[L] ASA - Re: Arti Penting Mega Mengganti Istilah 'Cina'

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Nov 18 2001 - 17:21:51 EST


Date: Sun, 18 Nov 2001 22:34:12 +0100
From: "A.Supardi Adiwidjaya" <a.supardi@chello.nl>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: ASA - Re: Kolom IBRAHIM ISA, ARTI PENTING MEGA MENGGANTI ISTILAH "CINA"

Rekan-rekan yang budiman,

Setelah membaca dan bahkan merenungkan dengan baik
artikel Bpk. Ibrahim Isa, hati saya tergugah untuk memberikan
tanggapan.
Saya tidak sependapat dengan mereka yang selalu mencoba
mempolitisir dan mempertentangkan lagi istilah/sebutan :
CINA dengan TIONGHOA atau CINA dengan TIONGKOK !

Bagi mereka yang senang menggunakan istilah TIONGHOA untuk
menyebut orang keturunan CINA dan istilah TIONGKOK untuk menyebut
negeri CINA silahkan saja! Mengapa sih dibuat persoalan terus?

Sekali lagi, tidak usahlah membuat persoalan dan mencari-cari alasan
dan bahkan menjurus kepada pemojokkan (mencapnya, misalnya,
dengan "pengikut Orba") jika seseorang menggunakan istilah CINA
untuk menyebut etnis TIONGHOA dan menggunakan istilah CINA
untuk negeri TIONGKOK !

Saya tanya:
Konglomerat LIEM SIOE LIONG itu orang keturunan CINA atau
orang keturunan TIONGHOA ? Dia datang ke Nusantara dari negeri CINA
atau datang dari negeri TIONGKOK ?
Yang jelas Soeharto dan rezimnya pro banget dengan orang CINA yang satu
ini!
Orang CINA yang satu ini memang tulang punggung keluarga Soeharto.
Soeharto tidak anti kepada orang (yang nota bene dia sebut) CINA ini.

Ekonom KWIK KIAN GIE itu orang keturunan TIONGHOA atau
orang keturunan CINA ? Apakah nenek moyang Kwik Kian Gie
datang dari negeri TIONGKOK atau dari negeri CINA ?
Dan yang jelas Soeharto dan rezimnya ANTI BANGET dengan orang TIONGHOA
yang satu ini! Karena orang TIONGHOA ini memang konsekuen menentang
rezim Orba. Soeharto sangat anti orang TIONGHOA ini.

Soeharto justru pro CINA Liem Sioe Liong, tetapi memang anti TIONGHOA
Kwik
Kian Gie.

Sebagai catatan:
Di zaman Bung Karno, para pimpinan PKI dan para pemimpin yang menyebut
dirinya progresif revolusioner menggunakan istilah TIONGHOA untuk
menyebut
orang-orang keturunan CINA; dan TIONGKOK untuk menyebut negeri CINA.
Sebaliknya, orang-orang yang anti PKI menyebut orang-orang keturunan
TIONGHOA (yang pro PKI, terutama) dengan istilah CINA dan juga istilah
CINA
untuk menyebut negeri TIONGKOK!

HAL INILAH, antara lain, yang sedang diungkit kembali oleh Pak Ibrahim
Isa.
Dalam konteks ini, yang menjadi pertanyaan adalah UNTUK APA HAL TERSEBUT

ATAU PERSOALAN TERSEBUT DIUNGKIT KEMBALI?
Untuk memperkuat alasannya Pak Ibrahim Isa menunjuk kepada Presiden
Megawati
Soekarnoputri yang menyebutkan Republik Rakyat Tiongkok dalam menyambut
menerima PM Zhu Rong Ji negeri dimaksud di Jakarta pada tanggal 11
November
y.l.,

SIAPAKAH YANG DIUNTUNGKAN DENGAN PENGUNGKITAN UNTUK
MEMPERTENTANGKAN KEMBALI ISTILAH-ISTILAH ATAU SEBUTAN-
SEBUTAN CINA, TIONGHOA dan TIONGKOK ?!

BENARKAH, JIKA KITA MENYEBUT kata CINA itu adalah suatu
PELECEHAN atau MENDESKREDITIR ORANG atau menyebarkan
rasialisme?!

Saya membuka kamus besar bahasa Indonesia (Penerbit Departemen
Pendidikan
dan Kebudayaan, Balai Pustaka, cetakan ketiga, tahun 1990) dan mencari
kata
CINA.
Keterangannya:
Cina 1. sebuah negeri di Asia; Tiongkok; 2. bangsa yang tinggal di
Tiongkok;
Tionghoa;

Terus terang, di benak saya tidak ada perasaan rasialis ketika menyebut
dan
mencari
kata CINA. Bagi saya CINA=TIONGKOK dan CINA=TIONGHOA
Dan lagi, lha apa saya harus benci dan membakar kamus dimaksud dan
menuduh para
penyusunnya pro Orba, karena kalau kita mencari kata Tiongkok atau
Tionghoa
ya TIDAK ADA ( kecuali di dalam menerangkan kata cina) !

*****

APAKAH GUNANYA MEMPOLITISIR KEMBALI DAN
MEMPERTENTANGKAN SEBUTAN- SEBUTAN
CINA - TIONGHOA ; CINA - TIONGKOK ??!!

Ibrahim Isa menulis:
Perubahan penamaan yang dilakukan oleh Presiden Megawati dalam suatu
kesempatan resmi, bukanlah sesuatu yang kebetulan. Politik ini adalah
pengkonsekwenan dari pendobrakan yang dilakukan oleh mantan Presiden
Abdurrahman Wahid. Politik mantan Presiden Wahid dan Presiden Megawati
sekarang ini adalah politik dalamnegeri yang dengan konsisten hendak
mengakhiri politik rasialis anti-Tionghwa Orba di dalam negeri, dan
menegakkan kembali politik luarnegeri yang bersahabat dan saling bantu
antara Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok seperti yang selalu
dilaksanakan oleh pemerintah Presiden Sukarno, sesuai dengan _10 Prinsip

Konferensi Bandung (1955)_.

Yang menjadi pertanyaan saya: Apakah dengan dihapuskannya istilah CINA
menjadi
TIONGHOA dan TIONGKOK itu adalah salah satu alat yang benar-benar
effektif dan berguna dalam usaha untuk mengakhiri politik rasialis anti
CINA,
eh anti TIONGHOA dan anti TIONGKOK di Indonesia?! dan persoalan akan
menjadi
beres?!

Dan juga patut dipertanyakan: Apakah benar Presiden Megawati mau
mengganti
istilah/sebutan CINA dengan TIONGHOA dan TIONGKOK serta sebutan
nama negara Republik Rakyat Tiongkok oleh beliau sesuai dengan
interpretasi
dari Ibrahim Isa?

Ibrahim Isa menulis:
Sikap politik dari Presiden Megawati menandakan sikap beliau untuk
dengan
sungguh-sungguh mengakhiri, sikap permusuhan dan kebencian yang
dilakukan
oleh pemerintah Orba terhadap RRT, terhadap bangsa Tionghoa dan
orang-orang
Indonesia keturunan etnis Tionghoa. Begitulah seyogianya kita
menginterpretasikan sikap Presiden Megawati Sukarnoputri.

Komentar saya:
Saya samasekali tidak menyangsikannya.
Megawati Soekarnoputri adalah bukan penganut paham rasialisme.

Ibrahim Isa menulis:
Politik yang dengan sungguh-sungguh menyatakan sikap bersahabat dari
Republik Indonesia terhadap Republik Rakyat Tiongkok serta sikap yang
mengakhiri politik diskriminasi rasialis dari Orba adalah suatu politik
dalam dan luarnegerinya yang benar. Oleh karena itu patutlah disokong.

Tanggapan saya:
Saya memberikan sokongan sikap bersahabat dari RI terhadap
Republik Rakyat Cina (RRC) atau Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
RRC = RRT. RRC dan RRT setali tiga uang

Kebanyakan orang Rusia kalau ditanya Cina letaknya di mana atau Cina
itu apa, mereka tidak tahu. Karena orang Rusia tidak menyebut Cina
buat nama negeri tetangganya yang satu ini. Orang Rusia bilang: KITAY.
Tetapi kebanyakan orang Indonesia tahu betul apa itu TIONGHOA,
TIONGKOK, CINA.
Barangkali di Indonesia ada sekelompok orang, yang ingin agar rakyat
Indonesia
kalau ditanya CINA itu di mana atau apa, jadi tidak bisa menjawab,
karena mereka tahunya cuma TIONGHOA atau TIONGKOK ??!

Saya berpendapat kita tidak perlulah menelusuri sejarah bagaimana
timbulnya
kata-kata cina, tionghoa, tiongkok, yang ujung-ujungnya bisa dipastikan
hanya
akan membuat persoalan, yang sebenarnya tidak perlu diangkat kembali!
CINA=TIONGKOK. CINA=TIONGHOA.

Jangan dipertentangkan lagi lah!

Terus terang, para pimpinan PKI dan yang juga orang-orang pro PKI pasti
mempersoalkan istilah CINA dan memaksakan orang lain untuk mengganti
sebutan
CINA dengan TIONGKOK dan TIONGHOA !! Di antara orang-orang yang
menamakan progresif revolusioner juga ada yang berbuat demikian.
Sebaliknya, memang Soeharto cs. menghapus sebutan TIONGKOK dan TIONGHOA
menjadi CINA.
TETAPI TIDAK semua orang (yang anti rezim Orba-Soeharto) menginginkan
sebutan
CINA dihapus dan harus diganti samasekali dengan TIONGKOK dan TIONGHOA.

Nah, kalau sudah berkaitan dengan hal tersebut, jangan kaget jika nanti
justru
akan timbul kembali politik anti-TIONGHOA (baik sebutannya maupun secara

fisiknya) dari kelompok yang memang anti PKI !

Saya (yang tidak pernah anti-CINA atau anti-TIONGHOA) ini pun jadi
tergugah
berpolemik mengenai sebutan ini, karena sebenarnyalah saya SUNGGUH TIDAK

HABIS PIKIR dan merasa JENUH sekali, 'kok masih saja ada orang yang mau
mempersoalkan dan mempolitisir sebutan CINA, TIONGKOK dan TIONGHOA ?!

Saya berpendapat bahwa janganlah terus menerus mempertentangkan sebutan
CINA - TIONGKOK; CINA - TIONGHOA.
Biarlah sebutan-sebutan di atas itu berjalan dan berada dengan tenang
baik
di dalam perbendaharan kata-kata bahasa Indonesia, tetapi juga di hati
sanubari
semua orang Indonesia, sehingga tidak dipolitisir dan dipertentangkan
lagi!

Tabe,
ASA

----- End of forwarded message from A.Supardi Adiwidjaya -----