[INDONESIA-L] PANJI - Prabowo Subia

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Oct 29 1999 - 13:31:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Oct 29 16:30:09 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id QAA18307
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Fri, 29 Oct 1999 16:30:08 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id QAA25045
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 29 Oct 1999 16:30:07 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id OAA05009; Fri, 29 Oct 1999 14:29:46 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Fri, 29 Oct 1999 14:29:40 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id OAA04986; Fri, 29 Oct 1999 14:29:34 -0600 (MDT)
Date: Fri, 29 Oct 1999 14:29:34 -0600 (MDT)
Message-Id: <199910292029.OAA04986@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] PANJI - Prabowo Subianto: Saya Dikhianati Habibie
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.panji.co.id/edisi128/wankhas.htm

WAWANCARA KHAS / PANJI NO. 28 TH III. 27 OKTOBER 1999

Prabowo Subianto

   
Saya Dikhianati Habibie

   
   Wawancara dari Bangkok, Thailand, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto
   bicara soal penculikan aktivis, dugaan keterlibatannya dalam kerusuhan
   13-14 Mei 1998, serta hubungannya dengan Soeharto, Habibie, dan
   Wiranto.
   
   
   Dari siaran berita di radio, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto
   mendengar berita rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bentukan
   Mabes ABRI. Ia diberhentikan dari karier militernya. Hari itu,
   Selasa, 25 Agustus 1998. "Saya tidak kaget," kata Prabowo. Sebelum DKP
   mulai bekerja, mantan pangkostrad ini sudah tahu hasilnya. Ia harus
   menepi. Adalah mertuanya sendiri, mantan presiden Soeharto, yang
   mengisyaratkan agar ia keluar saja dari militer. "Itu lebih baik bagi
   ABRI," kata Pak Harto, sekitar dua bulan sebelum keputusan itu. Sejak
   lengser dari posisi presiden, 21 Mei 1998, hubungan antara Prabowo dan
   mertuanya merenggang. Dia dianggap berkoalisi dengan Habibie untuk
   menekan Soeharto agar lengser, menilik situasi yang makin panas di
   masyarakat.
   
   Keyakinan Prabowo makin kuat saat bertemu dengan mantan pangab
   Jenderal TNI (Purn.) L.B. Moerdani, pada satu acara, tak lama sebelum
   DKP mengakhiri pemeriksaannya. Di situ, Benny memberi sinyal yang
   sama. Karier Prabowo di militer sudah tamat. "Jadi, keputusan untuk
   menyingkirkan saya sudah jatuh sebelum DKP dibentuk," tutur mantan
   danjen Kopassus ini. DKP dibentuk untuk mengusut dugaan keterlibatan
   sejumlah perwira tinggi ABRI dalam kasus penculikan sembilan aktivis.
   Sanksi diberhentikan dari karier militer, bahasa halus untuk dipecat,
   cuma milik Prabowo. Mantan danjen Kopassus Mayjen TNI Muchdi P.R.,
   penerus posisi Prabowo yang diangkat jadi pangkostrad, pada 20 Maret
   1998, cuma dicopot dari jabatannya. Status militer tetap. Begitu juga
   Kolonel Chairawan, mantan komandan grup IV Kopassus.
   
   Prabowo pasrah. "Ini risiko jabatan sebagai komandan," katanya.
   Penangkapan aktivis terjadi kala ia masih menjabat danjen Kopassus.
   Dalam pemeriksaan terbukti, Tim Mawar yang beranggotakan 11 prajurit
   Kopassus pimpinan Sersan Mayor Bambang Kristiono mengaku "mengamankan"
   sembilan aktivis itu, untuk melempangkan jalan bagi SU MPR 1998. Yang
   dia sesalkan, keputusan DKP justru tak pernah diterimanya langsung.
   Keesokan harinya, Prabowo menghadap ke Mabes ABRI, menanyakan ihwal
   keputusan itu. Dia bertemu Kasum ABRI Letjen TNI Fahroel Rozi, salah
   seorang anggota DKP, yang lantas menganjurkan Prabowo bertemu Panglima
   ABRI Jenderal TNI Wiranto.
   
   Kesempatan diberikan keesokan hari, Kamis, 27 Agustus 1998. Pertemuan
   itu cuma berlangsung 10 menit. Mengenang pertemuan tersebut, Prabowo
   mencatat reaksi Wiranto membingungkan. Panglima ABRI ini bersikap
   seolah-olah tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Prabowo. "Kamu
   kan tahu kondisinya," begitu ucapan Wiranto kepada Prabowo. Prabowo
   pun tak mau berbasa-basi. "I don't like it," katanya. Seraya menatap
   mata Wiranto, Prabowo minta maaf atas kesalahan yang dibuatnya selaku
   prajurit ABRI. Prabowo juga pamit untuk ke luar negeri, melaksanakan
   umrah dan berobat. "Saya sering mengalami kecelakaan dalam bertugas.
   Karena itu, saya akan menggunakan kesempatan ke luar negeri untuk
   berobat di Jerman," kata Bowo, panggilan akrabnya. Dia juga minta
   tolong agar surat pensiunnya dari ABRI segera dikeluarkan agar dirinya
   bisa membantu adiknya, Hashim Djojohadikusumo berbisnis di Timur
   Tengah. "Saya kan perlu mencari nafkah," ujar Bowo. Surat pensiun itu
   akhirnya diteken pada 20 November 1998, sementara TGPF menyampaikan
   laporannya pada 3 November 1998 Itulah pertemuan terakhir dengan
   Wiranto. Setelah itu, sambil mengantar anak dan istrinya, yang hendak
   ke AS, Prabowo berpamitan ke Pak Harto di Cendana.
   
   Kini, setahun lebih berlalu. Langkah Prabowo jadi pebisnis makin
   mantap. Penampilannya tampak lebih santai dan terbuka. Prabowo yang
   kini memakai kacamata baca itu kelihatan lebih gemuk. "Pakai kacamata
   biar tampak lebih intelek," kata Bowo sambil terbahak. Perjalanan
   bisnisnya membuat ia sering mampir ke negara tetangga, bertemu relasi
   setempat, pun kawan-kawan dari Indonesia.
   
   Kamis (14 Oktober) lalu, ia mampir sehari ke Bangkok dalam
   perjalanannya ke Boston, AS, untuk acara keluarga. Di Bangkok, Prabowo
   sempat berbincang-bincang dengan empat wartawan dari Indonesia,
   termasuk dari Panji. Penulis berkesempatan ngobrol blak-blakan dengan
   Prabowo Rabu malam, dilanjutkan Kamis pagi hingga malam harinya. Ia
   didampingi Fadli Zon. Sejumlah pertanyaan Panji dijawabnya dengan
   terbuka meski pada beberapa poin ia minta nirwarta (off the record).
   "Saya tak ingin menimbulkan perpecahan dan perasaan tidak enak pada
   siapa pun," kata Bowo.
   
   
   Soal surat Muladi kepada Komnas HAM. Anda sebenarnya diberhentikan
   karena kasus penculikan atau kerusuhan 13-14 Mei 1998?
   
   Itulah yang saya bingung. Saya diperiksa oleh DKP beberapa kali.
   Mungkin tiga atau empat kali. Dan semua pertanyaan saya jawab. DKP itu
   kan khusus menyelidiki soal penculikan sembilan aktivis. Saya pribadi
   tidak suka menggunakan istilah penculikan karena itu kan kesalahan
   teknis di lapangan. Niat sebenarnya adalah mengamankan aktivis
   radikal agar tidak mengganggu rencana pelaksanaan SU MPR 1998. Bahwa
   kemudian anak buah saya menyekap lebih lama sehingga dikatakan
   menculik, itu saya anggap kesalahan teknis. Tanggung jawabnya saya
   ambil alih.
   
   Di DKP apakah ditanyai soal pemberi perintah penculikan?
   
   Tentu. Tapi perintah menculik tidak ada. Yang ada operasi intelijen
   untuk mengamankan aktivis radikal itu. Sebab saat itu kan sudah
   terjadi ancaman peledakan bom di mana-mana. Dalam DKP saya kemukakan
   bahwa perintah pengamanan itu tidak rahasia. Mereka, para jenderal
   yang memeriksa saya pun tahu. Itu dari atasan dan sejumlah instansi,
   termasuk Kodam dilibatkan.
   
   Benarkah Anda mendapat daftar 28 orang yang harus `diamankan' dalam
   konteks SU MPR?
   
   Wah, dari mana Anda tahu? Tapi saya memang terima satu daftar untuk
   diselidiki. Jadi, untuk diselidiki. Bukan untuk diculik.
   
   Dari siapa Anda terima daftar itu?
   
   Saya tidak bisa katakan. Semua sudah saya katakan di DKP. Kita ini
   kan harus menjaga kehormatan institusi ABRI. Keterangan saya di DKP
   ada rekamannya.
   
   Benarkah daftar itu Anda terima langsung dari RI 1, yakni presiden
   saat itu, Soeharto?
   
   Saya sulit menjawab. Kepada Pak Harto saya sangat hormat. Beliau
   panglima saya. Kepala negara saya. Bahkan, lebih jauh lagi, beliau
   mertua saya, kakek dari anak saya. Bayangkan sulitnya posisi saya.
   Tapi semua itu sudah saya sampaikan ke DKP.
   
   Anda tidak tanya pada Pak Harto daftar itu didapat dari mana?
   
   Tentu saya tanya.
   
   Pak Harto ngomong apa pada Anda waktu memberikan daftar itu?
   
   Ha...ha...ha.... Pertanyaan bagus, tetapi sulit dijawab.
   
   Kapan Anda terima daftar itu dari Pak Harto?
   
   Beberapa hari setelah ledakan bom di rumah susun Tanah Tinggi.
   
   Apakah nama 14 aktivis yang sampai kini belum ketahuan rimbanya ada di
   situ?
   
   Saya lupa. Mungkin tidak. Itu daftar kan kalau saya tidak salah
   didapat dari rumah susun Tanah Tinggi. Jadi macam-macam nama orang
   ada di situ. Akan halnya enam aktivis, Andi Arief dkk., itu ada dalam
   daftar pencarian orang (DPO), yang diberikan polisi. Yang tiga, Pius
   Lustrilanang, Desmond J. Mahesa, dan Haryanto Taslam, itu kecelakaan.
   Saya tak pernah perintahkan untuk menangkap mereka. Semua mencari
   mereka yang ada dalam DPO itu. Kita dapat brifing terus dari Mabes
   ABRI. Kita selalu ditanyai. Sudah dapat belum Andi Arief. Tiap hari
   ditanya. Sudah dapat belum si ini... begitu. Kejar-kejaran semua.
   Itu pun, maaf ya, meski saya tanggung jawab, saya tanya anak-anak. Eh,
   kalian saya perintahkan nggak? BKO sampai nyebrang ke Lampung segala.
   Mereka ini namanya mau mencari prestasi. Tapi saya puji waktu mereka
   dapat. Mereka kan membantu polisi yang terus mencari-cari anak-anak
   itu. Soalnya Andi Arief kan dikejar-kejar.
   
   Selain Anda, siapa lagi yang menerima daftar itu dari Pak Harto?
   Apakah betul Kasad Jenderal Wiranto dan pangab saat itu, Jenderal
   Feisal Tanjung menerima daftar serupa?
   
   Yang bisa saya pastikan, saya bukan satu-satunya panglima yang
   menerima daftar itu. Pimpinan ABRI lainnya juga menerima. Dan daftar
   itu memang sifatnya untuk diselidiki. Perintahnya begitu. Seingat
   saya, Pak Harto sendiri sudah mengakui kepada sejumlah menteri bahwa
   itu adalah operasi intelijen. Di kalangan ABRI, sudah jadi
   pengetahuan umum. Tapi, sudahlah, kalau bicara Pak Harto saya sulit.
   Apalagi saya tak mau memecah-belah lembaga yang saya cintai, yakni
   ABRI, khususnya TNI.
   
   Bukankah hubungan Anda dan Pak Harto belakangan retak?
   
   Itu benar dan sangat saya sesalkan. Mungkin ada yang memberikan
   masukan kepada Pak Harto, seolah-olah saya sudah tidak loyal kepada
   beliau. Saya dikatakan sudah main mata dengan Pak Habibie dan karena
   itu menyarakan agar Pak Harto lengser pada pertengahan Mei. Mungkin
   itu yang membuat Pak Harto marah kepada saya. Ironis, bukan? Oleh
   masyarakat saya dianggap sebagai status quo karena menjadi bagian dari
   Pak Harto. Saya tidak menyesal. Memang saya menikah dengan putrinya.
   Tapi Pak Harto sendiri, dan keluarganya, justru marah kepada saya.
   
   Benarkah Anda mengusulkan agar Pak Harto lengser?
   
   Ya. Malah sebelum Pak Harto mundur, setelah terjadi peristiwa
   Trisakti, saya pernah mengatakan kepada seorang diplomat asing.
   Tampaknya Pak Harto akan mundur. Eskalasi situasi dan peta geopolitik
   saat itu menghendaki demikian. Saya juga kemukakan ini sehari setelah
   Pak Harto kembali dari Kairo (15 Mei 1998, Red.). Aaplagi Pak Harto di
   Kairo memang mengisyaratkan kesediaan untuk lengser. Mungkin ada yang
   tidak suka saya bicara terbuka. Tapi saya biasa bicara apa adanya dan
   terus terang. Saya tidak suka basa-basi. Mungkin di situ
   masalahnya.
   
   Kenapa akhirnya Anda mengambil tanggung jawab penculikan sembilan
   aktivis?
   
   Di situ saya merasa agak dicurangi dan diperlakukan tidak adil.
   Mengamankan enam orang ini kan suatu keberhasilan. Wong orang mau
   melakukan aksi pengeboman, kita mencegahnya. Mereka merakit 40 bom.
   Kita mendapatkan 18, ada 22 bom yang masih beredar di masyarakat.
   Katanya yang 22 itu sudah dibawa ke Banyuwangi. Bom yang meledak di
   rusun Tanah Tinggi dan di Demak, Jawa Tengah itu kan karena anak-anak
   itu, para aktivis, nggak begitu ahli merakit bom. Jadi, kurang
   hati-hati, salah sentuh, meledak. Di Kopassus pun tidak sembarang
   orang bisa merakit bom. Tidak semua orang bisa. Ini ada
   spesialisasinya. Saya tidak bisa bikin bom. Jadi kita ini mencegah
   peledakan bom di tempat-tempat strategis dan pembakaran terminal. Kita
   harusnya dapat ucapan terima kasih karena melindungi hak asasi
   masyarakat yang terancam peledakan itu. Soal tiga orang, memang
   kesalahan. Saya minta maaf pada Haryanto Taslam dan yang lain. Tapi
   dia juga akhirnya terima kasih. Untung yang menangkap saya. Kan hidup
   semua. Saya mau bertemu mereka.
   
   Anda pernah berpikir tidak bahwa dokumen atau daftar yang berasal dari
   rusun Tanah Tinggi itu buatan pihak yang berniat jahat?
   
   Belakangan saya berpikir juga. Jangan-jangan dokumen itu bikinan.
   Dalam dokumen itu, seolah-olah ada rapat di rumah Megawati. Saya
   nggak bisa dan tidak mau menyalahkan anak buah. Saya katakan kepada
   mereka, you di pengadilan mau ngomong apa aja deh, saya akan ikuti.
   Saya diadili juga siap. Saya bilang, Haryanto Taslam saya perintahkan
   nggak untuk ditangkap? Tidak ada. Tapi saya ambil alih tanggung
   jawab. Di DKP pun saya katakan bahwa anak-anak itu tidak bersalah.
   Mereka adalah perwira-perwira yang terbaik. Saya tahu persis karena
   saya komandan mereka. Cek saja rekamannya di DKP. Tapi bahwa mungkin
   mereka salah menafsirkan, terlalu antusias, sehingga menjabarkan
   perintah saya begitu, ya bisa saja. Atau ada titipan perintah dari
   yang lain, saya tidak tahu. Intinya, saya mengaku bertanggung jawab.
   
   Apa memang ada pihak yang ikut nimbrung saat itu memberikan perintah?
   
   Bisa saja. Saya tidak tahu. Tapi tetap apa yang sudah terjadi adalah
   tanggung jawab saya. Tetap itu anak buah saya. Saya kan mesti
   percaya sama anak buah. Makanya saya nggak apa-apa diberhentikan.
   Saya nggak heran. Ini risiko saya. Iya kan?
   
   Tapi kalau kemudian saya sudah berhenti, masih diisukan ini, itu,
   dibuat begini, begitu. Ah..., saya merasa dikecewakan oleh Pak
   Wiranto. Saya merasa harusnya dia tahu situasinya saat itu
   bagaimana. Dia tahu kok ada perintah penyelidikan itu. Begitu dia
   jadi pangab, saya juga laporkan, sedang ada operasi intelijen, sandi
   yudha, begini, begitu. Kepada beberapa menteri Pak Harto ngomong bahwa
   itu operasi intelijen. Tapi begitu Pak Harto tidak berkuasa,
   situasinya dimanfaatkan oleh perwira yang ingin menyingkirkan saya.
   
   Apa betul AS berkepentingan agar Anda dipecat?
   
   Tidak tahu. Tapi Cohen (Menhan AS William Cohen, Red.) kan ketemu
   saya juga.
   
   Perintahnya menyelidiki kok bisa kepeleset menculik. Bagaimana itu?
   
   Ya. Tapi dalam operasi intelijen itu kan biasanya kita ambil,
   ditanyai, dan kalau bisa terus dia berkerja untuk kita. Kan begitu
   prosedurnya. Sudahlah, itu kesalahan teknis, yang kemudian
   dipolitisasi. Dan memang waktu itu saya harus dihabisi. Dulu Jenderal
   Soemitro dituduh terlibat Malari, mau menyaingi Pak Harto. Pak H.R.
   Dharsono dituduh terlibat kasus Tanjung Priok. Itu politik. Yang
   kemudian naik orang yang nggak bisa apa-apa, nggak pernah bikin
   inisiatif dan karenanya tidak pernah bikin salah. Lihat Prancis, itu
   kan negara yang menjunjung tinggi hak sasai manusia. Tapi, dia
   ledakkan kapal Greenpeace yang mau masuk ke perairan nasionalnya.
   Kalau sudah kepentingan nasional dia ledakkan itu.
   
   Anda kan lama di luar negeri, besar di negara yang liberal, dan
   menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kok Anda tetap mentolerir gaya
   penangkapan atau penculikan itu? Bukankah itu menjadi sorotan dunia
   internasional terhadap penegakan HAM di Indonesia?
   
   Benar. Begini, secara moral, saya tidak salah karena orang-orang itu
   berniat berbuat kejahatan yang bertentangan dengan hak-hak asasi
   manusia. Menurut saya membuat aksi pengeboman, membakar terminal,
   untuk mengorbankan orang-orang tidak berdosa. Mereka justru
   membahayakan hak asasi manusia orang lain. Tidak bisa dong. Kalau
   you berbeda dalam politik, you bertempur lewat partai politik. Jangan
   bikin aksi teror.
   
   Informasi soal rencana pengeboman itu didapat dari interogasi, bukan
   kita ngarang. Dapat keterangan dari mereka. Anda dengar ancaman bom
   tiap minggu. Seluruh bank tutup, BI tutup. Korban kepada bangsa
   bagaimana. Itu aksi destabilisasi. Jadi, jangan salah, untuk
   menegakkan demokrasi, kita justru harus menjaga keamanan. Tidak bisa
   demokrasi tanpa keamanan. Itu duty kita, panggilan kita. Tapi,
   lawan-lawan saya lebih kuat. Punya media massa, punya kemampuan untuk
   perang psikologi massa.
   
   Kok Anda dulu tidak segera membantah kalau memang merasa tidak
   bersalah?
   
   Hashim memang menyuruh saya. Kamu harus jawab dong. Saya malas juga.
   Saya kan tidak berbuat. Saya percaya kebenaran akan muncul. Hashim
   bilang, "Tidak bisa dong kalau kamu diam berarti kamu mengakui itu
   benar." Memang ada teori itu. Teori pengulangan kebohongan. Kalau
   diulang-ulang terus, orang jadi percaya. Itu teori yang digunakan
   Hitler kepada rakyat Jerman.
   
   Anda tidak mau nuntut soal pemecatan itu karena tidak ingin
   mempermalukan Pak Harto?
   
   Benar, terutama itu. Juga tak ingin mencemari institusi ABRI,
   khususnya TNI AD. Bagaimanapun juga Pak Harto jenderal bintang lima.
   Ini kan tidak baik dalam iklim dan budaya bangsa Indonesia. Apa pun
   yang terjadi. Ada masalah dilematis, bagaimanapun dia kakek dari anak
   saya. Itu yang dilematis. Walaupun dia kemudian membenci saya.
   
   Sebelumnya, Prabowo merasa diperlakukan tidak adil kala dipaksa
   menyerahkan jabatan sebagai pangkostrad pada 22 Mei 1998. "Saya tak
   sempat membuat memorandum serah terima jabatan. Istri saya, ketua
   Persit pun, tak sempat serah terima. Setahu saya, dalam sejarah ABRI,
   belum pernah ada perwira tinggi dipermalukan oleh institusinya,
   seperti yang saya alami," kata Bowo. Dia memang digeser saat situasi
   politik gojang-ganjing dan Soeharto baru
   lengser pada 21 Mei 1998. Dugaan yang beredar saat itu, Bowo diganti
   karena dianggap hendak melancarkan kudeta kepada Habibie. Malam itu,
   sesudah pergantian presiden pagi harinya, situasi Jakarta memang
   genting. Sejumlah pasukan berseragam loreng tampak di seputar wilayah
   Istana Negara, Monas, Jakarta.
   
   Dugaan terjadi pengepungan Istana sempat dibantah habis-habisan oleh
   Mabes ABRI. Padahal, sejumlah media massa memberitakannya. Kemudian,
   pada 22 Februari 1999, di depan sejumlah eksekutif pers dalam forum
   Asia-German Editors, di Istana Merdeka, Presiden Habibie bercerita
   soal pengepungan itu. Habibie mengaku keluarganya terancam malam itu,
   dan nyaris diungsikan. "Tidak usah ditutup-tutupi, kita tahulah yang
   memimpin konsentrasi pasukan itu, orangnya Prabowo Subianto," kata
   Habibie berapi-api. Dia mengaku diberi tahu Wiranto. Pers geger.
   Prabowo saat itu sudah di luar negeri. Lewat kawan dekatnya, ia
   membantah.
   
   Dan, dua hari kemudian, dalam sidang di Komisi I DPR RI, Jenderal
   Wiranto membantah ucapan Habibie. Menurutnya, itu bukan konsentrasi
   pasukan, melainkan konsolidasi. Tak ada yang berniat kudeta saat itu.
   Anehnya, Habibie tak bereaksi atas bantahan Wiranto itu. Sehingga
   publik makin bingung, mana yang benar, ucapan Habibie atau Wiranto.
   Benarkah Habibie dapat masukan dari Wiranto? Sebab dalam satu
   pertemuannya dengan tokoh Dewan Dakwah Islamiyah, 30 Juni 1998,
   Habibie mengaku diberi tahu soal konsentrasi pasukan itu oleh Letjen
   TNI Sintong Panjaitan, orang dekat Habibie yang kini menjabat
   sesdalopbang.
   
   Setelah berkelana di luar negeri, ketenangan Prabowo terusik oleh
   ucapan Habibie itu, yang dikutip oleh pers luar negeri pula. Tapi,
   bantahan Wiranto cukup menenangkannya. "Pak Wiranto harus membantah
   karena memang apa yang diucapkan Habibie tidak benar," kata Bowo.
   Menurutnya, semua panglima saat itu menerima perintah dari Mabes
   ABRI. Saat situasi genting, ada pembagian tugas, bahwa Kopassus
   dipasrahi mengawal presiden dan wakil presiden, sedangkan Kostrad
   diminta menjaga objek vital dan strategis. Kata Prabowo, untuk
   melaksanakan perintah Mabes ABRI itulah sejumlah pasukan berada di
   sekitar kawasan Istana dan Monas. "Pak Wiranto tahu persis bahwa
   perintah itu ada. Saksinya banyak, para panglima komando," kata Bowo
   
   Dalam pemeriksaan di TGPF, ada kesan kegiatan Anda pada 13 Mei 1998
   tidak diketahui. Muncul kecurigaan, Anda sedang apa saat itu? Apa sih
   yang Anda lakukan hari itu?
   
   Saya mulai dari 12 Mei 1998. Malam itu, pukul 20.00 wib, ketika di
   rumah Jl. Cendana No. 7, saya ditelepon Sjafrie (pangdam Jaya saat
   itu, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin). Kata dia, "Gawat nih Wo, ada
   mahasiswa yang tewas tertembak." Saya lalu bergegas ke Makostrad. Saya
   sudah antisipasi, besok pasti ramai. Maka pasukan saya konsolidasi.
   Kalau perlu tambahan pasukan kan mesti disiapkan tempatnya. Mau
   ditaruh di mana mereka. Malam itu saya terus memantau situasi. Lalu,
   terpikir oleh saya, kelanjutan rencana acara Kostrad di Malang pada 14
   Mei 1998. Rencananya inspektur upacara adalah Pangab Wiranto.
   Pangkostrad juga harus hadir. Kalau ibu kota genting, apa kita masih
   pergi juga?
   
   Keesokan harinya, sejak pukul 08.00 wib, saya mengontak Kol. Nur Muis
   dan menyampaikan usulan agar acara di Malang ditunda. Atau, kehadiran
   pangab dibatalkan saja karena situasi ibu kota genting. Biar saya
   saja yang berangkat. Jawaban dari Pak Wiranto yang disampaikan lewat
   Kol. Nur Muis, acara tetap berlangsung sesuai rencana. Irup tetap Pak
   Wiranto dan saya selaku pangkostrad tetap hadir. Beberapa opsi usulan
   saya tawarkan kepada Pak Wiranto, yang intinya agar tidak meninggalkan
   ibu kota, karena keadaan sedang gawat. Posisi terpenting yang harus
   diamankan adalah ibu kota. Tapi, sampai sekitar delapan kali saya
   telepon, keputusan tetap sama. Itu terjadi sampai malam hari.
   
   Jadi, pada 14 Mei, pukul 06.00 wib kita sudah berada di lapangan Halim
   Perdanakusumah. Saya kaget juga. Panglima utama ada di sana. Danjen
   Kopassus segala ikut. Saya membatin, sedang genting begini kok seluruh
   panglima, termasuk panglima ABRI malah pergi ke Malang. Padahal,
   komandan batalion sekalipun sudah diminta membuat perkiraan cepat,
   perkiraan operasi, begini, lantas bagaimana setelahnya. Tapi, ya
   sudah, saya patuh saja pada perintah. Saya ikut ke Malang.
   
   Kembali ke Jakarta sekitar pukul 11.00 wib. Ketika hendak mendarat di
   Halim, ibu kota terlihat diselimuti asap hitam. Selanjutnya, seperti
   telah ditulis di berbagai media massa, saya membantu mengingatkan
   Sjafrie perlunya mengamankan ibu kota lewat patroli dengan panser di
   sepanjang Jl. Thamrin. Malam harinya, saya bertemu dengan sejumlah
   orang di Makostrad. Itu yang kemudian dituduh mau merencanakan
   kerusuhan. Padahal, di tengah jalan sore itu saya ditelepon, karena
   Setiawan Djodi dan Bang Buyung Nasution ingin bertemu. Ternyata sudah
   ada beberapa orang di kantor saya, ada Fahmi Idris, Bambang
   Widjojanto, dan beberapa orang lain. Itu pertemuan terbuka,
   membicarakan situasi yang terakhir. Bang Buyung dominan sekali malam
   itu. Dia banyak bicara. Acara ditutup makan malam dan kemudian kami
   ada rapat staf di Mabes.
   
   Kalau kemudian surat Muladi mengatakan saya bersalah karena gagal
   menjaga keselamatan negara sehingga menimbulkan kerusuhan 13-14 Mei,
   bagaimana ceritanya.
   
   Pangkoops, selaku penanggung jawab keamanan ibu kota adalah Pangdam
   Sjafrie?
   
   Mestinya iya. Penanggung jawab yang lebih tinggi ya panglima ABRI.
   
   Dalam pemeriksaan di TGPF, mantan Ka BIA Zacky Makarim, konon
   mengatakan bahwa sebulan sebelum peristiwa Trisakti, ada perkiraan
   situasi intelijen versi Anda, yang mengatakan, eskalasi meningkat dan
   dikhawatirkan akan ada martir di kalangan mahasiswa. Bagaimana Anda
   sampai pada kesimpulan itu?
   
   Situasinya memang demikian. Aksi mahasiswa kan bukan cuma di Jakarta,
   melainkan meluas ke daerah. Di Yogyakarta, aksi mahasiswa malah sempat
   bentrok. Berdasarkan analisis situasi, saya mengingatkan kemungkinan
   adanya eskalasi yang memanas dan kalau aksi mahasiswa meluas, bukan
   tidak mungkin jatuh korban atau ada pihak-pihak yang ingin ada korban
   di pihak mahasiswa. Itu saya ingatkan.
   
   Tapi, justru Anda dituduh bertanggung jawab atas penembakan mahasiswa
   Trisakti?
   
   Iyalah. Saya ini selalu dituduh. Apa untungnya bagi saya membuat
   jatuh korban? Saat itu kan presidennya Pak Harto. Mertua saya. Saya
   bagian dari status quo itu. Kan begitu tuduhannya. Masak saya
   membuat situasi agar Pak Harto jatuh. Pak Harto jatuh kan saya jatuh
   juga. Sejarah kan begitu kejadiannya.
   
   Mungkin Anda ingin menunjukkan bahwa Wiranto tidak kapabel mengamankan
   Jakarta?
   
   Tidak ada alasan juga. Motifnya tidak ada.
   
   Bukankah Anda pernah disebut-sebut minta jabatan pangab dan katanya
   dijanjikan Habibie untuk jadi pangab?
   
   Lebih dari tiga kali Habibie mengatakan kepada saya. "Bowo, kalau
   saya jadi presiden, you pangab." Itu faktanya. Habibie bahkan
   mengatakan saya ini sudah dianggap anak ketiganya. Saya memang dekat
   dengan Habibie, karena saya mengagumi kepandaiannya, visinya.
   Meskipun sekarang saya kecewa karena dia menuduh saya berbuat sesuatu
   yang bohong. Saya merasa dikhianati. Bahwa saya ingin jadi pangab,
   apakah itu salah. Setiap prajurit, tentara, tentu bercita-cita
   menjadi pangab. Why not? Saya tidak pernah menyembunyikan itu. Bahwa
   kemudian dipolitisasi, seolah-olah pada saat genting, saat pergantian
   kepemimpinan 21 Mei 1998 itu, saya minta jadi pangab, silakan saja.
   Tapi, saya tak pernah minta jadi pangab kepada Habibie.
   
   Benar tidak Anda pernah didesak jadi pangab sekitar 19-20 Mei itu?
   
   Ada yang mendesak. Bahkan ada yang mengusulkan agar saya mengambil
   alih situasi. Saya tolak. Saya orang yang konstitusional. Wapres
   masih ada dan sehat. Menhankam/Pangab masih ada. Tidak ada alasan
   untuk mengambil alih. Kalau saya melakukan kudeta, setelah itu mau
   apa? Inkonstitusional, tidak demokratis, dan lebih berat lagi, secara
   psikologis saya ini kan terkait dengan keluarga Pak Harto. Kalau Pak
   Harto sudah menyerahkan ke Habibie, masak saya mau kudeta? Di luar itu
   semua, yang terpenting, saya berasal dari keturunan keluarga pejuang.
   Anda tahu paman saya gugur sebagai pahlawan muda. Kakek saya pejuang.
   Moyang saya, selalu berjuang melawan penjajah kolonial Belanda.
   Bagaimana mungkin saya menodai garis keturunan yang begitu saya
   banggakan, dengan berpikir mengambil alih kekuasaan secara
   inkonstitusional.
   
   Ketika Habibie mengatakan Anda datang menemui Habibie pada 22 Mei
   1998, benarkah Anda membawa senjata dan pasukan sehingga Habibie
   merasa terancam?
   
   Senjata saya tanggalkan di depan pintu. Jangankan menghadap presiden,
   wong menghadap komandan kompi saja senjata harus dicopot. Bohong
   besar berita yang mengatakan saya hendak mengancam Habibie.
   
   Jujur saja, kalau memang saya ingin, bisa saja. Jangan meremehkan
   pasukan Kopassus, tempat saya dibesarkan. Ingat, Pak Sarwo Edhi
   (almarhum) hanya butuh dua kompi untuk mengatasi situasi saat
   G-30-S/PKI. Dan anak buah saya memang ada yang sakit hati saya
   diberhentikan seperti itu. Pataka komando hendak diambil begitu saja
   tanpa sepengetahuan saya. Saya datang ke Habibie karena sebelumnya
   dia selalu berkata. "Bowo, kalau ada keragu-raguan, jangan
   segan-segan menemui saya." Itulah yang saya lakukan. Menemui Habibie
   untuk bertanya apakah betul dia ingin mengganti saya dari jabatan
   pangkostrad. Habibie bilang turuti saja perintah atasan. Ini kemauan
   ayah mertua kamu juga. Jadi, Pak Harto memang minta saya diganti.
   
   Soal anggapan bahwa para jenderal ingin menyingkirkan Anda, apakah ini
   disebabkan oleh sikap Anda sebelumnya yang disebut arogan, karena
   dekat dengan pusat kekuasaan?
   
   Saya akui, itu ciri khas. Dan itu jadi senjata buat yang ingin
   menjatuhkan. Tapi kita lihat kepemimpinan itu dari output. Bisa
   tidak meraih prestasi kalau prajuritnya tak semangat. Semangat itu
   tidak bisa dibeli dengan uang. Kadang-kadang mereka mau mati karena
   bendera. Kain itu harganya berapa? Tentara Romawi mati-matian demi
   bendera. Itu kan kebanggaan. Bagaimana? Saya ciptakan teriakan,
   berapa harganya? Saya dapatkan dari gaya suku dayak. Teriakan panjang
   itu bisa membangkitkan semangat, mengurangi ketakutan, dan menakutkan
   musuh. Pakai duit berapa? Tapi hal-hal ini tidak populer di mata the
   salon officer. Apa nih Prabowo pakai nyanyi-nyanyi segala. Pakai
   bendera, pakai teriakan. Kenapa orang fanatik membela sepakbola,
   sampai membakar, ini psikologi massa. Masa kita mau mati karena uang?
   Buat apa uangnya kalau kita harus mati.
   
   Sebagai menantu presiden saat itu, tentu Anda lebih mudah naik pangkat
   dibanding yang lain. Ini bikin cemburu juga kan?
   
   Ya, tapi akses kepada penguasa politik. Itu wajar. Jenderal Colin
   Powell, peringkat ke berapa dia bisa jadi pangab AS. Dia bekas
   sekretaris militer Bush waktu jadi wakil presiden. Jadi, waktu Bush
   jadi presiden, dia jadi pangab. Bahwa saya punya akses kepada penguasa
   politik, saya sependapat. Tapi kan bukan hanya saya. Pak Wiranto kan
   dari ajudan presiden. Langsung kasdam, langsung pangdam, langsung
   pangkostrad. Itu kan tuduhan saja kepada saya. Coba dilihat berapa
   kali saya VC (kontak senjata langsung di medan operasi), berapa kali
   bertugas di daerah operasi, berapa kali tim saya di Kopassus merebut
   kejuaraan, berapa kali operasi militer saya selesaikan, apa yang saya
   buat di Mount Everest itu kan mengangkat bangsa. Berapa saya melatih
   prajurit komando dari beberapa negara. Itu kan tidak dilihat. Yang
   dicari cuma daftar dosa saya. Ya memang kalau you dalam keadaan kalah
   politik, segala dosa bisa ditemukan. Dia keluar negeri nggak izin, dia
   ini, dia itu. Semua bisa ketemu. Kalau menang? Itu kan politik.
   
   Jordania, seolah menjadi negara ibu yang kedua bagi Letjen TNI (Purn.)
   Prabowo Subianto. Di Amman, ibu kota Yordania yang terletak di
   jazirah Arab, mantan pangkostrad ini tinggal di apartemen. Prabowo,
   yang dicopot dari jabatan dan kariernya di ABRI, mengaku jatuh cinta
   pada Jordania tanpa sengaja. "Saat saya disingkirkan oleh ABRI, oleh
   elite politik di Indonesia, negeri ini menerima saya dengan baik,"
   kata dia.
   
   Persahabatannya dengan Raja Abdullah dimulai kala sang raja masih
   pangeran dan menjadi komandan tentara Jordania. Mereka bertemu di AS,
   tak lama setelah Prabowo selesai berobat di Jerman, setelah pensiun
   dari militer tahun lalu. Pangeran Abdullah menyatakan simpati dan
   mengundangnya mampir ke Amman.
   
   Undangan itu dipenuhi Bowo. Pada hari dan jam yang ditentukan (sekitar
   pukul satu siang), Prabowo berkunjung ke markas tentara pimpinan
   Pangeran Abdullah. Terkejut dia karena untuk menyambut kehadirannya
   telah disiapkan upacara penyambutan tamu secara militer. Padahal
   Prabowo datang mengenakan busana kasual. Oleh anak buah Pangeran
   Abdullah, Prabowo "dipaksa" menginspeksi pasukan. Di ujung barisan,
   Pangeran Abdullah tampak tersenyum-senyum dan memeluk Bowo. "Di sini,
   Anda tetap jenderal," bisik Abdullah. Tak lama kemudian, menjelang
   ayahnya, Raja Hussein mangkat, Abdullah dinobatkan sebagai putra
   mahkota dan kemudian menjadi Raja Jordania.
   
    
   
   Uni Z. Lubis

----- End of forwarded message from John A MacDougall -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----