrie Syamsudin (Koordinator Staf Ahli Panglima TNI),
   Brigjen TNI Srijanto (Wadanjen Kopassus), dan Brigjen TNI Zamroni
   (Pangkolakops di Aceh). Beberapa perwira lain, yang dulu dikenal dekat
   dengan Letjen Purn Prabowo, yang masih menunggu formasi adalah Brigjen
   TNI Eddi Budianto (mantan Kasetum Bakorstanas), Mayjen TNI Kivlan Zen,
   dan Brigjen TNI M Idris Gassing.
   
   Pada titik ini kita menemukan sesuatu yang unik, para perwira yang
   dulu sempat terpinggirkan atau dikucilkan karena gagasan-gagasannya,
   justru nama merekalah yang selalu tertanam di memori publik. Oleh
   karena itu, bagi anak-istri, sahabat, dan kerabat para perwira
   tersebut tidak perlu berkecil hati karena nama ayah dan suami mereka
   akan senantiasa tercatat dengan tinta emas.***