Untuk Apa Universitas Didirikan?

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Nov 29 1994 - 08:11:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Forwarded message:
From apakabar Tue Nov 29 12:08 EST 1994
From: John MacDougall <apakabar>
Message-Id: <199411291708.MAA20287@clark.net>
Subject: IN: Untuk Apa Universitas Didirikan?
To: apakabar (John MacDougall)
Date: Tue, 29 Nov 1994 12:08:41 -0500 (EST)
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
MIME-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Length: 7637

Forwarded message:
From ekonesia@igc.apc.org Tue Nov 29 11:35 EST 1994
Date: Tue, 29 Nov 1994 08:32:57 -0800
From: Suprihantono Eka Atmojo <ekonesia@igc.apc.org>
Message-Id: <199411291632.IAA08538@igc.apc.org>
To: apakabar@clark.net
Subject: John, ini tulisan tentang UKSW dari Sdr. Pras.
Content-Type: text
Content-Length: 7306

From pras@ee.fit.edu Mon Nov 28 21:05:44 1994
Received: from ee.fit.edu (yacht.ee.fit.edu [163.118.30.1]) by mail.igc.apc.org (8.6.9/Revision: 1.51 ) with SMTP id VAA10775 for <ekonesia@igc.apc.org>; Mon, 28 Nov 1994 21:05:41 -0800
Received: from trident (trident.ee.fit.edu) by ee.fit.edu (4.1/SMI-4.0/900117wah)
        id AA09355; Mon, 28 Nov 94 23:59:31 EST
Date: Mon, 28 Nov 94 23:59:31 EST
From: pras@ee.fit.edu (Prasetyo Oedjiantono)
Message-Id: <9411290459.AA09355@ee.fit.edu>
To: ekonesia@igc.apc.org
Subject: Untuk Apa Universitas Didirikan ?
Status: R

Hi, ini saya kirim bacaan
Tolong diforward ke apakabar, kalau anda berkenan.

Rekan-rekan IDS-er yang budiman,

Berikut saya RINGKASKAN tulisan Anto Prabowo, litbang Suara Merdeka.
Ada dua penerbitan 1/11/94 dan 2/11/94. Saya sebut ringkasan yang panjang
 :) :) karena hanya sebagian kecil saja yang saya hilangkan.
Agak terlambat, ttp lumayan kliping yang datang jauh dari tanah air ini
bisa kita nikmati bersama sebagai bacaan ringan saja :) :)

salam
Pras
Melbourne, Fl
-------------------------------------------------------
Kasus UKSW dan Masa Depan Miniatur Masyarakat Ideal(1)
Untuk Apa Universitas Didirikan ?
Oleh Anto Prabowo
-------------------------------------------------------

  JUDUL diatas memang menggelitik: untuk apa sebuah universitas didirikan?
Guna menghasilkan kacung-kacung industri" ? Memproduksi propagandis-
propagandis-untuk kepentingan pemerintah ? Melegitimasi program-program
pembangunan ? Sekedar ada untuk gengsi dan menampung lulusan SLTA ?
"Bukan semua itu!" kata Edward Shils.
   Universitas, menurutnya, dilahirkan untuk terus-menerus mereproduksi
-menciptakan, menguji, dan menggugat-kebenaran. Kebernaran itu tidak
tunggal, mandiri dan tak pernah mati. Ia bukan seperti dogma atau idiologi.
Didalamnya ada ruang bagi sejumlah pertanyaan dan gugatan, yang kelak
akan menumbangkannya.
   Proses reproduksi itu memerlukan iklim dialog, sikap kritis, dan juga
tradisi saling mengkritik. Dengan begitu, ilmu pengetahuan berkembang.
   Dulu, matahari mengelilingi bumi dianggap sebagai kebenaran. Kini
terbukti, bumilah yang mengelilingi matahari. Dulu, raja dianggap wakil
Gusti Allah, tetapi kini pemimpin adalah peminjam kedaulatan rakyat.
Dulu faktor yang menentukan seseorang langgeng sebagai pemimpin adalah
pulung, kini senjata, ekonomi dan kemampuan pribadi.
   Masih dominan pandangan (bernuansa Machiavelis) bahwa "penggusuran
demi pembangunan boleh-boleh saja", tetapi akhir-akhir ini ada pertanyaan
gugatan yang kuat terhadapnya: pembangunan untuk kepentingan siapa,
mengapa yang mendapat keuntungan tidak membiayai kerugian pihak-pihak
yang jadi korban, dan sebagainya, dan seterusnya.
   Pakar pendidikan dan ahli filsafat aliran pragmatisme dari AS, John
Dewey, mengangankan, sekolah (komunitas universitas) harus diupayakan
sebagai miniatur masyarakat yang ideal.
   Kampus merupakan tempat pembudayaan nilai-nilai dan norma-norma ideal,
baik untuk saat ini maupun untuk masyarakat masa depan. Dengan demikian,
kampus universitas juga berfungsi sebagai pembentuk watak bagi sivitas
akademikanya.
   Jika seorang dosennya sering mempublikasikan pandangan-pandangannya
tentang demokrasi (lewat media massa, umpamanya), secara etis dia
dituntut untuk memanifestasikan di lingkungannya yang terkecil, yaitu
komunitas universitas tempat dia mengajar. Demokratiskah cara dia mengajar,
cara memberi nilai ujian, dan dalam menghadapi pandangan-pandangan yang
berbeda dari mahasiswa ?

DI UKSW
   Sejauh yang saya tahu sbg wartawan, iklim kondusif sebagaimana
diutarakan dua tokoh pendidikan tersebut tampak berusahaa ditumbuhkan
di UKSW. Bukan oleh rektor atau yayasannya, melalui berbagai kebijakan
yang tertuang dalam surat-surat keputusan, melainkan oleh interaksi
pribadi-pribadi, baik antardosen maupun antara dosen dan mahasiswa yang
berminat terhadap hal itu.
   Di kampus itu, juga diupayakan penciptaan miniatur masyarakat yang
ideal. Misalnya, sikap demokratis dalam proses belajar-mengajar dan
pelaksanaan birokrasi kampus, penghargaan terhadap keetnikan, gender
(perempuan), dan sebagainya.
   Dalam menumbuhkan komunitas akademis yang ideal itu, peran Dr. Arief
Budiman-yang bekerja di UKSW sejak 1981-tidak bisa dibilang kecil,
sekalipun tentu bukan satu-satunya. Banyak dosen lain yuang ikut memberikan
sumbangan besar.
   Penghargaan orang terhadap komunitas akademis di UKSW bisa diukur dari
intensitas sivitas akademika PTS itu tampil sebagai penyumbang opini di
berbagai media massa, jurnal-jurnal yang berpengaruh. Juga tampak kerapnya
tampil para pemikir terkemuka luar negeri di UKSW baik sbg dosen tamu atau
pembicara dlm seminar. Antara lain Prof. Van Peursen, Herbert Feith,
Keith Foulcher, Richard Robinson dan Benedict ROG Anderson demikian juga
pemikir-pemikir dalam negeri: Goenawan Mohamad, YB Mangunwijaya, Komarudin
Hidayat, Todung Mulya Lubis, Prof Sartono, dan Loekman Sutrisno.
   "UKSW banyak disorot karena PT ini seperti "kebun binatang" yang
bermacam-macam jenis piaraannya. Ada yang suka sosialisme demokrat,
kapitalisme, modernisme etis, posmodernisme, dan macam-macam" kelakar
Dr. George Junus Aditjondro suatu kali.
   Mereka dalam pendiriannya masing-masing yang dipercayai saling mengisi
dan mengasah.

AKAR MASALAH
   Itulah salah satu alasan mengapa pemilihan Rektor UKSW, untuk
menggasntikan Dr. Willy Toisuta tahun lalu tidak berjalan sederhana.
   Dr. John Ihalauw meskipun dibekali SK yayasan YPTKSW dan Surat
Persetujuan dari Mendikbud yang melegitimasikan diri sbg rektor dapat
dikatakan belum diterima oleh sebagian besar sivitas akademika.
   Banyak protes terbuka dan laten. Protes-protes yang laten itu, menyembul
keluar setelah pengurus YPTKSW mengeluarkan surat pemecatan dengan
tidak hormat bagi Arief Budiman.
   Dari pemberitaan dan pengamatan sendiri, tampak bahwa dukungan penuh
bagi yayasan dan rektor cuma datang dari Fakultas Ekonomi.
   Yang jadi persoalan sebenarnya bukan JOI pribadi melainkan proses
suksesi yang mengantarkannya sebagai rektor.
   Peraturan pemilihan rektor menyebutkan tiga tahap pemilihan, yaitu
tingkat unit, senat dan yayasan (jika dua tahap sebelumnya belum ada calon
tunggal). UKSW memiliki 21 unit (12 pengajaran, 9 unit non pengajaran),
yang masing-masing berhak atas satu suara.
   Persoalan muncul pada tahap ke dua, ada 3 calon yang muncul.
Dr. Liek Wilardjo (10 suara), Dr. John Ihalauw(6 suara) dan
Dr. John Titaley(5 suara). Dari 10 suara yang mendukung Liek Wilardjo,
7 suara dari unit pengajaran.
   Semula, panitia pemilihan akan menggunakan peraturan YPTKSW
NO: 133/A/KP/DPI/88 tanggal 27 Mei 1988, sebagai pegangan pemilihan rektor.
dengan peraturan ini Liek Wilardjo otomatis naik sebagai calon tunggal
dari pemilihan tingkat senat. Dan pengurus yayasan tinggal mengesahkannya.
Ttp Dewan Pengurus yayasan membuat surat penjelasan atas SK No 133/1988
yang maknanya berbeda dengan pemaknaan itu. Penjelasan itu diprotes keras
tetapi pengurus yayasan tetap, bertahan.
   Penafsiran berikutmya, wakil unit ditingkat senat boleh tidak mewakili
aspirasi unitnya, tetapi aspirasi pribadi, semata-mata "untuk kepentingan
yang lebih besar, dalam hal ini universitas, dibandingkan dengan
kepentingan unit"

                                                Copyright Suara Merdeka

(bersambung)