[HUMOR] ESAI - Sumpah Pemuda: Renungan Sastra Nasional

From: humor@indopubs.com
Date: Sat Nov 17 2001 - 19:46:35 EST


X-URL: http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1004066873

   galeri esai: gelar karya esai cybersastra
   
   Dimuat hari Jumat, Oktober 26, 2001
   
   Sumpah Pemuda:Renungan Sastra Nasional
   Esai Alexander Robert
   
   Perkembangan sastra nasional yang tersendat-sendat, barangkali,
   menurut asumsi saya ialahmasih minimnya pemakaian bahasa Indonesia
   dalam hal menulis sebuah karya sastra. Dan, gejala masalah bahasa ini
   memang telah kita mahfumkan bersama. Kenyataannya dalam kehidupan
   sehari-haripun masih banyaknya para "pesolek" yang justru berkecimpung
   di bidang tata bahasa ternyata juga belum mampu bebabahasa yang "baik
   dan benar". Namun, bila kita tinjau lebih jauh sebelumnya adalah
   Sumpah pemuda yang dicetuskan tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan
   dasar peletak bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Anggapan ini
   juga diamnini oleh Sutardji Calzoum Bahri jauh sebelumnya Sumpah
   Pemuda sebagai label sastra nasional telah surut ke belakang
   (meskipun) masih mendukung sastra Indonesia (Bentara-Satetless, Kompas
   7 September 2001).
   
   Bahasa Indonesia yang telah ditempatkan sebagai "induk"nya bahasa
   daerah memang harus bersedia berkorban untuk lebih banyak. Sejak
   tercetusnya Sumpah Pemuda lewat persatuan pemuda-pemudi seantero
   nusantara itulah yang mengembalikan asal-muasal kaidah sastra daerah
   yang beraneka ragam di belahan Indonesia.
   
   Tanggal 28 Oktober 1928, barangkali merupakan tonggak sejarah dari
   perjalanan sastra nasional ke arah selanjutnya. Namun, menengok
   kenyataan saat ini? Apakah bahasa Indonesia telah ditempatkan sesuai
   dengan "harapan"nya? Saya rasa tidak. Tujuh puluh tiga tahun kemudian,
   keberadaan bahasa Indonesia mulai dipermasalahkan lagi, mengingat
   banyaknya wacana disintegrasi sebagian daerah yang ingin berpisah dari
   republik. Bahasa Indonsia terkadang pula dianggap sebagai penghalang
   gerakan sastra daerah-yang memang pada umumnya ditulis dengan
   menggunakan bahasa/dialek daerah. Apakah kita membiarkan segalanya
   menjadi kesia-siaan belaka? Bila sudah demikian, saya rasa percuma
   sajalah para pemuda-pemudia di seluruh negeri ini dari berbagai pulau
   menyatakan "perjanjian" bersama, yakni: mengaku berbangsa satu,
   berbahasa satu, dan bertanah air satu. INDONESIA. Sayang, beribu
   sayang, teks Sumpah Pemuda yang begitu "dashyat" yang juga oleh
   Sutardji diklaim !
   sebagai suatu puisi tidak pernah mencapai harapannya. Kembali memaknai
   bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
   
   (1)
   Berbicara mengenai minimnya pemakaian bahasa Indonesia di setiap karya
   sastra atau dalam bentuk wacana lainnya di tengah kehidupan masyarakat
   saya jadi teringat dengan beberapa tulisan yang saya baca di berbagai
   koran. Dalam beberepa rubrik(atau mungkin ini merupakan kebijakan dari
   redaksi saja) nampaknya merasa "minder" untuk menggunakan bahasa
   Indonesia. Atau, dengan menggunakan bahasa asing menunjukkan kepada
   orang lain akan penguasaannya terhadap bahas tersebut? Tengok saja di
   bberapa mndia yang bertaraf nasionalpun-pemakaian kata-kata dalam
   bahasa Inggris juga dominan. Sebagai comtoh, saya ambil koran
   Kompas(21/10/2001) dalam rubrik "Kehidupan" disana ditulisnkepala
   beritanya "Berkaos Kita Teguh, Bercerai Kita Chaos". Memang, menurut
   perkiraan saya kata Chaos tersebut ditulis untuk memadukan kata
   `Berkaos' yang ada didepannya. Namun, bukankan lebih baik diganti
   dengan kata yang tepat kaidahnya dalam bahasa Indonesia!? Seperti
   `rusuh' atau `kacau', misalnya? Saya rasa, peran kita yang total amat
   berpengaruh terhadap perkembangan bahasa persatuan ini ke depan.
   
   Mungkin, saya terlalu sombong atau arogan bila mengharamkan bahasa
   aing untuk singgah dalam kehidupan kita. Namun, kasus "kelatahan"
   berbahsa ini membuat saya berfikir, ternyata sebagai warga negara kita
   terlalu mengecilkan arti dari bahsa persatuan tersebut. Kasus-kasus
   seperti ini juga terus mewabah dan berkembang bila melihat kelakuan
   para pejabat kita yang merasa lebih fasih berbahasa asing dan dengan
   bangganya mengucap/berbicara di muka umum dengan kata ganti
   orang-"you".
   Menengok kenyataan ini, ternyata memang sangat sulit untuk kita
   berusaha mengembangkan bahsa sendiri. Sedangkan, dalam sebuah karya
   sastra yang baik, yang semestinya "menyucikan" tata bahasa ke tempat
   yang sebenarnya malah semakin banyak ditemukan gejala ini. Saya
   sependapat dengan Sutardji, apakah karya sastra yang ditulis dengan
   bahasa daerah layak disebut karya nasional? Meskipun, penggalian kata
   yang dilakukan oleh para sastrawan dapat memperkaya khzanah kata-kata
   kita yang telalu minim ini. Lalu, bagaimana dengan karya yang ditulis
   menggunakan bahasa asing? Saya sendiri, sebenarnya (terkadang) memakai
   bahasa asing maupun unsur daerah dalam membuat suatu karya. Entahlah,
   menurut pandangan saya gejala ini mewabah di setiap karya sastra,
   dikarenakan belum adanya tata cara/peraturan yang jelas bagaimana
   `seharusnya' menulis sebuah karya sastra yang baik. Istilah-istilah
   bahasa asing-terutama kebanyakan dalam bahasa Inggris seakan-akan
   telah mematikan fungsi bahasa Indonesia itu sendiri. Keutuhan bahasa
   Indonesia yang dicetuskan sejak Sumpah pemuda 73 tahun yang lalu telah
   tekontaminasi. Suasana yang timbul di tengah masyarakat kita ialah
   terjadinya bahasa campuran, gado-gado, dan tidak lagi berdiri sendiri.
   
   Kenyataan ini juga tak bisa lagi dingkari bahwa peran pers/jurnalistik
   sangat besar terhadap gejala `perusakan' bahasa. Penulisan suatu
   berita yang terkadang diselingi dengan bahasa asing-tentu telah
   menyisakan peran yang sedikit demi sedikit dalam proses pembentukan
   bahasa itu sendiri. Namun, kita tidak dapat mencegahnya, keadaan
   seperti ini telah menggejala dan sulit dihindari.
   
   (2)
   Sastra nasional yang terbentuk saat ini juga tidak terkepas dari peran
   bahasa `gado-gado' tersebut. Dominannya unsur-unsur daerah dan
   unsur-unsur asing yang ditulis oleh para sastrawan menambah buramnya
   makna bahasa kita. Bahkan, beberapa novel yang meledak, antara lain
   "Supernova" karya Dee dan "Saman" karya Ayu Utami tidak bisa
   menanggalkan jubah pemakaian kata-kata asing. Entah, itu hanya sekadar
   mencocokkan atau untuk menunjukkan besarnya pengetahuan penulis, saya
   tidak tahu. Seperti yang saya kutip di bagian awal Supernova"..ia pun
   langsung merasakan secercah keindahan harmoni antara ua sisi cermin
   kehidupan, antara keteraturan dan ketidakteraturan, yang terjebak dan
   tidak terjebak...orde dan chaos" (halaman 3)-lagi-lagi pmakaian kata
   chaos dan order. Saya bukan bermaksud mengkritik novel yang
   "mnghebohkan" itu tapi saya hanya mencoba memberikan gambaran betapa
   dominannya pemakaian bahsa asing dalam karya sastra. Terlebih lagi
   apabila penulisnya memang memiliki tingkat intelektualitas yang
   tinggi-yang memungkinkan untuk mempelajari bahasa asing secara lebih
   mendalam.
   
   Mengutip esai Sutardji dalam Stateless yang menyatakan ...bagaimanakah
   menempatkan aspek nasional sastra daerah yang dipkerjakan oleh
   pengarang yang menulis dalam bahasa daeah? Tapi saya balik bertanya
   terhadap tulisan Sutardji sendiri, bagaimanakah dengan karya saatra
   yang ditulis dengan memakai bahasa asing? Toh, pada kenyataannya
   bahasa asing dan bahasa daerah tidak jauh berbeda-sama-sama unsur baru
   dalam bahasa Indonesia. Apakah layak disebut sastra nasional?
   
   Saya rasa, mengingat peristiwa Sumpah Pemuda dimana setiap
   pemuda-pemudi dari seluruh negeri dengan ikhlas menyatakan akan
   menjunjung tinggi bahasa persatuan. Kita oerlu berkaca lagi, mengenai
   batasan bahasa Indonesia secara utuh tentang bagaimana mengembalikan
   tatanan bahasa Indonesia secara "baik" dan "benar".
   Meskipun dalam kenyataannya kita tidak dapat menghindari dari gejala
   penyerapan bahasa . Yakni, ketika terjadi pembatasan ruang makna
   bahasa yang kemudian meleburnya dengan cara menyerap dari unsur-unsur
   bahasa asing. Bila masalah yang terjadi seperti itu mungkin dapat
   dimaklumi sebab setelah itu dimungkinkan unsur-unsur baru (dari bahasa
   asing) tersebut akan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia.
   Namun, bagaimana bila tidak? Proses "penyerapan" bahasa asing yang
   dipaksakan akan berbicara lain. Malah bisa merusak tatanan bahasa
   nasional yang sebenarnya.
   
   (3)
   Saya kira, kita mesti arif menyikapi proses penyerapan bahasa "lain",
   baik itu daerahj maupun asing. Oleh karenanya, hal tersebut bisa saja
   mengukuhkan keberadaan sastra nasional dengan meletakkan kembali
   bahasa Indonesia sbagai "induk semang"nya. Kerangka acuan bahasa
   Indonesia yang dipngut dari bahasa Riau yang berdialek Melayu dan
   ditetapkan sejak tercetusnya Sumpah Pemuda harus selalu dijaga
   "keutuhan'nya.
   
   Dengan begitu, label yang diberikan oleh penguasa sastra "pusat"
   tentang perlu atau tidaknya berbahasa yang baik dan benar tidak perlu
   ditanggapi dengan rasa `sakit hati' yang berkepanjangan. Keberadaan
   bahasa daerah yang mendominasi sastra daerah harus tetap dijaga.
   Sehingga perbedaan sikap antara tata cara/ pandangan anta sastra
   "pusat" dan "daerah" dapat diminimalisir. Tentu saja, hal ini akan
   menyemarakkan perjalanan sastra nasional. Ketika unsur-unsur daerah
   mendukung-bahkan menjadi pilar penopangnya.
   
   Untuk itu, kita perlu menengok ke belakang. Apa-apa yang
   melatarbelakangi peristiwa Sumpah Pemuda sehinggamenetapkan bahasa
   Riau/bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan. Karena itu, kita akan
   mencoba memahami perbedaan yang ada. Dalam berbagai tekniik penulisan
   dari daerahyang terlihat munculnya bakat-bakat yang besar. Tanpa harus
   mematikan potensi-potensi orang atau bangsa Jawa, Minang, Batak, Aceh,
   Papua, dll. Sebab, sebagaimana penuturan Nurcholish Madjid-bahwa
   sebenarnya bahasa Indonesia itu tak pernah ada, yang ada hanyalah
   "lingua franca" dan Sumpah Pemuda sebagai pendobraknya hanyalah
   menetapkan rasa "kebersamaan" dengan "berbangsa satu dan bertanah air
   satu."
   
   Karena itu, Sumpah Pemuda merupakan sbuah peletak gagasan yang
   mendasar. Teks yang memberikan "semangat" untuk mendorong ke arah
   perubahan. Dan, sekiranya karya sastra yang lahir setidaknya dapat
   kembali mencetuskan perubahan itu, seperti juga "sastra daerah" yang
   kebanyakan dituliskan dalam tata bahasa kedaerahannya, dapat
   masyarakat, menjadi angi segar yang menyirami tubuh sastra nasional.
   
   Kaidah-kaidah tersebut akan terus berbicara panjang. Sebab, sastra
   nasional kita sendiri masih jauh mencapai tahap kedewasaan. Dan, kita
   tidak perlu lagi mempersoalkan bagaimana seharusnya karya sastra itu
   ditulis, bagaimana cara membuat karya sastra yang baik dan benar.
   Keberadaan sastra daerah akan menjadi rangka penyusun perjalanan
   sastra nasional pada tahapan selanjutnya.
   
   (4)
   Problema yang ada dalam bahasa nasional kita adalah betapa krisisnya
   makna kata-kata kita. Sehingga untuk menggantikannya kita perlu
   berpayah-payah mencarinya ke unsur daerah maupun asing. Banyaknya
   ucapan-ucapan para pejabat yang menggunakan unsur asing setiap kali
   berbicara kian memberikan kesan bila krisis ini telah menyentuh pada
   sisi yang mengerikan. Dan sebagian dari kita, termasuk juga saya,
   barangkali lebih menyukai/mengenal/memahami dalam hal penggunaan
   bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia sendiri.
   
   Dan perjalanan sastra nasional kita sendiri sedang berada pada tahapan
   ini,. Melihat begitu dominannya para sastrawan yang menulis
   menggunakan unsur-unsur asing. Sehingga istilah berbahasa Indonesia
   yang "baik dan benar" malah terkesaan aneh untuk dilakoni. Saya lantas
   teringat sebuah poster yang dipajang di jalan-jalan kampus Unila,
   disitu tertulis:"Ketertiban berbahasa mencerminkan keteraturan
   berfikir dan bertindak." Jelas saja sayamerasa terkejut melihat
   spanduk itu. Tulisan spanduk yang mencerminkan bila kita mmang belum
   (benar-benar-tertib dalam berbahasa. Kira-kira kita berbahasa "semau
   gue", sekenanya. Memalingkan kenyataan dan kaidah yang sbenarnya.
   Lantas? Saya kira, pada hematnya-kita mesti berkaca dalam diri
   sendiri. Sastra nasional saat ini memang masih memerlukan karya-karya
   sastrayang bermanfaat dan meleda-ledak lagi. Tanpa keinginan dari
   dalam diri kita untuk mengubahnya, tentu saja, hal ini, menempatkan
   kembali peranan bahasa dalam sastra nasional seusai dicetuskan Sumpah
   Pemuda tak akan pernah terwujud. Terlebih lagi, bila sikap diri kita
   tiada pernah kunjung berubah. Yang terlalu malu/rendah diri
   menggunakan bahasa yang baik sambil bermimpi menjadi Amerika dengan
   bahsa dan gaya yang kebarat-baratan. Saya, kira kita masih belum
   terlambat untuk itu, mulai sekarang!
   
   Kedaton, 21 Okt 2001