[L] JOCK - Islam Vs Modernisasi

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Tue Dec 04 2001 - 15:19:08 EST


From: "Jock Murdoch" <propdimega@hotmail.com>
To: apakabar@radix.net
Subject: Islam Vs Modernisasi
Date: Tue, 04 Dec 2001 18:56:44

Apakah benturan itu antara Islam Vs Barat? Atau Islam Radikal Vs Demokrasi?
Atau Islam Vs Modernisasi?
Yang bisa dikatakan, bahwa masyarakat Islam sempat mengalami stagnasi selama
berabad-abad. Akibat dominannya fiqh yang terlalu ortodoks. Sedangkan
masyarakat Barat telah mengalami revolusi kebudayaan ditandai dengan
runtuhnya kekuasaan gereja dan terjadinya renaissance serta perkembangan
ilmu pengetahuan pada abad ke 15. Seharusnya Islam berkaca pada sejarah
Eropa Pertengahan dan tidak perlu bereksperimen yang hasilnya sama juga.
Modernisasi yang dimulai dengan dipisahkannya agama dan negara yang terjadi
di masyarakat Barat seharusnya membangunkan tokoh-tokoh Islam. Modernisasi
adalah hasil dari proses evolusi kultural yang alamiah. Kalau ditentang
justru Islam yang terbentur pada tembok sejarah.
Alasannya jelas. Urusan dunia seharusnya dilakukan dengan akal bukan
keyakinan. Nabipun mengajarkan hal yang sama (antum 'alamun bi umuri
duniakum). Justru keyakinan bisa membuat akal mandeg. Keyakinan dan akal
adalah dua hal yang saling kontradiksi. Bila yang satu berkembang yang lain
mandek. Kalau dalam bahasa matematika, perkalian (atau penjumlahan) antara
keduanya menghasilkan konstanta.
Tidaklah mengherankan sekularisasi di masyarakat Barat menghasilkan kemajuan
yang luar biasa dalam peradaban. Sedang Islam hanya mampu mempertahankan
peradaban yang ditopang oleh keyakinan yang berlebihan. Seolah-olah
keyakinan menjadi anchor bolt pada setiap sendi masyarakat Islam. Untuk itu
perlu reformasi sudut pandang atau paradigma. Moral atau akhlak harus
dinomorsatukan bukan yang lain. Kalau sekarang yang terjadi, pejabat-pejabat
puasa makan tetapi tidak puasa korupsi. Jadi seolah-olah ada kesan kita
pasti masuk surga bila melakukan ibadah. Itu salah kaprah. Nabi Muhammad
sebelum meninggal justru mengatakan Islam diturunkan utamanya untuk
membangun akhlak/moral. Ibadah hanyalah sarana menuju moral yang baik. Dalam
konteks manusia sebagai makhluk sosial, ibadah tidak memiliki fungsi sosial
apapun; tetapi fungsi sosial dari moral luar biasa, bahkan bisa dikatakan
sebagai single factor yang mampu mempertahankan eksistensi suatu masyarakat.
Jadi kita tak boleh memutar balik prioritas.

Kalau ada tokoh Islam yang berniat menentang modernisasi (termasuk
sekularisasi) itu tak lebih karena hawa nafsu. Maksudnya baik yaitu untuk
mempertahankan eksistensi Islam, tetapi yang terjadi justru menjerumuskan
masyarakat Islam.
Karena nafsu juga, terjadi perang agama di Maluku dan Poso. Juga karena
faktor yang sama, bulan puasa justru menjadi ajang pelanggaran HAM. Ada
pengrusakan diskotik, ada sweeping orang mabuk. Padahal yang berhak mencabut
HAM (secara temporary) hanyalah negara, itupun demi kepentingan negara dalam
melindungi segenap warganya. Yang kita herankan, mengapa orang-orang yang
mengaku taat beragama itu tak mengedepankan moral tapi nafsu. Mungkin itu
juga karena mereka berpikir dengan ibadah mereka pasti masuk surga. Moral
adalah suatu otoritas yang diakui oleh semua anggota masyarakat, sedangkan
nafsu adalah sumber masalah. Seharusnya orang memberi contoh dengan tidak
mabuk orang bisa hidup lebih baik, bukan main sweeping seperti yang terjadi
di Ngawi. Tanpa perwujudan moral, agama tak memiliki eksistensi sosial
apapun! Itu justru yang pernah diramalkan oleh Nabi Muhammad.
Berkaitan dengan kasus Ngawi, dulu anthropolog Geertz pernah membahas
benturan kultural antara santri dan abangan. Tapi secara analitik,
sebenarnya substansinya tak jauh beda dengan teori benturan Islam dan
modernisasi yang dikemukakan Fukuyama. Jadi benturan kultural antara kaum
santri dan abangan itu karena faktor eksternal yaitu proses modernisasi.
Kaum santri lebih berfokus pada keyakinan sedangkan kaum abangan lebih
berfokus pada rasio. Terhadap modernisasi, tentu saja pola kultural kaum
abangan lebih klop dan adaptif dibanding kaum santri. Ini akhirnya
menimbulkan krisis eksistensi pada kaum santri, ditandai dengan munculnya
kelompok reaksioner semacam Laskar Jihad. Dan terjadilah benturan di
permukaan seperti pada kasus Ngawi.
Usaha Gus Dur, Cak Nur, Amien Rais dll yang merupakan pendekar pluralisme
sayang sekali belum membuahkan hasil yang mengakar. Banyak terhambat oleh
faktor kepentingan jangka pendek dan kelompok. Juga ada hambatan dari
kelompok Orba.
Benturan kultural bisa dikurangi bila masing-masing komponen masyarakat
sepakat untuk mengacu pada substansi--dalam hal ini moral, bukan
simbol-simbol yang sangat relatif satu sama lain. Moral ibaratnya variabel
patokan yang universal yang bisa disepakati oleh semua orang. Sedangkan
simbol tak memiliki universalitas. Tanpa adanya acuan yang bersifat
universal, akan mudah terjadi salah pengertian dan akhirnya benturan.

Benturan antara Islam dengan modernisasi memiliki akar yang sama.
Harus ada revolusi paradigma dari ibadah/syariat ke moral/akhlak.

JOCK

----- End of forwarded message from Jock Murdoch -----